Suhu Tembus 41 Derajat Celsius, Infrastruktur Eropa Lumpuh dan Kebakaran Meluas
Dian Anditya Mutiara June 29, 2026 11:32 AM

 

WARTAKOTALIVE.COM – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa memicu lonjakan angka kematian, memecahkan rekor suhu tertinggi, serta menyebabkan gangguan pada berbagai sektor, mulai dari kesehatan hingga infrastruktur.

Badan Kesehatan Masyarakat Prancis mencatat sekitar 1.000 kematian tambahan hanya dalam tiga hari pada pekan lalu akibat suhu yang sangat tinggi.

Di saat bersamaan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa Eropa kini menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia.

Rekor Suhu Baru di Sejumlah Negara

Beberapa negara Eropa mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah.

Jerman memecahkan rekor selama tiga hari berturut-turut dengan suhu mencapai 41,7 derajat Celsius di Neibemunde, melampaui rekor sebelumnya sebesar 40,5 derajat Celsius.

Baca juga: Suhu Jakarta Tinggi Tapi Bukan Gelombang Panas, Warga Diminta Waspada

Republik Ceko juga mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah, yakni 41,9 derajat Celsius, lebih tinggi dari rekor sebelumnya yang mencapai 40,9 derajat Celsius.

Penelitian cepat dari World Weather Attribution yang dipublikasikan pada Jumat (26/6/2026) menyimpulkan bahwa gelombang panas dan kelembapan ekstrem yang terjadi pekan lalu hampir tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim.

Para peneliti menyebut kondisi tersebut hampir mustahil terjadi 50 tahun lalu dan kini sekitar 200 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan 20 tahun silam.

Prancis Catat Lonjakan Kematian

Di Prancis, lonjakan kematian terutama terjadi di rumah-rumah warga, khususnya di wilayah Paris.

Lebih dari 1.200 kematian tercatat pada Rabu (24/6/2026), kemudian meningkat menjadi lebih dari 1.400 kematian pada Kamis dan Jumat (25–26 Juni 2026).

Sebagai perbandingan, angka kematian harian pada April hingga Mei berkisar antara 900 hingga 1.000 jiwa.

Public Health France memperkirakan sedikitnya 1.000 kematian tambahan terjadi hanya dalam tiga hari akibat gelombang panas tersebut.

Sebanyak 85 persen korban meninggal berusia 65 tahun ke atas.

Baca juga: Suhu Ciputat Capai 35,4 C°, Sampai Kapan Cuaca Panas Melanda Indonesia?

WHO: Eropa Memanas Dua Kali Lebih Cepat

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan Eropa merupakan benua dengan pemanasan tercepat di dunia.

Menurutnya, laju pemanasan di kawasan tersebut mencapai dua kali rata-rata global.

"Saat ini 150 juta orang hidup di bawah panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik kewalahan," ujar Tedros.

Ia juga mengungkapkan bahwa sejak 21 Juni 2026 telah tercatat lebih dari 1.300 kematian yang berkaitan dengan suhu tinggi di Eropa.

Tedros menyebut tekanan panas (heat stress) sebagai "pembunuh senyap" karena banyak rumah, tempat kerja, hingga sekolah di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi saat ini.

Karena itu, WHO meminta negara-negara di Eropa memperkuat kesiapsiagaan, pencegahan, dan sistem layanan kesehatan dalam menghadapi gelombang panas.

Infrastruktur Ikut Lumpuh

Gelombang panas juga memicu berbagai dampak lanjutan di sejumlah negara.

Di Swedia dan Denmark, suhu tinggi yang disusul badai petir menyebabkan beberapa orang terluka akibat sambaran petir serta memicu ribuan kilatan petir dalam waktu singkat.

Di Jerman, cuaca panas memicu kebakaran hutan besar di kawasan Gohrischheide dan Traisen.

Kondisi diperparah oleh keberadaan amunisi aktif peninggalan Perang Dunia II yang meledak akibat kebakaran sehingga memaksa ratusan warga dievakuasi.

Suhu ekstrem juga meningkatkan jumlah panggilan ambulans darurat di Berlin.

Bahkan, polisi Berlin mengerahkan meriam air di sekitar Gerbang Brandenburg untuk membantu mendinginkan warga dan wisatawan.

Sementara itu, dampak terhadap infrastruktur juga cukup signifikan.

Permukaan beton di sejumlah jalan dilaporkan retak akibat suhu tinggi.

Gangguan listrik dan pohon tumbang menghambat operasional kereta api, sedangkan seluruh jaringan trem di Leipzig sempat dihentikan karena bahan penyambung rel meleleh akibat panas ekstrem.

Sumber : Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.