Sayangkan Lagu Bupati Purwakarta Om Zein, Gerindra Minta Kadernya Jaga Etika di Ruang Publik
Eko Sutriyanto July 02, 2026 08:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Juru Bicara Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Sugiat Santoso, menyayangkan lagu karya Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein yang menuai polemik karena sejumlah liriknya dinilai merendahkan perempuan.

Menurut Sugiat, setiap orang berhak menciptakan karya seni. Namun, ia mengingatkan agar isi karya tersebut tidak menyinggung kelompok tertentu, termasuk perempuan.

"Misalnya buat lagu, buat lagu saja, tapi jangan sampai lirik-liriknya malah menyinggung perasaan suatu kelompok masyarakat kan," ujar Sugiat kepada wartawan, Kamis (2/7/2026).

Sugiat mengatakan pihaknya telah mendengar penjelasan Om Zein mengenai polemik tersebut. Berdasarkan klarifikasi yang diterima, lagu itu dibuat jauh sebelum Saepul Bahri Binzein menjabat sebagai Bupati Purwakarta.

Meski demikian, ia menilai polemik tersebut harus menjadi pelajaran bagi seluruh pejabat publik, terutama kepala daerah, agar lebih berhati-hati dalam menghasilkan karya yang dikonsumsi masyarakat luas.

Baca juga: Elektabilitas Dedi Mulyadi Melonjak, Mungkinkah Tinggalkan Gerindra demi Pilpres 2029?

"Tapi yang paling penting pesan mau disampaikan bahwa ya ini jadi pelajaran lah bahwa setiap anak bangsa, bukan hanya kepala daerah ya, untuk membuat karya-karya seni yang itu akan dinikmati oleh publik, itu ya memang harus menjaga, menjaga apalah norma-norma, menjaga etika, menjaga ya nilai-nilai yang ada di, di budaya-budaya kita kan. Apalagi jangan sampai kesannya malah melecehkan salah satu pihak," tegasnya.

Sugiat juga mengingatkan kepala daerah agar lebih memusatkan perhatian pada tugas utama mereka, yakni melayani masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Menurutnya, pemimpin daerah juga harus mampu memberikan teladan dalam bersikap maupun bertutur kata.

"Keteladanan dalam berbicara, keteladanan dalam bersikap, keteladanan dalam bertingkah laku. Dan supaya ini pelajaran bagi kita semua, saya pikir itu," imbuhnya.

Dilansir Tribun Jabar, Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein akhirnya angkat bicara terkait polemik lagu ciptaannya berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang menuai kritik karena dinilai mengandung lirik yang menyinggung kaum perempuan.

Pernyataan itu disampaikan Om Zein usai menghadiri kegiatan pelayanan publik di Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Kamis (2/7/2026).

Kehadirannya disambut antusias warga, terutama kalangan emak-emak yang berbondong-bondong mendekat untuk bersalaman, berbincang, hingga meminta foto bersama.

Menanggapi kontroversi lagu tersebut, Binzein lebih dulu menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang merasa tidak nyaman maupun tersinggung dengan lirik lagu tersebut.

"Pertama-tama saya secara pribadi memohon maaf kepada seluruh masyarakat atas ketidaknyamanan ini, dan mohon maaf jika kata-kata dalam lagu itu membuat beberapa pihak ada yang tersinggung. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung siapa pun dan tidak mendeskripsikan siapa pun," kata Binzein kepada Tribunjabar.id di Lapangan Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Kamis (2/7/2026).

Dia menjelaskan, lirik lagu tersebut berasal dari sebuah puisi yang ditulisnya pada 2020, jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Bupati Purwakarta.

Menurutnya, puisi itu merupakan refleksi perjalanan hidup dan perjalanan spiritual pribadinya saat masih menjadi seorang pengembara.

"Itu berawal dari sebuah puisi yang saya buat pada tahun 2020. Saat itu dibuat oleh seorang Om Zein masih seorang pengembara, bukan oleh Om Zein sebagai bupati, karena tahun 2020 saya belum menjadi bupati," ujarnya.

Baca juga: Gerindra Tekankan Evaluasi Total Latsarmil dalam Program SPPI Demi Cegah Korban Berulang

Binzein mengatakan setiap orang memiliki perjalanan spiritual, kisah hidup, hingga pengalaman cinta yang berbeda-beda. 

Begitu pula dengan dirinya yang mengaku pernah berada dalam fase kehidupan yang menurutnya "berandalan" atau nakal.

"Dulu saya merasa dalam kategori berandalan atau nakal. Saya kemudian merenung dan berpikir, ya Tuhan, untung saya diciptakan menjadi laki-laki. Kalau menjadi perempuan bagaimana jadinya saya. Itulah yang ingin saya ungkapkan. Saat itu saja sebagai laki-laki rambut saya panjang, apalagi kalau menjadi perempuan. Hal-hal itulah yang kemudian tertuang dalam lirik lagu," ucapnya.

Ia juga menyebutkan, puisi tersebut kerap dibacakannya dalam berbagai kesempatan. Hingga pada 2023, seorang seniman datang kepadanya dan meminta izin untuk mengaransemen puisi tersebut menjadi sebuah lagu.

"Puisi itu sering saya bacakan. Tahun 2023, saat saya juga masih belum menjadi bupati, ada seorang seniman datang dan meminta agar puisi itu diaransemen menjadi lagu. Bagi saya tidak ada masalah, akhirnya dibuatlah menjadi lagu," katanya.

Terkait adanya somasi maupun tuntutan agar lagu tersebut ditarik dari peredaran, Binzein mengaku belum mengambil keputusan.

Ia menegaskan akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan kuasa hukumnya sebelum menentukan langkah selanjutnya.
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.