TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG - Abrasi yang menghantam kawasan pesisir utara Jawa Tengah mulai menggerus sejumlah destinasi wisata pantai di Kabupaten Batang.
Lebih dari dua hektare lahan milik pemerintah daerah di kawasan Pantai Sigandu Batang telah terdampak rob dan abrasi.
Pemkab Batang pun menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang dengan pemantauan kondisi pasang laut serta upaya penanaman mangrove.
Adyatama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda sekaligus Ketua Pokja Pengembangan SDM Pariwisata Bidang Destinasi, Riyadi Kurniawan mengatakan, sebagian besar wilayah pesisir Pantura Jawa Tengah mengalami dampak rob dengan tingkat keparahan berbeda-beda.
Menurutnya, wilayah yang paling sering terdampak membentang mulai dari kawasan Semarang, sebagian wilayah Kendal, kemudian pesisir Pekalongan hingga Tegal.
"Mayoritas Pantura itu terimbas rob. Bahkan, beberapa wilayah juga mengalami abrasi," kata Riyadi, Senin (29/6/2026).
Baca juga: Korban Pencabulan di Batang Tiba-tiba Cabut Laporan, Polisi Tak Langsung Proses. Ini yang Dilakukan
Dia menyebut, berdasarkan kondisi di lapangan, ketinggian air rob rata-rata dapat mencapai sekitar 30 sentimeter dan merendam sejumlah kawasan pesisir berpasir.
"Rata-rata bisa masuk sampai 30 senti meter. Beberapa area pasir itu terdampak."
"Paling banyak terdampak memang di Pantura barat dibandingkan Pantura sebelah timur," ujarnya.
Menurut Riyadi, informasi prakiraan pasang laut yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) selama ini cukup akurat, termasuk mengenai waktu dan jam terjadinya rob sehingga dapat dimanfaatkan sebagai langkah antisipasi oleh pengelola destinasi wisata maupun wisatawan.
Ia menjelaskan, pemerintah mendorong pengelola wisata memanfaatkan informasi kondisi laut secara real time serta prediksi tiga hari hingga satu pekan ke depan agar dapat memberikan informasi terbaru kepada wisatawan melalui media sosial maupun kanal informasi lainnya.
"Kalau wisatawan mau ke satu pantai, mereka sudah tahu bagaimana kondisinya."
"Informasi itu bisa disebarluaskan melalui Instagram atau media sosial pengelola," ungkapnya.
Meski demikian, Riyadi menilai, dampak rob terhadap jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan pantai belum terlalu signifikan karena rob umumnya terjadi pada waktu-waktu tertentu.
Selain itu, tren wisata masyarakat saat ini juga mulai bergeser dari wisata pantai menuju wisata alam pegunungan dan kegiatan berbasis alam seperti glamping.
Senada dengan hal itu, Kepala Bidang Destinasi dan Usaha Pariwisata Disparpora Kabupaten Batang, Debby Sintya Rengganis mengatakan, dampak rob di Kabupaten Batang saat ini paling terasa di kawasan Pantai Sigandu.
Menurutnya, dari total sekitar enam hektare lahan milik pemerintah daerah yang dikelola di kawasan wisata tersebut, lebih dari dua hektare telah terdampak rob.
"Kurang lebih tanah milik Pemda yang dikelola di sana sekitar enam hektare, dan yang sudah terkena rob itu lebih dari dua hektare," ujarnya.
Baca juga: Ikut Kejar Paket C di Batang Dapat Pelatihan Kerja, Disalurkan ke Perusahaan di Kawasan Industri
Debby menambahkan, upaya penanganan yang saat ini dilakukan masih terbatas pada penanaman mangrove sebagai langkah mitigasi abrasi di kawasan pesisir.
Dia mengakui, hingga kini, belum ada penanganan fisik yang lebih besar karena membutuhkan perencanaan dan anggaran jangka panjang.
Ia menyebutkan bahwa bangunan penahan abrasi yang sebelumnya dipasang di kawasan Pantai Sigandu kini telah roboh akibat terjangan gelombang dan abrasi yang terus terjadi.
Selain itu, gapura kawasan wisata yang sempat menjadi akses masuk ke pantai juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Menurut Debby, pemerintah daerah berharap dapat melakukan pembenahan kawasan wisata Pantai Sigandu pada tahun 2027 seiring fokus pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Batang.
"Untuk jangka pendek kami belum ada penanganan yang lebih serius. Sementara ini lebih ke penanaman mangrove," katanya. (*)