
ERVING GOFFMAN dalam bukunya yang berjudul Presentation of Self in Everyday Life (1959) memandang bahwa interaksi sosial antarmanusia memiliki kemiripan dengan pertunjukan teater di atas panggung.
Tanpa tedeng aling-aling, Goffman menyebut bahwa manusia kerap menampilkan sebuah kontras antara citra yang ditampilkan di panggung depan (front stage) dan karakter alami di panggung belakang (back stage)—dramaturgi. Analisis Goffman ini masih relevan untuk melihat dan membaca fenomena demonstrasi mahasiswa yang sedang marak belakangan ini.
Para aktor yang terlibat, baik mahasiswa sebagai subjek demonstrasi, pemerintah sebagai objek tuntutan, bahkan kemungkinan-kemungkinan adanya dalang yang berkelit kelindan dalam dinamikanya, tidak luput dari proses dramaturgi yang membersamainya.
Seperti halnya sebuah pertunjukan teater, demonstrasi memiliki komponen yang sama—aktor, peran, kisah utuh, naskah, durasi waktu, dan pesan yang hendak disampaikan kepada penonton. Pertunjukan teater yang baik adalah pertunjukan yang mampu memenuhi keseluruhan unsur tersebut.
Ada kohesi dan koherensi di antara masing-masing unsur agar apa yang ditampilkan kepada penonton di panggung depan menarik, menghibur, dan tentu bermanfaat. Dalam konteks demonstrasi, komponennya sama. Demonstrasi mahasiswa menempatkan mahasiswa selaku aktor pertunjukan, ada peran yang diampu oleh masing-masing individu—korlap, danlap, orator, komunikator, ada skema pergerakan yang disusun, ada substansi tuntutan yang hendak disampaikan, ada durasi yang disepakati dengan pihak yang berwajib, dan tentu saja objektif utama yang hendak dicapai.
Pertanyaan yang bisa muncul, mungkinkah pertunjukan yang ditampilkan tidak sesuai harapan? Jawabannya; sangat mungkin. Pertunjukan bisa tidak menghibur bahkan kacau tatkala aktor tidak menjiwai perannya—aktor tidak melebur ke dalam peran, pemeran tidak memahami kisah secara utuh, dialog yang tidak sesuai naskah, pementasan yang tidak dikontrol oleh penghitung waktu (timer), sehingga secara keseluruhan; pertunjukan tidak menghibur, bahkan pesan yang hendak disampaikan tidak ditangkap secara utuh oleh penonton.
Situasi yang sama juga bisa berlaku pada demonstrasi. Demonstrasi yang diikuti oleh ratusan bahkan ribuan orang memiliki kompleksitas untuk menyatukan pandangan. Akibatnya, pembagian peran, delivery tuntutan, serta aktualisasi di lapangan kerap terdistraksi, sehingga membuat demonstrasi tidak menemukan objektifnya.
Situasi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam satu pekan terakhir sungguh sangat disayangkan. Dalam eksekusi “pementasannya”, ada cukup banyak kesalahan yang terjadi.
Tuduhan bahwa ada figur demonstran—sebut saja Tiyo Ardianto, mantan Ketua BEM UGM, yang dianggap tidak steril karena diduga terafiliasi dengan partai politik tertentu, telah membuat gerakan mahasiswa menjadi kurang padu dan tercemar oleh rasa saling curiga satu sama lain. Para mahasiswa selaku “aktor pertunjukan” semakin terpolarisasi tatkala muncul kelompok yang menamakan dirinya sebagai Aliansi BEM Bersatu yang memicu kontroversi karena dinilai mendukung program pemerintah, dan tak sungkan mengecam demonstrasi mahasiswa lain yang dianggap minim kajian. Teranyar, salah seorang mahasiswa demonstran—Muhammad Abdimaludin selaku Ketua BEM FH UBK, mengaku menerima uang sebesar Rp.20 juta dari oknum polisi untuk membelokkan lokasi demonstrasi dari Istana Negara ke DPR RI.
Dari perspektif dramaturgi Goffman, sangat mudah untuk menjelaskan mengapa kisruh ini terjadi. Pertama, para aktor—mahasiswa, tidak memahami sifat dasar yang melekat kepada mereka sebagai pelaku gerakan dan demonstrasi. Mahasiwa selaku demonstran sejatinya adalah massa aksi dengan tuntutan, status sebagai agen perubah, agen transformasi, dan agen pengontrol kekuasaan.
Sayangnya, tidak semua mahasiswa yang melakukan demonstrasi memiliki persepsi yang sama tentang ini. Sangat mungkin terjadi bahwa mereka terjebak pada fenomena FOMO (baca: ikut-ikutan), bukan karena motivasi ideologis kebangsaan. Kedua, mahasiwa tidak memiliki kisah utuh dan naskah final yang hendak dimainkan. Hal ini tergambar jelas dari lokus yang dipilih untuk demonstrasi yang cenderung beragam—ada di Bundaran HI, Istana Negara, jumlah massa aksi yang turun yang cenderung sporadis, serta pemilihan waktu yang terdiferensiasi, yang sangat mempengaruhi besar kecilnya gelombang tekanan dari demonstrasi yang dilakukan.
Ketiga, yang paling mendasar, yakni para mahasiswa demonstran seperti mengalami kegamangan terkait objektif apa yang hendak mereka capai dari demonstrasi-demonstrasi yang mereka lakukan. Pada 1998, tuntutan mahasiswa ringkas dan tajam, yakni turunkan Soeharto dari tampuk kekuasaan sebagai resultante dari kegagalan sistemik di berbagai sektor kehidupan.
Saat ini, tuntutan mahasiswa demonstran terlalu lebar dengan substansi tuntutan yang terbilang “gemuk” dan arah tembak tuntutan yang terlalu menyebar—disampaikan ke DPR RI, Wapres Gibran, dan lain-lain. Objektif gerakan harus disusun secara ringkas laiknya sebuah pertunjukan teater. Semisal, tujuannya membuat penonton tertawa, maka para pemeran akan lebih banyak menampilkan adegan konyol yang mengundang tawa. Demikian juga halnya dengan gerakan mahasiswa. Mahasiswa harus berani menarik satu simpul besar tuntutan untuk membenahi sengkarut sistemik yang terjadi.
Jika ada yang berargumen secara kritis bahwa logika dramaturgi Goffman ini tidak bisa serta-merta dibandingkan secara utuh antara pertunjukan teater panggung dan gerakan demonstrasi mahasiswa, maka penulis menyatakan setuju. Gerakan mahasiswa yang termanifestasi melalui demonstrasi adalah sebuah interaksi sosial dan peristiwa politik yang kompleks. Kompleksitasnya membujur dalam banyak hal.
Kompleksitas ini sejatinya adalah karakter alami atau panggung belakang (back stage) dari demonstrasi yang dilakukan, yang tidak bisa disembunyikan oleh para pemeran, dan pada akhirnya terseret secara vulgar ke panggung depan (front stage). Terseretnya wajah panggung belakang ke panggung depan berdampak pada aktualisasi peran yang tidak jernih, naskah yang tidak bisa dimainkan secara utuh, serta akhir pertunjukan yang membuat penonton menjadi bingung.
Tidak bisa dimungkiri bahwa pergerakan mahasiswa di Indonesia hari ini masih memiliki sekat ideologi yang kuat antara satu organisasi pergerakan dengan organisasi pergerakan lainnya, antara satu kampus dengan kampus lainnya. Pola patron-klien dengan kekuatan politik tertentu juga mempengaruhi pola dan bentuk gerakan yang dilakukan.
Fragmentasi struktur sosial dan ekonomi di kalangan mahasiswa—basis kampus rural atau urban, kampus swasta atau negeri, juga mempengaruhi bobot pergerakan dan kedalaman tuntutan yang disampaikan kepada pemerintah. Yang membuat miris, mahasiswa saat ini juga rentan terjebak moral hazard dalam melakukan demonstrasi, meskipun tidak bisa digeneralisir. Realitas panggung belakang yang kompleks dan fragmentatif inilah yang membuat aksi-aksi demonstrasi jauh dari objektif utamanya.
Dalam konteks yang berbeda, kompleksitas ini mendedahkan fakta yang cukup menohok, bahwa tidak ada satu sutradara tunggal yang dapat mengorkestrasi dan menjaga irama pergerakan agar tetap dalam satu barisan.
Dewasa ini, sulit untuk memunculkan satu komando dalam pergerakan mahasiswa seperti tempo dulu. Gerakan mahasiswa 1966 memunculkan nama besar seperti Arif Rahman Hakim dan Soe Hok Gie, 1974 melahirkan Hariman Siregar, dan 1998 melahirkan Budiman Sudjatmiko—meskipun nama ini menjadi perdebatan hari ini. Situasi hari ini, pemimpin gerakan mahasiswa sangat fragmentatif yang pada akhirnya berdampak pada pola gerakan mahasiwa itu sendiri yang sporadis dan mudah terpecah belah.
Pergerakan mahasiswa pada hari ini juga diwarnai oleh sentimen serius di kalangan mahasiswa itu sendiri bahwa banyak pemimpin pergerakan seperti Ketua BEM dan ketua organisasi eksternal kampus akan langsung terjun ke partai politik setelah purna tugas dan lulus. Hal ini berbeda dengan figur-figur penting pergerakan mahasiswa tempo dulu yang masih berkhidmat mendampingi rakyat di luar kekuasaan, serta mengambil jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk berpolitik melalui wadah resmi seperti partai politik.
Jika menyandarkan mutu pertunjukan pada satu figur sutradara adalah hil yang mustahal saat ini, maka sutradara yang paling relevan untuk dijadikan rujukan pergerakan mahasiswa hari ini sejatinya adalah suara rakyat itu sendiri—Vox Populi. Jika para mahasiswa membuka mata dan telinga sosial secara cermat terlebih dahulu untuk melihat dan mendengar realitas masyarakat, tentulah mereka akan bergerak dalam pola dan ritme pergerakan yang sama.
Mereka yang bergerak dengan mendengar suara rakyat secara jernih dan berpijak pada mandat konstitusi akan sangat sulit untuk diinfiltrasi oleh kekuatan yang hendak memecah belah atau memberikan label konotatif terhadap demonstrasi yang dilakukan. Situasi hari ini di mana demonstrasi mahasiswa seperti mudah digembosi merupakan konsekuensi logis dari kelemahan-kelemahan yang dimiliki.
Perbedaan ideologi, struktur sosial-ekonomi, dan patronase politik yang dimiliki seyogianya diletakkan sebagai panggung belakang (back stage). Yang ditampilkan di panggung depan (front stage) adalah kesamaan visi dan pandangan agar tuntutan dapat disampaikan, didengar, dan dijalankan oleh pemerintah, demi situasi ekonomi politik yang lebih baik.