Mantan pemain tim nasional Inggris, Gary Neville dan Ian Wright, mengungkapkan kekhawatiran serius terhadap kondisi fisik Bukayo Saka menjelang fase krusial Piala Dunia 2026. Bintang Arsenal tersebut diketahui tengah berjuang dengan cedera yang terus kambuh dan tampaknya membatasi pengaruhnya di panggung dunia.
Kondisi kebugaran Saka menjadi sorotan utama. Neville memperingatkan bahwa kondisi fisik Saka tampak jauh dari performa terbaiknya. Pemain sayap Arsenal itu diketahui mengalami masalah pada tendon Achilles, cedera yang terus dipantau secara ketat oleh Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) sepanjang turnamen di Amerika Utara. Meski begitu, Saka tetap tampil dalam tiga laga fase grup, meskipun menit bermainnya dibatasi oleh pelatih Thomas Tuchel dan sebagian besar datang dari bangku cadangan.
Berbicara dalam program Stick to Football yang dipersembahkan oleh Sky Bet, Neville mengakui kekhawatirannya terhadap kontribusi pemain berusia 24 tahun itu. “Bukayo Saka sama sekali tidak terlihat baik,” ujar Neville. “Biasanya dia adalah pemain yang ceria dan penuh semangat kompetitif, tetapi sekarang dia tidak terlihat seperti itu, dan bagi saya itu sangat mengkhawatirkan.”
Ian Wright pun memiliki pandangan serupa, mempertanyakan apakah keputusan membawa Saka ke turnamen ini merupakan langkah yang tepat. Saka sendiri sebelumnya mengaku “senang mengambil risiko” dengan kondisi kebugarannya, namun Wright menilai sang pemain terlihat kelelahan secara fisik setelah menjalani musim domestik yang sangat padat. Waktu bermain Saka memang sudah sangat dijaga menjelang akhir musim Liga Premier, dan ia sudah lama kesulitan menyelesaikan pertandingan penuh 90 menit.
“Kita datang ke Piala Dunia, tapi dia masih belum menjadi starter di beberapa laga awal, baru mulai bermain penuh setelah tiga pertandingan, dan tetap belum terlihat seperti Saka yang kita kenal – pemain ini benar-benar butuh istirahat,” jelas Wright.
Bukan hanya kondisi Saka yang membuat para pengamat cemas, tetapi juga minimnya kontribusi dari para pemain sayap Inggris secara keseluruhan. Anthony Gordon dan Noni Madueke memang mendapat kesempatan bermain, namun kreativitas dari sisi sayap tampak hilang, membuat Inggris terlalu bergantung pada momen-momen ajaib dari Jude Bellingham atau sang kapten, Harry Kane.
Roy Keane turut menyoroti penurunan performa para pemain sayap tersebut yang bisa menjadi faktor fatal di babak gugur. “Para pemain sayap harus bisa memanfaatkan kesempatan mereka. Sampai sekarang, mereka belum benar-benar melakukannya,” kata Keane. “Di fase grup mungkin masih bisa melakukan kesalahan, tapi sekarang setidaknya salah satu dari mereka harus mulai tampil menonjol.”
Seiring Inggris bersiap menghadapi Republik Demokratik Kongo di babak 32 besar di Atlanta, pembahasan mulai beralih ke potensi lawan berat di fase berikutnya. Jika berhasil melaju, mereka berpeluang menghadapi Meksiko atau Ekuador di perempat final, yang kemudian bisa membawa mereka ke laga semifinal melawan juara bertahan Argentina. Baik Wright maupun Keane meyakini bahwa laga melawan Argentina bisa menjadi akhir perjalanan Inggris di turnamen ini.
“Saya pikir jika kita bisa mencapai babak melawan Brasil, mungkin kita bisa mengalahkan mereka,” prediksi Wright. “Namun setelah itu saya rasa kita akan menghadapi masalah besar. Sejak awal saya sudah memperkirakan Inggris hanya akan sampai semifinal.” Keane menambahkan dengan nada tegas mengenai potensi pertemuan dengan tim Lionel Messi: “Inggris sama sekali tidak punya peluang untuk mengalahkan Argentina di semifinal, saya benar-benar tidak melihat itu bisa terjadi.”