IODI Perjuangankan Cabor Dancesport Tetap Dipertandingkan di Porprov Sulsel
Alfian July 03, 2026 04:21 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Polemik isu pencoretan Dancesport dari cabang olahraga (Cabor) yang dipertandingkan pada Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan (Porprov Sulsel) XVIII 2026 Wajo-Bone mulai menemui titik terang. 

Pengurus Provinsi Ikatan Olahraga Dancesport Indonesia Sulawesi Selatan (Pengprov IODI Sulsel) telah bertemu pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bone sebagai tuan rumah pada Sabtu (27/6/2026).

Hasilnya, KONI Bone menerima dengan tangan terbuka dancesport dipertandingkan.

Bahkan, organisasi yang dipimpin Asiswa Karim ini menyiapkan Gedung PKK Bone sebagai venue pertandingan.

Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Umum Pengprov IODI Sulsel Ade Tri Putra saat dihubungi melalui telepon oleh Tribun-Timur.com, Kamis (2/7/2026). 

“Mereka sangat terima (Dancesport dipertandingkan), hanya saja masih menunggu informasi karena mereka hanya menjalankan surat keputusan (SK) yang sudah dikeluarkan KONI Sulsel dan belum ada SK baru,” ungkapnya. 

Baca juga: Inilah Makna Logo Porprov 2026, Ada Songkok Recca Khas Bone dan Sutra Wajo

Dari informasi didapatkan Putra, isu dancesport dicoret keluar dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulsel. 

Namun, perlu digaris bawahi keputusan Cabor dipertandingkan di Porprov bukan kewenangan Dispora Sulsel, tapi KONI Sulsel. 

“Semua harus berjalan sesuai SK KONI,” katanya. 

Makanya, Putra bersama pengurus IODI Sulsel akan bertemu dengan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Sulsel Suherman untuk menyelesaikan persoalan ini.

Kedua belah pihak difasilitasi bertatap muka oleh Ketua Harian KONI Sulsel Chalik Suang. 

Pertemuan rencananya berlangsung di Kantor Dispora Sulsel di Gelanggang Olahraga (GOR) Sudiang, Jl Pajjaiang, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulsel, Jumat (3/7/2026). 

“Rencananya besok difasilitasi ketemu Dispora untuk membicarakan masalahnya. Rencananya di GOR Sudiang, tapi saya masih tunggu kepastiannya,” kata atlet dancesport ini. 

Dalam pertemuan nanti, Putra akan membawa berbagai dokumen pendukung dancesport harus tetap dipertandingkan di Porprov.

Mulai dari hasil Babak Kualifikasi (BK) Porprov yang meloloskan 181 atlet ke Porprov Wajo-Bone, dokumentasi penyelenggaraan Pra Porprov

Dokumentasi sebagai bukti penyelenggaraan dancesport selama ini telah disesuaikan dengan norma yang berlaku.

Pasalnya, ada beranggapan pakaian atlet dancesport terlalu seksi, padahal pihaknya sudah menyesuaikan dengan daerah. 

Atlet diwajibkan menggunakan manset lengan panjang da legging agar lebih tertutup.  

Kata Putra, jika melihat Cabor lain banyak yang pakaiannya lebih vulgar dari dancesport, seperti renang dan senam.

Meski begitu, ia tak ingin melempar kesalahan kepada Cabor jika pakaiannya terbilang terbuka, karena memang pakaian pertandingannya seperti itu. 

“Itu mungkin saya bawa dan saya sudah siapkan dokumen nya untuk diberikan ke Kadispora bahwa kita sudah melaksanakan lebih tertutup. Di sini saya tidak mau membandingkan dengan Cabor lain, tapi mau menunjukkan tidak ada celah kenapa kita (dancesport) tidak dipertandingkan,” tegasnya. 

Ditanya dugaan dancesport dicoret karena dianggap menampilkan pakaian atau gerakan yang terlalu terbuka, Putra mengaku hanya mengetahui informasi tersebut dari isu yang beredar.

Kalau pun itu alasannya, ia akan menyiapkan beberapa bukti penyelenggaraan Pra Porprov tidak terbuka. 

Seluruh nomor yang dipertandingkan mengikuti aturan berpakaian yang sopan, seperti hip hop, tarian tradisional, artistic, grup, maupun solo.

Gerakan dancesport juga memiliki aturan yang jelas, sehingga tidak menampilkan gerakan vulgar sebagaimana anggapan sebagian pihak.

Ia pun menyebut, pemerintah seyogyanya menjadi penengah di persoalan ini, jadi pihak yang memperkenalkan Cabor. 

“Bukan olahraga yang salah, pemerintah harus jadi penengah untuk memperkenalkan Cabor ini seperti apa,” pungkas peraih medali perak Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumatera Utara (Sumut) ini. 

Sebelumnya, Ketua Harian KONI Sulsel Chalik Suang menyampaikan, dancesport harus dipertandingkan di Porprov.

Lantaran, Cabor ini penyumbang tiga medali di pada PON Aceh-Sumut lalu.

Atlet dancesport Ivan Otnieliem dan Vani Jusak Otnieliem menyumbang medali emas di nomor FF Samba Campuran.

Keduanya mempersembahkan medali perunggu untuk Sulsel juga di nomor Amateur Latin Campuran.

Sedangkan Anastasya Kadiaman dan Putra meraih medali perak di nomor Pre Amateur Campuran.

Selain itu, dancesport juga telah mengikuti BK Porprov yang dibiayai oleh APBD 2026.

“Jadi kalau tidak dipertandingkan di Porprov apa jadi alasannya. Itu merugikan kita dan daerah, karena mereka telah melatih dan membekali atlet,” terangnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.