TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Dari arah pusat kota Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, sekitar 9 Km terdapat satu desa yakni Borimasunggu yang kini semakin dikenal lewat wisata pemancingannya.
Dengan mengendarai sepeda motor, butuh sekitar 10 menit untuk mencapai desa yang berada di pesisir kabupaten Maros itu sebab jalan yang dilalui bukanlah jalur utama atau poros.
Namun, saat sampai di Desa Borimasunggu tepatnya di batas desa penulis langsung disuguhi hamparan luas hijaunya persawahan.
Siang itu, Sabtu (27/6/2026), meski Maros dalam kondisi terik matahari yang cukup menyengat namun terbayarkan lewat suguhan landscape pedesaan yang memanjakan mata.
Desa Borimasunggu termasuk dalam administrasi wilayah Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Pada tahun 2024, desa berpenduduk 1.900 jiwa itu terpilih dalam program Desa BRILian yang merupakan salah satu program pembinaan dan pemberdayaan Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Sebelum melangkah lebih jauh menyusuri Borimasunggu, sekitar 200 meter dari pintu gerbang batas desa penulis berkesempatan berkunjung ke kediaman Kepala Desa Borimasunggu, Syamulrijal (51).
Meski kedatangan penulis di hari libur, tapi Syamsurijal, dengan senyum ramah menyambut.
Dalam kesempatan itu, Syamsurijal, mengaku keterpilihan Desa Borimasunggu masuk dalam program Desa BRILian tidaklah disangka-sangka.
"Awalnya itu infonya dari Pak Toya yang saat itu sebagai Mantri BRI, dan memang dari dulu di Borimasunggu ini banyak nasabah BRI juga," kenang Syamsurijal.
Baca juga: Panen Manis BumDes Pacellekang Gowa Berkat Program Desa BRIlian
Dalam prosesnya kemudian Desa Borimasunggu mendapatkan sejumlah pendampingan dari BRI.
Seperti misalnya pengembangan usaha pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BumDes), edukasi keuangan, menghadirkan agen BRILink hingga bantuan permodalan atau Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk UMKM.
Wisata Pemancingan Sebagai Ikon
Desa Borimasunggu mendirikan BumDes Mandiri Karya sudah sejak tahun 2016 dengan berbagai lini usaha yang sudah dicoba.
Namun menurut Syamsurijal arah pengembangan usaha saat itu masih terbilang dikelola secara amatiran hingga unit-unit usaha yang dibangun tak bertahan lama.
Tapi berkat pendampingan dari BRI lewat program Desa BRILian, perlahan tapi pasti BumDes Mandiri Karya Borimasunggu menata dan mulai memprioritaskan lini usaha yang memberikan pendapatan.
Salah satunya yakni wisata pemancingan.
Unit usaha wisata pemancingan Desa Borimasunggu berada di Dusun Borikaluku.
Lokasi terbilang cukup jauh dari pusat desa, sebab pengunjung harus melewati empat desa lainnya untuk menuju ke sana.
Lahan wisata pemancingan ini dimiliki oleh warga setempat namun BumDes Mandiri Karya Borimasunggu ikut mengelola.
Termasuk didalamnya memfasilitasi enam gazebo.
Gazebo itu disewakan kepada pengunjung dengan tarif mulai Rp80 ribu hingga Rp120 ribu tergantung ukurannya.
Di lokasi saat hari libur pengunjung cukup ramai.
Saat penulis tiba di lokasi, banyak pengunjung dari luar Desa Borimasunggu berwisata bersama keluarga besarnya.
Sebab selain memancing, juga disediakan pengolahan hasil tangkapan langsung untuk disantap di tempat.
Salah satu pengunjung, Adrian, yang ditemui mengaku sudah beberapa kali berkunjung di wisata pemancingan Desa Borimasunggu.
"Saya bawa anak-anak ini, kami dari Maros kota. Enak di sini bisa mancing dan makan-makan kan. Suasananya juga bagus, ikan-ikannya juga segar," katanya.
Hadirnya usaha wisata pemancingan ini cukup membantu pendapatan bagi BumDes Mandiri Karya.
Sebab 5 persen dari pendapatan bersihnya kemudian dikelola BUMDes Mandiri Karya.
Dari pendapatan itu kemudian dikelola kembali untuk pemberdayaan petani dan warga lainnya yang membutuhkan untuk modal usaha.
Skema pemberdayaan itu salah satunya dengan penyaluran kredit lewat unit simpan pinjam untuk usaha berskala mikro, plafonnya yaitu Rp1 sampai Rp5 Juta.
“Petani juga begitu kalau misalkan butuh modal atau alat, dia bisa ajukan modal dulu nanti setelah panen baru diganti,” lanjut Rijal.
Namun untuk plafon KUR di atas Rp5 juta, BUMDes Mandiri Karya akan menghubungkan pelaku usaha kepada BRI.
Rijal menyebut BUMDes Mandiri Karya juga mengelola unit usaha lainnya, seperti peternakan kambing, budidaya rumput laut, penjualan air minum, penyewaan pikap, dan pertamini.
‘BUMDes mencoba mencari potensi ekonomi lokal di desa kami, masyarakat lalu diberdayakan,” ujarnya.
Agen BRILink Perlancar Urusan Keuangan Warga
Dengan jumlah penduduk yang mencapai 1.900 jiwa, kebutuhan transaksi keuangan warga Borimasunggu terbilang cukup tinggi.
Mulai dari kebutuhan transfer, penarikan tunai, pembayaran online termasuk beli token listrik dan belanja online lainnya.
Dulunya, mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh ke pusat kota Maros hanya untuk transaksi di bank atau ATM.
Beruntung, sejak dua tahun lalu saat Desa Borimasunggu masuk dalam program Desa BRILian itulah masuk juga tawaran bagi siapapun warga yang ingin menjadi agen BRILink.
Alma Ayudiah warga Dusun Tekolabbua, Desa Borimasunggu, memberanikan diri daftar sebagai agen BRILink.
Ia kemudian membuat kios agen BRILink di rumahnya dengan nama Toko Alay yang diambil dari singkatan namanya Alma Ayudiah.
Saat penulis berkunjung ke Toko Alay, yang ditemui kala itu karyawannya Sajidah Mahdiah (21).
Baca juga: Banting Setir dari Tukang Ojek ke Agen BRILink, Kini Sardi Pekerjakan 4 Tetangganya
Mahasiswi semester 7 Universitas Terbuka (UT) Makassar ini juga merupakan adik kandung dari Alma Ayudiah.
Sajidah menyebut tiap harinya agen BRILink Toko Alay melayani puluhan nasabah dengan berbagai jenis transaksi.
"Karena ini satu-satunya agen BRILink di desa ini kalau tidak salah, jadi banyak yang datang juga. Alhamdulillah," tuturnya.
Permintaan nasabah yang dilayani mulai dari transfer, penarikan tunai dan juga pembayaran online.
"Yang tagihan-tagihan kredit sampai beli token listrik itu lumayan banyak. Itu juga kalau saat pencairan bantuan PKH banyak kami layani karena tidak jauh lagi harus ke kota, ke bank untuk penarikan," ucap Sajidah.
Biaya transaksi yang ditawarkan agen BRILink Toko Alay juga ramah di kantong.
Yakni untuk transfer ke sesama Bank BRI di bawah Rp500 ribu hanya Rp7 ribu sekali transaksi.
Sedangkan Rp1 juta ke atas biaya admin yang dikenakan Rp10 ribu.
Sebagai karyawan, Sajidah cukup terbantu dengan kehadiran agen BRILink milik kakaknya.
"Alhamdulillah saya bisa punya pendapatan juga, lumayan bisa bantu-bantu orangtua bayar uang kuliah dan uang harian (jajan) juga," ucapnya.
Hasmidar, salah satu nasabah agen BRILink Toko Alay merasa sangat terbantu selama ini.
Sebagai salah satu warga yang berprofesi penambak udang, pelayanan transaksi semakin mudah dan cepat.
"Kadang kan kami mau beli pakan, atau biasa ada pembeli juga tinggal transfer, Dulunya kami ke kota dulu cari ATM atau ke Bank tapi sekarang sudah bisa lewat agen BRILink," katanya.
KUR BRI Berdayakan UMKM dan Pemuda Desa
Sejak dulu mayoritas masyarakat Borimasunggu bekerja sebagai petani tambak udang, pembudidaya rumput laut, dan nelayan serta petani padi.
Tapi bagi Juhriah (51), ada banyak lapangan kerja yang bisa dihasilkan, salah satunya lewat usaha pembuatan lemari berbahan aluminium.
Melalui usaha pembuatan lemari aluminium yang diberi nama RR Aluminium, ia kini mempekerjakan enam orang yang mayoritas anak muda dari Borimasunggu dan desa tetangga, Borikamase.
RR Aluminium menghasilkan berbagai produk, mulai dari lemari aluminium, rak piring, partisi ruangan, hingga kitchen set.
Dengan jumlah tenaga kerja yang ada, RR Aluminium mampu melayani sekitar 15 pesanan setiap bulan.
Perkembangan usaha RR Aluminium juga tidak lepas dari dukungan pembiayaan KUR BRI.
"Saya sudah dari dulu itu kalau pinjaman modal lewat BRI karena mudah dan kecil juga bunganya kan," katanya.
Melalui fasilitas tersebut, Juhria memperoleh modal sebesar Rp150 juta dengan tenor empat tahun untuk mengembangkan usahanya, termasuk mendukung operasional dan pembayaran upah pekerja.
Menurut Juhria, pengelolaan usaha yang baik menjadi kunci keberlanjutan bisnis.
Pengalaman itu ia pelajari sejak menjalankan usaha jahit, sebelum akhirnya beralih ke bisnis aluminium karena melihat perubahan kebutuhan pasar.
Usaha jahit yang pernah dirintisnya justru menjadi pintu awal memperoleh akses pembiayaan KUR.
Dari modal awal sebesar Rp5 juta, usaha yang dijalankan terus berkembang hingga mampu membangun RR Aluminium seperti saat ini.
Seiring waktu, pasar RR Aluminium semakin meluas.
Produknya tidak hanya diminati warga sekitar, tetapi juga telah menjangkau berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Salah satu karyawan RR Aluminium Herman (36) mengaku sebelumnya ia bekerja sebagai pengrajin perabotan bersama saudaranya.
Namun karena pandemi melanda, usaha milik saudaranya tersebut tutup.
Beruntung kata Herman ia mendapat kesempatan bekerja di RR Aluminium meskipun ia bertempat tinggal di desa tetangga.
Kini Herman bisa menyekolahkan tiga anaknya dari pendapatannya sebagai pengrajin di RR Aluminium.
"Syukur sekali karena kami bisa dapat pendapatan itu Rp300 ribu per hari, yah alhamudillah bisa kasi sekolah anak dan bisa dipakai makan juga," kata Herman.
Dilansir dari laman resmi BRI, sepanjang 2025, lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia telah menjadi bagian dari program Desa BRIlian.
Tahun 2026 ini, BRI kembali menghadirkan program Desa BRIlian dengan mengusung tema “Desa 5.0: Sinergi Teknologi dan Human-Centered Leadership dalam Membangun Future Village Ecosystem yang Berdaya serta Berkelanjutan” sebagai upaya mendorong transformasi desa melalui penguatan inovasi, teknologi, dan kapasitas masyarakat desa.(*)