Belum Ada Irigasi, Puluhan Tahun Petani Tanah Luas Garap Sawah Pakai Pompanisasi
Nur Nihayati July 01, 2026 10:03 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Puluhan tahun petani di Desa Punti dan Desa Serbajaman Tunong, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, mengandalkan sistem pompanisasi untuk mengairi puluhan hektare areal persawahan.

Hingga kini, kedua desa tersebut belum memiliki jaringan irigasi permanen, sehingga kebutuhan air sawah hanya dapat dipenuhi melalui pompa air yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat dan pemerintah desa.

Menjelang musim tanam, puluhan petani bersama aparatur desa turun langsung membersihkan saluran pompanisasi yang menjadi jalur distribusi air menuju areal persawahan.

Pembersihan dilakukan secara manual sepanjang sekitar 2.000 meter.

Baca juga: Puluhan Ibu-ibu Gampong Tanjong Mesjid Demo di Kantor Camat Tanah Luas, Tuntut Evaluasi Keuchik

Warga menggunakan peralatan sederhana seperti cangkul dan parang untuk mengangkat lumpur, rumput, serta sampah yang menyumbat saluran air.

Keuchik Punti Usman, didampingi Keuchik Serbajaman Tunong Muslim, dalam siaran pers yang diterima Serambinews.com, Rabu (1/7/2026) menyebutkan, kegiatan gotong royong menjadi agenda rutin yang harus dilakukan sebelum musim tanam dimulai.

"Seluruh saluran sepanjang dua ribu meter harus bersih.

Jika saluran mampet, aliran air menuju sawah akan terhambat sehingga distribusi air tidak merata dan petani bisa mengalami kerugian," kata Usman.

Baca juga: Petani di Tanah Luas Sewa Excavator Untuk Bersihkan Saluran Irigasi, 6 Tahun Sawah tak Dialiri Air

Menurutnya, budaya gotong royong perlu terus dipertahankan karena menjadi salah satu kekuatan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan sektor pertanian.

"Budaya seperti ini harus terus dihidupkan kembali. Ini bentuk kebersamaan masyarakat dalam menjaga lumbung padi sekaligus memastikan seluruh petani memperoleh kecukupan air saat musim tanam," ujarnya.

Berdasarkan data pemerintah desa, luas areal persawahan di Desa Punti SB mencapai lebih dari 30 hektare, sedangkan di Desa Serbajaman Tunong mencapai lebih dari 25 hektare.

Seluruh areal tersebut bergantung pada sistem pompanisasi karena belum tersedianya jaringan irigasi teknis dari pemerintah.

Usman menjelaskan, pompanisasi yang digunakan saat ini memanfaatkan tenaga listrik.

Mesin pompa tersebut dibeli menggunakan dana desa dan tidak hanya melayani sawah di Desa Punti SB, tetapi juga mengairi lahan pertanian milik petani di Desa Serbajaman Tunong.

Sumber pengairan 

Sebagai bentuk kerjasama antardesa, para petani dari Desa Serbajaman Tunong memberikan kontribusi kepada Pemerintah Desa Punti SB setiap kali musim panen sebagai biaya operasional penggunaan pompa dan pemeliharaan sarana.

"Pompa ini menjadi satu-satunya sumber pengairan bagi petani. Karena itu perawatannya harus dilakukan bersama agar kebutuhan air seluruh sawah tetap terpenuhi," katanya.

Meski demikian, para petani berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan infrastruktur pertanian di kawasan tersebut.

Menurut Usman, kebutuhan paling mendesak adalah pembangunan jaringan irigasi permanen agar petani tidak lagi bergantung pada pompanisasi yang membutuhkan biaya listrik dan perawatan cukup besar.

Selain itu, petani juga membutuhkan pembangunan saluran cacing menuju petak-petak sawah yang hingga kini belum tersedia sehingga distribusi air masih belum maksimal.

"Kami berharap pemerintah terus mendukung pembangunan desa, terutama di sektor pertanian.

Dengan adanya irigasi permanen dan saluran cacing, kebutuhan air sawah dapat terpenuhi secara optimal sehingga produktivitas padi masyarakat bisa terus meningkat," pungkasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.