TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Imbas penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah turut berdampak terhadap penjualan telur ayam.
Seperti yang dirasakan seorang peternak ayam petelur di Desa Morome, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), Dadang.
Dia mengaku, selama ini sebagian hasil produksinya disalurkan melalui distributor yang memasok komoditas telur ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Namun, sejak penyaluran MBG ikut diliburkan, pengambilan telur oleh distributor pun ikut terhenti.
Menurutnya, penjualan ke dapur MBG memang hanya menyumbang sekitar 30 hingga 35 persen dari total penjualan.
Baca juga: Harga Buku Tulis di Kendari Sulawesi Tenggara Mulai Rp21 Ribu, Catat Ini Lokasi Belinya
Meski demikian, penghentian sementara program tersebut tetap memberikan dampak yang cukup besar terhadap usahanya.
"Tadinya grosir ambil sama kami banyak, mereka juga kurangi karena mungkin mereka berlangganan dengan dapur MBG. Secara tidak langsung berpengaruh juga sama kita," kata dia, Kamis (2/7/2026).
Sebelum adanya penurunan permintaan, Dadang mampu menjual sekitar 1.000 rak telur per hari.
Kini, penjualannya turun menjadi sekitar 700 rak per hari.
Stok yang menumpuk di gudang akhirnya dilepas dengan harga jauh lebih murah agar tidak mengalami kerugian yang lebih besar.
Baca juga: Harga BBM Terbaru 1 Juli 2026 di Sulawesi Tenggara, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex Turun
"Seperti saya bilang tadi, 30 persen telur yang biasanya distok jadi menumpuk di gudang karena libur distribusi MBG," ujar dia.
Pemilik Usaha Al Hanan Farm itu mengatakan, saat ini telur ayam ras ukuran sedang dijual seharga Rp38 ribu hingga Rp39 ribu per rak.
Bahkan, untuk pembelian partai alias dalam jumlah besar, harga bisa turun hingga Rp35 ribu per rak.
Sementara itu, telur berukuran besar dijual dengan harga Rp40 ribu hingga Rp43 ribu per rak.
Penurunan permintaan dari distributor ini membuat Dadang harus menjual langsung ke pasar tradisional.
Baca juga: Kenaikan Harga Oli Mesin di Kota Kendari Sultra Bebani Pengeluaran Bulanan Pengendara Motor
Namun, langkah itu juga tidaklah mudah karena harus bersaing dengan produsen lain, terutama pasokan telur dari Sulawesi Selatan yang masuk ke wilayah Sultra.
Persaingan harga dengan produsen luar daerah menjadi salah satu faktor yang membuat harga telur semakin tertekan.
Di sisi lain, produksi telur tetap berjalan normal sehingga kondisi ini membuat peternak harus mencari cara untuk menekan biaya operasional.
Salah satunya dengan mengurangi populasi ayam yaitu dengan menjual ayam produktif yang berusia 1,7 tahun hingga 1,8 tahun.
"Saking kacaunya, ayamnya pun ikut dijual meskipun masih memproduksi. Tapi kan ada skemanya, ayam 1 tahun 7 bulan kita askir," katanya.
Baca juga: Harga Seragam Sekolah SD, SMP hingga SMA di Kendari Mulai Rp180 Ribu per Pasang, Pembeli Masih Sepi
Saat ini, Dadang memiliki 42 kandang dengan populasi sekitar 75 hingga 80 ribu ekor ayam petelur.
Tingkat produksi telurnya mencapai sekitar 82 persen setiap hari, meski tidak seluruh hasil produksi dapat dipasarkan karena sebagian tidak memenuhi standar kualitas jual.
Dadang berharap, pemerintah mengutamakan pemasaran hasil produksi dari peternak lokal ketimbang dari luar provinsi.
Pemerintah juga diminta menetapkan harga acuan yang setara atau sedikit di atas Harga Pokok Penjualan (HPP), agar persaingan tetap sehat dan tidak merugikan produsen lokal.
"Kenapa mereka bisa lebih rendah sementara kita di sini lokal lebih mahal, pertimbangannya adalah harga pakan, karena memesan dari luar Sultra," ujarnya. (*)
(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)