BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pesona durian Pancasona, varietas durian lokal asal Desa Tuik, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, berhasil menyabet gelar juara dalam Kontes Durian Lokal Desa Tuik 2026.
Uniknya, durian yang berasal dari pohon milik Gito di Desa Tuik ini hanya terdapat satu pohon di antara pohon-pohon durian miliknya yang lain.
Durian dengan warna daging kuning jingga cerah tersebut kini sudah tidak banyak berbuah. Apalagi, kata Gito, musim ini durian Pancasona miliknya hanya menghasilkan sekitar 30 butir.
"Yang berbuah itu hanya satu dahan. Dahan-dahan lainnya sudah serpak (rusak-red), jadi tidak berbuah lagi. Saya juga tidak tahu kenapa," kata Gito kepada Bangkapos.com, Senin (29/6/2026).
Dia menyebut, pohon durian Pancasona tersebut sudah ada saat dirinya membeli lahan tempat pohon itu tumbuh.
Kini, usia pohon durian yang tingginya diperkirakan mencapai lebih dari sembilan meter itu diperkirakan sudah sekitar 15 hingga 20 tahun.
Lebih lanjut, Gito mengatakan selama ini tidak ada perlakuan khusus terhadap pohon durian tersebut. Pohon dibiarkan tumbuh secara alami tanpa pemberian pupuk.
"Kalau pupuk mungkin cuma kecipratan pupuk sawit, soalnya pohon duriannya dekat dengan pohon sawit," jelasnya.
Dengan sisa buah yang tinggal sedikit, Gito berencana mengikutsertakan durian Pancasona miliknya dalam Kontes Durian Lokal Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang akan digelar di Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, pada 9 Juli 2026.
"Tapi ini masih sedikit putik buahnya, jadi nanti kita lihat. Kalau buahnya masih ada, kita ikut," imbuhnya.
Buahnya tidak terlalu besar. Namun, ketika dibelah, setiap ruang buah berisi sebiji daging durian dengan tekstur lembut dan creamy.
Durian Pancasona merupakan milik Gito, warga Desa Tuik yang berhasil meraih Juara I Kontes Durian Lokal Desa Tuik Tahun 2026.
Dia mengatakan, nama Pancasona diberikan karena durian tersebut memiliki lima pesona, yakni warna kuning cerah, rasa creamy, aroma harum, daging yang tebal, serta tingkat kematangan yang pas.
Kelima pesona itulah yang berhasil memikat dewan juri sehingga mengantarkan Pancasona menjadi juara kontes durian yang digelar di GSG Desa Tuik pada Sabtu (27/6/2026).
Uniknya, Gito mengatakan durian Pancasona hanya berasal dari satu pohon di antara lima hingga enam pohon durian miliknya yang tumbuh di dekat kebun sawit.
"Tidak banyak. Saya cuma punya lima atau enam batang pohon durian, dan cuma satu pohon yang menghasilkan durian Pancasona," kata Gito.
Lebih lanjut, dia menyebut seluruh buah durian Pancasona miliknya telah habis. Bahkan, dua butir durian yang dibawa untuk mengikuti kontes telah dipersiapkan sejak sepekan sebelumnya.
"Sudah habis buahnya. Yang untuk kontes saja sudah satu minggu saya persiapkan dan saya simpan di kulkas," jelasnya.
Dia berharap kemenangan durian Pancasona dapat meningkatkan nilai jual durian lokal tersebut di pasaran.
Pasalnya, selama ini dia menjual durian tersebut dengan harga yang cukup terjangkau, yakni sekitar Rp20 ribu per butir untuk ukuran sedang karena musim durian sedang melimpah.
"Saya juga belum tahu nanti ke depannya bagaimana, tergantung apakah orang-orang suka dengan rasanya," ungkapnya.
Namun, sejauh ini orang-orang yang telah mencicipi durian tersebut mengaku rasanya gurih dan manis.
"Pernah ada kawan tengkulak membawa durian ini untuk dijual ke Pangkalpinang. Katanya, orang-orang terus memesan," imbuhnya.
(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)