Jeritan UMKM di Mojokerto Terdampak 8 Kali Pemadaman Listrik, Kecewa Sudah Bayar Tepat Waktu
Alga W June 29, 2026 11:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Mohammad Romadoni

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Nasib pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Mojokerto menghadapi kenyataan pahit yang bertubi-tubi.

Usai dihantam dampak kenaikan harga BBM, kini mereka kembali terpukul dengan pemadam listrik bergilir di Jawa Timur.

Baca juga: Kenikmatan Kedai Kopi Mbok Bawel di Pasar Oro-oro Dowo, Sajikan 19 Jenis Kopi Khas Indonesia

Salah satu UMKM yang terdampak pemadaman listrik bergilir adalah pelaku ekonomi kreatif, yakni perajin kostum karnaval di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jatim.

Proses pembuatan kostum karnaval tersebut sepenuhnya bergantung pada alat elektronik yang membutuhkan daya listrik 100 persen.

Perajin kostum karnaval, Tri Mulyono (36) mengatakan, sudah delapan kali usahanya di Dusun Jarak'an, Desa/Kecamatan Trawas, terdampak pemadaman listrik bergilir selama bulan Juni 2026.  

"Ada sekitar 8 kali pemadam listrik sejak awal Juni sampai sekarang, ada yang sebentar, ada yang sangat lama," imbuhnya.

Menurutnya, pemadaman listrik bergilir sangat merugikan pelaku UMKM yang menggantungkan usahanya pada listrik.

Seharusnya, pemerintah memperhatikan nasib UMKM kecil yang begitu terdampak dengan mati listrik massal tersebut.

Ia mengatakan, mati listrik 1-2 jam saja sudah sangat mengganggu proses pengerjaan.

"Karena kita menggunakan alat Glue Gun (Pistol lem) dan solder serta lampu penerangan saat pengerjaan pesanan," keluh perajin yang tergabung dalam Trawas Trashion Carnival (TTC) tersebut.

Ia mengungkapkan, dirinya sempat kelimpungan ketika mengerjakan pesanan tiba-tiba listrik padam.

Apalagi di tengah para perajin kostum karnaval yang saat ini banjir pesanan menjelang Hari Kemerdekaan RI Ke-81.

"Ibaratnya, ini puncak para perajin penuh dengan pesanan dan pengerjaan menjelang Agustusan. Jadi pengerjaannya ngebut, bahkan sampai lembur hingga tenggah malam," imbuh Tri Mulyono.

Tri Mulyono mengatakan, pemadaman listrik di rumah usahanya paling lama sekitar 5 jam dan minimal sekitar 1 jam.

"Pemadaman listrik paling lama mulai Ashar sampai pukul 8 malam," jelasnya.

Ia menyebut, dampak signifikan yang dirasakan pelaku usaha yaitu pengerjaan pesanan terancam molor imbas pemadaman listrik bergilir.

Selain menghambat pengerjaan, kredibilitas usahanya yang telah sekian lama dijaga terancam rusak.

Beberapa pelanggannya komplain pengerjaan kostum karnaval jadi lebih lama dari target yang sudah disepakati.

"Tentunya menghambat pengerjaan kami, seharusnya target yang harus terpenuhi sesuai tenggang waktu jadinya orderan agak molor karena prosesnya terhambat mati listrik tadi, pungkasnya.

Kecewa

Pemadaman listrik ini semakin menyulitkan pengusaha kecil, meski tidak secara langsung berdampak terhadap ekonomi.

Tri Mulyono harus bekerja ekstra untuk menyelesaikan pesanan pelanggan, bahkan ia menggunakan penerangan lilin selama proses pengerjaan malam.

"Komplain dari customer pesanannya kok jadi molor pengerjaannya, kalau secara ekonomi tidak begitu mempengaruhi mungkin dari sisi tenaga dan waktu."

"Pastinya kecewa, bayar listrik selalu tepat waktu, tidak pernah telat," tutupnya.

Tri Mulyono menambahkan, dirinya berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait tidak adanya pemadaman listrik bergilir lantaran dampaknya merugikan pelaku usaha kecil.

Dirinya menyayangkan pemadaman listrik bergilir justru dilakukan saat siang, di saat jam produktivitas perajin beraktivitas mengerjakan pesanan.

Pengalaman serupa juga dialami beberapa perajin lain seperti di wilayah Pacet, Trowulan, dan lainnya yang terdampak mati listrik.

"Kalau bisa pemadam listrik ini tidak dilakukan di jam produktif, tidak hanya UMKM seperti saya saja yang terdampak tapi banyak yang kena dampaknya seperti kafe-kafe di Trawas," tandasnya.

Sementara itu, belum ada tanggapan resmi dari pihak PLN Mojokerto meski telah berulang kali dikonfirmasi terkait hal tersebut

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.