Inilah sejarah HIV dan orang pertama yang dinyatakan sembuh dari infeksi virus mematikan yang di fase paling parahnya menghasilkan apa yang dikenal sebagai AIDS itu.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Human immunodeficiency virus alias HIV barangkali menjadi virus yang paling ditakuti saat ini. Kondisi saat tubuh manusia terkena HIV dikenal sebagai acquired immunodeficiency syndrome alias AIDS.
Lalu seperti apa sejarah HIV? Dan siapa orang atau pasien pertama yang dinyatakan sembuh dari infeksi virus mematikan itu?
Mengutip Kompas.com, HIV adalah virus yang menyerang sel darah putih, tepatnya sel CD4, dalam sistem kekebalan tubuh manusia. Ketika seseorang terinfeksi HIV dan tak mendapatkan pengobatan lambat-laun akan memicu terjadi AIDS.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, penyakit ini telah merenggut lebih dari 40,1 juta jiwa. HIV adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan dan melemahkan pertahanan tubuh saat terserang infeksi.
Sebagaimana disebut di awal, tahap atau stadium lanjut dari HIV yang tidak diobati bisa berkembang menjadi AIDS. Kondisi ini ditandai dengan komplikasi infeksi parah sampai kanker tertentu.
Menurut perkiraan para ahli, virus HIV berasal dari simpanse dan simian immunodeficiency virus (SIV). Ini adalah jenis virus yang menyerang sistem kekebalan monyet dan kera.
Lalu pada 1999, peneliti mengidentifikasi galur SIV simpanse yang disebut SIVcpz identik dengan HIV.
Diperkirakan, simpanse berburu dan memangsa monyet berukuran kecil yang terinfeksi SIV. Kedua galur virus ini lantas bergabung dan membentuk SIVcpz. Biang penyakit ini dapat menyebar ke simpanse dan manusia.
Virus SIVcpz kemungkinan bisa menyerang manusia lantaran pemburu di Afrika memakan daging simpanse yang terinfeksi biang penyakit, atau darah simpanse masuk ke tubuh pemburu lewat celah luka di kulit pemburu.
Menurut beberapa sumber, penularan pertama SIV ke HIV pada manusia ini diperkirakan menjadi tonggak awal sejarah HIV/Aids pertama kali ditemukan pada 1920. Sejak itu pandemi HIV merebak di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo.
Dari sana, virus turut menyebar lewat pekerja migran dan perdagangan seks. Pada 1960, HIV menyebar dari Afrika ke Haiti dan Karibia.
Pada 1970, virus HIV diperkirakan masuk ke AS dan menyebar ke seluruh dunia.
Sementara itu, AIDS—atau HIV/AIDS—pertama kali menjadi sorotan publik ketika penyakit itu diumumkan di AS pada 1981 silam. Ketika itu, ada lima orang yang awalnya merasakan gejala pneumonia.
Penyakit infeksi karena jamur Pneumocystis jirovecii ini tidak berbahaya. Tapi, karena penderita memiliki daya tahan tubuh lemah, penyakitnya menjadi parah dan berat.
Selang setahun kemudian, penyakit gangguan sistem kekebalan tubuh ini sudah menyerang 335 orang. Dari jumlah tersebut 136 penderita di antaranya meninggal dunia.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) lantas menggunakan istilah AIDS untuk menggambarkan wabah penyakit baru itu, pada 1982. Di periode sama, AIDS juga mulai banyak dilaporkan di sejumlah negara Eropa.
Baru pada 1984, peneliti mengidentifikasi penyebab HIV/AIDS berasal dari virus HIV. Sejak itu, tes HIV/AIDS mulai dilakukan.
Pada 1985, Rock Hudson adalah sosok aktor pesohor pertama yang tercatat meninggal dunia karena AIDS. Ketika itu, tercatat sudah ada 20.000 kasus AIDS di seluruh dunia.
Lalu pada 1987, obat antiretroviral (ARV) untuk mengendalikan HIV dan mencegah penyakit berkembang menjadi AIDS kali pertama ditemukan. Obat ini efektif menurunkan angka kematian akibat HIV/AIDS.
Selain meningkatkan daya tahan tubuh penderita, obat ini juga mengurangi risiko penularan HIV dari ibu hamil ke janin yang dikandung.
Pada 2001, produsen obat generik mulai membuat obat HIV secara massal dengan harga yang murah di negara-negara berkembang. Pada 2012, Badan Pengawas Obat AS (FDA) menyetujui penggunaan profilaksis pra pajanan (PrPP) HIV.
Obat yang ditujukan untuk pasangan penderita HIV/AIDS ini dapat mencegah atau mengurangi risiko penularan HIV/AIDS dari hubungan seks dengan efektivitas lebih dari 90 persen.
Timothy Ray Brown, orang pertama yang sembuh dari HIV/AIDS
Sulit untuk melacak siapa pasien pertama yang didiagnosis menderita HIV/AIDS. Meski begitu, sudah ada informasinya tentang siapa orang pertama yang sembuh dari penyakit mematikan itu.
Orang itu adalah Timothy Ray Brown. Dia terkenal sebagai “pasien Berlin”, alias pasien pertama yang diketahui sembuh dari infeksi HIV—Brown meninggal dunia pada usia 54 tahun pada September 2020 lalu karena kanker.
Brown mencatat sejarah sebagai orang pertama yang sembuh dari infeksi HIV.
Sebelum dinyatakan meninggal karena kanker, Brown dikabarkan menjalani transplantasi sumsum tulang dan sel induk tak biasa pada tahun 2007 dan 2008 yang selama bertahun-tahun tampaknya telah menyembuhkan leukimia dan HIV, virus yang menyebabkan AIDS, yang dia derita.
“Timothy adalah simbolisasi bahwa mungkin, dalam kondisi khusus, menyembuhkan pasien HIV, sesuatu yang banyak ilmuwan meragukan bahwa hal tersebut dapat dilakukan,” kata Dr. Gero Huetter, dokter Berlin yang memimpin pengobatan bersejarah Brown. “Ini adalah situasi yang sangat menyedihkan bahwa kanker kembali dan merenggut nyawanya setelah dia bebas dari HIV.”
Perhimpunan AIDS Internasional, di mana Brown pernah berbicara pada konferensi AIDS setelah pengobatannya berhasil, mengeluarkan pernyataan berkabung atas kematian pria itu dan mengatakan bahwa himpunan itu dan Dr. Huetter berutang “banyak rasa terima kasih" karena telah mendorong penelitian untuk upaya penyembuhan.
Brown bekerja di Berlin sebagai penerjemah ketika dia didiagnosis dengan HIV dan kemudian … leukemia. Transplantasi dikenal sebagai pengobatan yang efektif untuk kanker darah, tetapi Huetter ingin mencoba menyembuhkan infeksi HIV juga dengan menggunakan donor dengan mutasi gen langka yang memberikan ketahanan alami terhadap virus AIDS.
Transplantasi pertama kali dilakukan terhadap Brown pada 2007 dan berhasil. Setelah itu infeksi HIV-nya berangsur sembuh namun tidak dengan leukimia yang dideritanya.
Brown kemudian melakukan transplantasi kedua dari donor yang sama pada 2008 dan saat itu tampaknya kankernya juga mulai berangsur hilang. Namun, kankernya tiba-tiba kambuh tahun lalu, menurut Brown pada wawancara terakhir dengan AP.
“Saya senang saya pernah menjalaninya,” ujar Brown soal transplantasi. “Ini membuka pintu yang sebelumnya tidak ada dan menginspirasi para ilmuwan untuk bekerja lebih keras agar menemukan obatnya.”
Selain Brown ada Adam Castillejo yang disebut sebagai "pasien London" sampai dia mengungkapkan identitasnya awal tahun ini—juga diyakini telah disembuhkan dengan transplantasi yang mirip dengan Brown pada 2016.
Karena donor semacam itu jarang dan transplantasi berisiko secara medis, para peneliti telah menguji terapi gen dan cara lain untuk mencoba mendapatkan efek serupa. Pada konferensi AIDS di bulan Juli 2020, para peneliti mengatakan mereka mungkin telah mencapai remisi jangka panjang pada pria Brasil dengan menggunakan kombinasi obat yang kuat yang dimaksudkan untuk membersihkan HIV yang tidak aktif dari tubuhnya.
Mark King, seorang pria Baltimore yang menulis blog, berkata bahwa Brown “Hanyalah magnet bagi orang yang hidup dengan HIV, seperti saya,” dan mewujudkan harapan bahwa akan ada kesembuhan. “Dia telah berkata sejak awal, 'Saya tidak ingin menjadi satu-satunya. Mereka harus terus mengerjakan ini,” kata King.