TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI – Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, telah lama dikenal dengan julukan Kota Gaplek.
Julukan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan berkaitan erat dengan sejarah, kondisi alam, serta kebiasaan masyarakat yang sejak dahulu menggantungkan hidup pada tanaman singkong.
Hingga kini, jejak tradisi tersebut masih mudah ditemui di berbagai desa di Wonogiri.
Baca juga: Penjelasan Kenapa Banyak Fosil Ditemukan di Sangiran Sragen, Ternyata Dahulu Bekas Dasar Laut
Saat musim kemarau tiba, pemandangan irisan singkong yang dijemur di halaman rumah, pekarangan, teras, hingga di atas anyaman bambu menjadi hal yang lazim.
Deretan gaplek yang dijemur memanfaatkan terik matahari menjadi ciri khas yang masih melekat di banyak kawasan pedesaan Wonogiri.
Gaplek merupakan bahan pangan yang dibuat dari singkong atau ubi kayu yang dikeringkan.
Proses pembuatannya tergolong sederhana. Singkong dikupas, dipotong-potong, kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama satu hingga tiga hari hingga kadar airnya berkurang dan teksturnya mengeras.
Setelah kering, singkong tersebut disebut gaplek dan dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama sebelum diolah menjadi berbagai jenis makanan.
Baca juga: Begini Penjelasan Penumpang Mobil Plat Merah di Wonogiri yang Terekam Berjalan Terlalu Kanan
Di Wonogiri, gaplek menjadi bahan baku sejumlah kuliner tradisional seperti tiwul, gatot, gethuk, tape, tepung singkong hingga berbagai olahan berbahan dasar singkong lainnya.
Julukan Kota Gaplek berhubungan erat dengan kondisi geografis Wonogiri, khususnya wilayah selatan yang termasuk kawasan Karst Pegunungan Sewu.
Sebagian besar daerah tersebut memiliki tanah berbatu kapur dengan tingkat kesuburan yang relatif rendah sehingga kurang cocok untuk budidaya padi.
Selain itu, ketersediaan air untuk irigasi juga terbatas, terutama saat musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat masyarakat memilih menanam singkong karena lebih tahan terhadap lahan kering dibandingkan tanaman pangan lainnya.
Salah satu sentra produksi singkong sekaligus gaplek berada di Kecamatan Pracimantoro yang didominasi bentang alam karst.
Dari wilayah inilah produksi gaplek berkembang dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Wonogiri.
Baca juga: Panduan Naik KA Batara Kresna Rute Solo-Wonogiri: Wisata Murah Meriah untuk Liburan Sekolah
Meski kini beras telah menjadi makanan pokok masyarakat, tradisi mengolah singkong menjadi gaplek masih terus dipertahankan.
Saat melintasi desa-desa di Wonogiri pada musim kemarau, masyarakat masih kerap menjemur irisan singkong di depan rumah, halaman, bahkan di pinggir jalan yang terkena sinar matahari sepanjang hari.
Hamparan singkong berwarna putih kekuningan yang tersusun rapi di atas tikar, terpal, maupun anyaman bambu menjadi pemandangan khas yang telah berlangsung turun-temurun.
Aktivitas tersebut bukan sekadar proses pengolahan hasil panen, tetapi juga mencerminkan kearifan masyarakat dalam memanfaatkan cuaca kemarau untuk mengawetkan singkong agar dapat disimpan lebih lama.
Pada masa lalu, gaplek merupakan bahan makanan pokok masyarakat Wonogiri sebagai pengganti nasi.
Gaplek kemudian diolah menjadi berbagai hidangan tradisional seperti tiwul, gatot, tape, maupun gethuk yang hingga kini masih mudah ditemukan.
Walaupun pola konsumsi masyarakat telah berubah, gaplek tetap menjadi simbol sejarah pertanian sekaligus identitas kuliner Wonogiri.
Tradisi menanam singkong dan mengolahnya menjadi gaplek pun masih terus dilestarikan, terutama di wilayah Pracimantoro dan sejumlah daerah lain yang memiliki lahan kering.
Karena itulah, julukan Kota Gaplek masih melekat kuat pada Wonogiri sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dalam budidaya singkong dan pengolahan gaplek sebagai bagian dari kehidupan masyarakatnya.
(*)