TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kabupaten Klaten dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki banyak peninggalan sejarah dari masa Kerajaan Mataram Kuno.
Selain kompleks Candi Prambanan yang telah mendunia, terdapat pula sebuah candi bersejarah yang menyimpan pesona tersendiri, yakni Candi Merak.
Candi Hindu ini berada di Desa Karangnongko, Kabupaten Klaten.
Berbeda dengan kebanyakan situs bersejarah yang berdiri di kawasan terbuka atau kompleks wisata yang luas, Candi Merak justru memiliki daya tarik unik karena lokasinya berada di tengah permukiman warga.
Rumah-rumah penduduk mengelilingi kawasan candi sehingga menciptakan pemandangan yang tidak biasa.
Perpaduan antara bangunan kuno peninggalan abad ke-9 dengan aktivitas masyarakat modern menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun pecinta sejarah.
Baca juga: Ruben Onsu Sebar Bukti Pernah Dibuntuti oleh Giorgio Antonio saat Ketemu Anak: Saya Orangtua Kandung
Diperkirakan, Candi Merak dibangun pada abad ke-9 Masehi, pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Para arkeolog juga meyakini usia candi ini sezaman dengan pembangunan kompleks Candi Prambanan yang menjadi salah satu ikon wisata sejarah di Indonesia.
Meski bernama Candi Merak, banyak orang keliru mengira nama tersebut berasal dari relief burung merak yang terdapat pada bangunan candi.
Faktanya, nama "Merak" justru diambil dari nama wilayah tempat situs tersebut ditemukan, bukan dari ornamen atau ukiran pada bangunannya.
Dari hasil penelitian arkeologi, diketahui bahwa Candi Merak merupakan candi bercorak Hindu Siwa.
Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya yoni di dalam bangunan candi.
Dalam ajaran Hindu, yoni merupakan simbol pemujaan kepada Dewa Siwa dan menjadi salah satu ciri khas bangunan suci bercorak Hindu Siwa.
Baca juga: Rumah Angel Lelga Kemalingan, Pelakunya Ternyata ART Sendiri, Topi Branded hingga Vitamin Hilang
Tak hanya itu, para arkeolog juga menemukan fakta menarik lainnya.
Candi Merak diperkirakan tidak berdiri sebagai bangunan tunggal.
Pada masa lalu, candi ini diyakini menjadi bagian dari sebuah kompleks percandian yang lebih besar.
Sejumlah bangunan pendukung diduga pernah berdiri mengelilingi candi utama, meski kini sebagian besar sudah tidak lagi terlihat.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini kemungkinan pernah menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Meski memiliki nilai sejarah tinggi dan keunikan lokasi yang jarang ditemui di tempat lain, Candi Merak hingga kini masih memiliki keterbatasan dalam hal kunjungan wisata.
Dikutip dari akun Instagram @kabarklaten, kawasan candi saat ini masih belum sepenuhnya dibuka untuk umum.
Akibatnya, tidak sedikit wisatawan yang datang jauh-jauh ke lokasi harus pulang dengan rasa kecewa karena tidak dapat masuk ke area candi.
Keluhan tersebut juga ramai disampaikan oleh warganet di media sosial.
Banyak yang mengaku sudah beberapa kali berkunjung, tetapi mendapati kawasan candi dalam kondisi tertutup.
"Sering kesitu tapi ngak dibuka," tulis salah satu warganet.
Meski demikian, pesona Candi Merak tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Keberadaannya di tengah permukiman warga menghadirkan suasana yang unik, seolah membawa pengunjung kembali ke masa lampau di tengah kehidupan modern.
Dengan sejarah panjang, corak Hindu Siwa, serta lokasi yang tidak biasa, Candi Merak menjadi salah satu destinasi bersejarah di Klaten yang menyimpan banyak cerita dan layak mendapat perhatian lebih sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
(Tribunnewsmaker.com/Candra)