TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dua hari terakhir ini, suhu udara di sejumlah wilayah DIY cukup dingin.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu terendah 19 derajat Celcius di wilayah Pakem Sleman dan Karangmojo, Gunungkidul.
Suhu udara yang begitu dingin ini memang sering terjadi saat musim kemarau.
Dalam masyarakat DIY, suhu dingin di musim kemarau ini biasa disebut dengan bediding.
Musim bediding ini biasanya terjadi saat cuaca pada siang hari begitu terik tanpa adanya awan.
Pada malam harinya, suhu udara mulai terasa dingin.
Pada dini hari, suhu dingin terasa hingga tulang.
Baca juga: Jadwal dan Lokasi SIM Keliling dan SIM Corner di Jogja Hari Ini, Selasa 30 Juni 2026
Terus apa yang menyebabkan suhu udara di wilayah DIY begitu dingin?
Fenomena bediding ini menurut BMKG merupakan hal yang wajar saat musim kemarau.
" Tercatat pada AWS di wilayah DIY tercatat suhu udara minimum memang cukup rendah sebesar 19 C, seperti di Pakem (Sleman) dan Karangmojo (Gunungkidul),"kata M. Nur Hadi, prakiraan cuaca Stamet YIA saat dihubungi Tribun Jogja, Selasa (30/6/2026).
Menurut Hadi, wilayah DIY saat ini sudah memasuki musim kemarau.
Suhu di wilayah DIY turun karena dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Di antaranya angin monson Australia yang bertiup dari benua Australia melewati wilayah Indonesia menuju benua Asia dengan massa udaranya bersifat kering dan dingin.
"Selain itu berkurangnya liputan awan di langit dan cenderung cuaca cerah pada musim kemarau menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer, yang hal ini diperkuat dengan kondisi angin yang relatif landai dan kelembaban udara yang kering sehingga suhu udara dekat permukaan bumi terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari,"jelasnya.
Hadi menambahkan, penurunan suhu udara minimum akan lebih dingin terjadi pada puncak musim kemarau yaitu bulan Juli dan Agustus. (*)