Piala Dunia 1994 adalah panggung terbesar Hristo Stoichkov di level timnas. Ketika itu, dia mencetak enam gol dan mengantarnya meraih Golden Boat.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Di masa emasnya, usia tua bukan kendala bagi Stoichkov. Kepiawaian dan kehadirannya di lapangan, sangat dibutuhkan oleh timnas Bulgaria, terutama saat Piala Dunia 1998 di Prancis.
“Saya mesti kerja keras agar mampu memberikan penampilan terbaik di Piala Dunia 1998. Dan saya pikir, saya memiliki waktu cukup untuk mempersiapkan itu,” kata Hristo Stoichkov ketika itu, dilansir dari Majalah HAI edisi 2 Juni 1998.
Saat ajang empat tahunan di Prancis itu, Stoichkov berusia 32 tahun. Sebenarnya, itu usia yang belum tua-tua amat, sih.
Sebagai bintang lapangan, Stoichkov memang diharuskan tampil sebaik-baiknya. Apalagi di ajang perang tanding Prancis 98, nama negara dan bangsa Bulgaria dipertaruhkan. Publik bola negeri tersebut berhak berharap banyak kepada pemain yang satu ini.
Usianya yang sudah 32 tahun, di mana ketika itu dianggap terlalu uzur untuk ukuran sepakbola modern, rupanya saat itu dianggap bukan jadi kendala. Keampuhan kaki kiri dan kepiawaian bermain disebut akan menjadi inspirasi bertanding pasukan Bulgaria Piala Dunia 1998 di lapangan.
Orang-orang kemudian mengingat kecemerlangannya di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Di situ dia mencetak 6 gol. Dan di Piala Dunia 1998, kemahirannya itu diharapkan terulang. Atau, paling tidak membantu Bulgaria mengatasi pertarungan di Grup D. Sebuah tugas berat yang mesti diemban dan tak terelakkan.
Tapi sayang, di Piala Dunia yang dimenangkan oleh tuan rumah Prancis itu, Bulgaria rupanya tak sekuat tahun-tahun sebelumnya. Tak hanya tak kuat, mereka juga babak belur.
Stoichkov dan kawan-kawan hanya meraih satu poin hasil imbang 0-0 saat melawan Paraguay di pertandingan pertama. Di pertandingan kedua kalah 0-1 dari Kamerun. Dan di pertandingan terakhir, dibelasak Spanyol 6-1. Benar, di turnamen itu, Bulgaria hanya mencetak satu gol lewat kaki … Emil Kostadinov.
Setahun kemudian Stoichkov memutuskan pensiun dari tim nasional dengan torehan 37 gol dari 83 penampilan. Pertandingan terakhirnya adalah selama kualifikasi Euro 2000 melawan Inggris, yang berakhir 1–1, di mana Stoichkov memberikan assist kepada Georgi Markov untuk gol penyama kedudukan dari tendangan bebas.
Di pertandingan itu juga, Stoichkov digantikan oleh Martin Petrov, yang ketika itu melakukan debutnya untuk tim nasional Bulgaria – kesamaan keduanya, satu-satunya pemain Bulgaria yang mencetak gol di Piala Eropa: Stoichkov mencetak tiga gol saat Piala Eropa 1996, Petrov mencetak gol pada Piala Dunia 2004 ketika kalah 2-1 dari Italia.
Setelah pensiun, Stoichkov pernah menjadi pelatih tim nasional Bulgaria dari 2004 hingga 2007. Di level klub, klub terakhir Stoichkov adalah DC United yang dia perkuat pada 2003.
Sebagai pebola, Stoichkov sarat dengan prestasi. Di tahun 1989, 1990, 1991, dia dianugerahi gelar Bulgarian Player of the Year. Europe's Golden Boot disabetnya pada 1990. Sedangkan di tahun 1994, dinobatkan sebagai European Player of the Year.
Pemain yang dilahirkan di Plovdiv itu juga telah berjasa besar bagi klub-klub yang pernah menaunginya. Sejak bergabung pertama kali dengan CSKA Sofia (Bulgaria) di 1985, klub tersebut menjadi langganan juara liga (1987, 1989, 1990) dan Piala Bulgaria (1987, 1988,1989).
Begitu pula yang terjadi saat hijrah ke Barcelona (Spanyol) di 1991, ikut berperan menghantarkan klub barunya itu menjuarai Liga Spanyol di 1991, 1992, 1993, dan 1994. Bahkan ketika bergabung dengan Parma (Italia) di 1996, dia muncul sebagai eksekutor di setiap tendangan bebas dan penalti yang didapat klub tersebut.
Prestasi terbesarnya di level klub tentu saja saat membawa Barcelona menjuarai European Cup (sekarang Liga Champions) pada 1992 setelah mengalahkan Barcelona.
Hitzo, demikian sapaan pemain bertinggi badan 1,78 cm itu, merupakan sosok pemain yang memiliki dua sisi kepribadian yang unik. Di lapangan, selain kehebatannya dalam mengolah bola dan kecepatan berlari, dia juga dikenal sebagai pemain yang bertemperamen tinggi.
Bagi barisan pertahanan lawan dan wasit pertandingan, kehadiran Hitzo bagaikan teroris yang siap menyerang mental mereka dengan perangai buruknya. Tak heran jika berbagai sebutan miring dialamatkan kepadanya. Seperti Si Pemberang, The Naughty Boy, dan The Raging Bull.
Kartu kuning dan merah bukan barang baru lagi bagi pemain yang dilahirkan pada 8 Februari 1966 itu.
Namun di luar lapangan, Hitzo menjelma menjadi pahlawan bagi anak-anak kecil penyuka bola dan panti asuhan di negerinya. Bukan rahasia lagi, jika dia kerap memberikan perlengkapan sepakbola kepada tim sepakbola yunior dan mendermakan uangnya ke beberapa panti asuhan.
Dia juga dikenal sebagai seorang yang setia kepada keluarga. Ketika kembali bergabung dengan klub lamanya, CSKA Sofia (sebelum bergabung dengan Al-Ansar di Arab Saudi), menjelang babak kualifikasi Prancis 98 bergulir, dia mengaku tak menerima sepeser pun uang dari klub barunya itu.
Sikapnya yang keras kepala dan kerap mengkritik itu nyaris menjadi bumerang bagi Stoichkov dan timnas Bulgaria. Ketika Union Bulgare de Football, federasi sepakbola Bulgaria, menunjuk Hristo Bonev sebagai pengganti Dimitar Penev di Agustus 1996, Hitzo langsung melayangkan protes keras.
Pada dasarnya, dia tidak setuju dengan pemecatan Penev. Hitzo muncul sebagai komandan pemboikotan bersama pemain-pemain top Bulgaria lain. Akibatnya, mereka mesti absen di beberapa pertandingan awal babak kualifikasi.
Untungnya, persengketaan tersebut bisa diredam. Hitzo pun berkenan membela Bulgaria, walau dia hanya bermain di empat pertandingan. Pamor sepakbola negeri tersebut berhasil diselamatkan, dengan menjuarai Grup 5 di zona Eropa dan meraih tiket ke Perancis 98.
Bahkan demi memperbaiki hubungan pemain-pelatih, Hitzo dikabarkan mengirim rangkaian bunga kepada Bonev sebagai tanda permintaan maaf. Bagi sang pelatih, itu merupakan awal yang bagus. Bagaimanapun juga, Bulgaria tetap membutuhkan kehadiran si Anak Nakal itu.
"Dia (Stoichkov -Red.) masih merupakan pemain bola berkelas dunia," begitu komentar Bonev, ketika Hitzon diturunkan menghadapi Macedonia di partai persahabatan pada Maret 1998 lalu, beberapa bulan menjelang putaran final Piala Dunia 1998.