Jalan Panjang Afni Zulkifli Mengantar Namanya Masuk 22 Sosok Reset Indonesia
Firmauli Sihaloho July 02, 2026 03:39 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM - Nama Afni Zulkifli muncul dalam daftar 22 Sosok Reset Indonesia, kumpulan figur yang dinilai memiliki gagasan dan rekam jejak dalam mendorong perubahan di berbagai bidang kehidupan.

Pengakuan tersebut tidak datang hanya karena kebijakan yang diambilnya selama memimpin daerah, melainkan juga perjalanan panjang yang ditempuh jauh sebelum memasuki dunia pemerintahan.

Daftar tersebut diumumkan melalui akun Instagram terverifikasi @idbaruid pada Rabu (1/7/2026). Penyusunnya menyebut pemilihan dilakukan setelah tiga kali ekspedisi ke berbagai daerah di Indonesia untuk menemukan tokoh-tokoh yang dinilai menghadirkan cara pandang baru dalam menyikapi persoalan sosial, ekonomi, budaya, hukum, maupun politik.

Afni dinilai sebagai salah satu figur tersebut. Sebelum terpilih sebagai Bupati Siak, ia lebih dulu dikenal sebagai jurnalis dan  pernah menjadi Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan fokus pada isu pengelolaan sumber daya alam, kehutanan dan konflik agraria.

Pengalaman itu membentuk cara pandangnya terhadap pemerintahan. Dalam berbagai kesempatan, Afni berpandangan penyelesaian konflik agraria tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam.

Menurutnya, kebijakan yang disusun pemerintah pusat perlu mempertimbangkan kondisi sosial, sejarah, dan karakter setiap daerah agar mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Cara pandang tersebut kemudian dibawa ke pemerintahan.

Di awal masa jabatannya sebagai Bupati Siak, Afni dihadapkan pada kondisi keuangan daerah yang masih dibebani utang sekitar Rp326 miliar dari pemerintahan sebelumnya. 

Salah satu langkah yang ditempuh ialah menata kembali belanja daerah.

Baca juga: Kanit Reskrim di Bengkalis Dicopot, Diduga Aniaya Warga Rupat Utara

Baca juga: Kasus HIV di Riau Capai 11.523 Kasus, Pekanbaru Penyumbang Terbanyak

Termasuk memangkas anggaran perjalanan dinas bernilai ratusan miliar rupiah sebagai bagian dari upaya memperbaiki ruang fiskal pemerintah kabupaten dan menyelesaikan kewajiban yang tertunda.

Upaya menjadi salah satu alasan penyusun memasukkan nama Afni dalam daftar tersebut. Kebijakan pengetatan anggaran dipandang mencerminkan keberanian mengambil keputusan yang tidak selalu populer sekaligus menawarkan pendekatan baru dalam tata kelola pemerintahan daerah.

Menanggapi masuknya namanya dalam daftar itu, Afni mengaku tidak mengetahui sebelumnya bahwa dirinya menjadi salah satu figur yang dipilih.

“Alhamdulillah, saya juga tidak menyangka ada apresiasi seperti ini. Saya hanya menjalankan tugas sebagaimana seharusnya sebagai kepala daerah, bekerja semampu saya demi masyarakat Siak,” kata Afni, Kamis (2/7/2026).

Ia menyampaikan terima kasih kepada penyusun daftar atas apresiasi tersebut. Menurut Afni, kategorisasi itu sama sekali bukan sesuatu yang pernah diminta ataupun diketahuinya.

“Saya sama sekali tidak tahu ada penilaian seperti ini. Saya juga tidak pernah meminta untuk dimasukkan dalam kategori apa pun. Mungkin kebijakan-kebijakan yang kami ambil selama ini menjadi bagian dari penilaian mereka,” ujarnya.

Afni berharap apresiasi tersebut tidak dimaknai sebagai pencapaian pribadi. Baginya, pengakuan itu menjadi penyemangat untuk terus bekerja membenahi Kabupaten Siak di tengah berbagai tantangan yang dihadapi pemerintah daerah.

“Kalau ini kemudian membuat masyarakat Siak ikut bangga, tentu saya bersyukur. Penghargaan ini saya anggap sebagai motivasi agar kami terus bekerja lebih baik dan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat,” katanya.

Selain Afni, daftar tersebut juga memuat sejumlah tokoh dari latar belakang yang beragam. Alissa Wahid dipilih karena dinilai konsisten memperjuangkan toleransi, keadilan ekologis, serta menolak pemberian izin usaha pertambangan kepada organisasi keagamaan.

Nama lain yang turut masuk ialah Gus Kautsar, pengasuh Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, yang dinilai mampu menjembatani tradisi keilmuan pesantren dengan persoalan sosial kontemporer melalui penguatan jejaring kiai muda dan pengembangan ekonomi berbasis komoditas lokal.

Sementara itu, Hening Purwati dinilai berhasil mengembangkan gerakan Eco-Jihad yang menghubungkan isu lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan nilai-nilai keagamaan. Tokoh lain yang turut tercantum dalam daftar tersebut antara lain Novel Baswedan, Bivitri Susanti, Farwiza Farhan, Andrew Kalaweit, dan Victor Yeimo.

Penyusun menegaskan, 22 Sosok Reset Indonesia bukan dimaksudkan sebagai daftar tokoh tanpa kekurangan. Daftar itu disusun sebagai potret figur-figur yang dinilai tetap bekerja di bidangnya masing-masing, menawarkan gagasan, serta membuka ruang bagi lahirnya perubahan di Indonesia. (Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.