Warga Utara Ende Keluhkan Kelangkaan BBM, Pertalite Rp 40 Ribu/Botol, Solar Rp 60 Ribu/5 Liter
Oby Lewanmeru July 01, 2026 11:19 PM

Laporan Reporter POSKUPANG.COM, Albert Aquinaldo 

POS-KUPANG.COM, ENDE – Warga di wilayah Utara Kabupaten Ende mengeluhkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar dalam beberapa hari terakhir. 

Kondisi ini membuat harga BBM eceran di tingkat pengecer naik drastis hingga jauh di atas harga normal.

Kelangkaan tersebut terutama terjadi di wilayah Kecamatan Wewaria, di mana stok BBM dilaporkan kosong sejak sekitar dua hari terakhir. 

Sementara itu, di beberapa titik lain seperti wilayah Kota Baru, kondisi masih relatif aman.

Baca juga: Antrean Panjang Kendaraan di SPBU Kota Ende, Pengelola Pastikan Stok BBM Tetap Normal

Seorang warga Utara Kabupaten Ende, Romantiana Gepe, mengungkapkan masyarakat kini kesulitan mendapatkan BBM dan terpaksa membeli dari pengecer dengan harga tinggi.

“Aduh, di sini kami solar dan bensin kosong semua. Sudah dua hari ini. Ada yang jual eceran, tapi sedikit sekali. Satu botol Aqua besar itu sudah Rp 40 ribu. Solar satu jerigen 5 liter Rp 60 ribu,” ungkapnya, Rabu (1/7/2026).

Ia menambahka sebelumnya harga eceran masih berada di kisaran lebih rendah, yakni sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu untuk Pertalite dalam botol ukuran besar. 

Namun kini harga melonjak hampir dua kali lipat akibat keterbatasan pasokan.

“Dulu masih Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu, sekarang sudah Rp 40 ribu,” tambahnya.

Akibat kondisi ini, sebagian warga terpaksa mencari BBM hingga ke Kabupaten Sikka untuk memenuhi kebutuhan transportasi dan aktivitas sehari-hari. 

Sejumlah aktivitas masyarakat, terutama yang bergantung pada kendaraan dan alat kerja berbahan bakar, juga ikut terdampak.

Bahkan sebagian besar lahan persawahan warga setempat belum digarap karena kelangkaan dan mahalnya harga BBM bersubsidi eceran.

Warga berharap pemerintah segera menormalkan kembali distribusi BBM bersubsidi ke wilayah Utara Kabupaten Ende agar harga kembali stabil dan tidak memberatkan masyarakat.

Keluhan itu datang dari para petani dan masyarakat pengguna kendaraan bermotor.

Kepala Desa Fataatu Timur, Isak Abel Do mengaku, ketersediaan BBM di wilayah Utara sudah dalam kategori tidak normal.

"Untuk BBM di wilayah Utara ini sudah parah, masyarakat sudah mengeluh dan kwatir karena mulai dua hari lalu itu solar sudah tidak bisa dapat, petani sudah kewalahan karena tidak bisa bajak sawah lalu pengusaha-pengusaha lokal untuk isi solar saja tidak bisa dapat," ungkapnya, Selasa (30/6/2026).

Saat ini, kata dia, BBM jenis solar per 35 liter dijual dengan harga Rp 500 ribu.

Sedangkan pertalite yang biasa dijual eceran di botol air mineral ukuran 1,5 liter naik hingga Rp 25-30 ribu/botol.

Sementara itu, satu-satunya SPBU di wilayah Utara yang terletak di Desa Niranusa sudah dua Minggu belakang menjual BBM. (bet)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.