Pertama, penjualan tas dan sepatu sekolah di Pasar Raya Padang mengalami peningkatan menjelang masuknya tahun ajaran baru.
Pedagang mengaku penjualan naik menjelang masuk tahun ajaran baru hingga 70 persen, dibandingkan hari biasa.
Kedua, bencana banjir bandang yang menghantam Kota Padang sejak Desember tahun lalu menyisakan trauma mendalam bagi warga sekolah.
Hingga kini, kondisi infrastruktur SDN 10 Lambung Bukit amblas pada bagian akses utamanya dan menyisakan retakan aspal yang menjalar sampai ke depan gerbang gedung sekolah di Kecamatan Pauh ini.
Ketiga, sudah sepekan lamanya pedagang basemen Blok II dan Blok III Pasar Raya Padang menempati lapak sementara di area lobi basemen Blok III, Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.
Relokasi sementara ini dilakukan menyusul langkah Pemerintah Kota (Pemko) Padang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) yang tengah melakukan revitalisasi Pasar Raya Padang.
Baca selengkapnya berikut ini:
Penjualan tas dan sepatu sekolah di Pasar Raya Padang mengalami peningkatan menjelang masuknya tahun ajaran baru.
Pedagang mengaku penjualan naik menjelang masuk tahun ajaran baru hingga 70 persen, dibandingkan hari biasa.
Berdasarkan pantauan TribunPadang.com di lapangan sekitar pukul 16.02 WIB, pengunjung tampak datang bersama anggota keluarga untuk mencari tas dan sepatu di kedai milik Lina.
Pengunjung terlihat silih berganti. Pada beberapa momen, kedai dipadati pembeli, kemudian hanya tersisa satu atau dua pengunjung sebelum kembali ramai.
Baca juga: Pasar Raya Padang Diserbu Pembeli Jelang Ajaran Baru, Penjualan Seragam Sekolah Melejit 40 Persen
Pedagang tas dan sepatu, Lina, mengatakan peningkatan pembeli sudah mulai terasa sejak sepekan terakhir.
"Alhamdulillah ramai, peningkatan sekitar 70 persen dari hari biasa. Mulai ramai sudah seminggu ini," katanya, Kamis (2/7/2026).
Menurut Lina, tas dan sepatu sama-sama banyak diminati pembeli. Bahkan, tidak sedikit pelanggan yang membeli keduanya sekaligus dalam satu kali transaksi.
"Paling ramai sepatu dan tas, keduanya ramai. Sering membeli sepaket," ujarnya.
Baca juga: Tuntut Transparansi Anggaran Sekolah, Massa GMM-SM Minta Gubernur Copot Kadisdik Sumbar
Ia menjelaskan, harga satu tas yang dijual di kedainya berkisar Rp100.000 hingga Rp170.000.
Sementara harga sepatu sekolah berkisar dj harga Rp100.000 hingga Rp160.000 per pasang.
Untuk sepatu, merek Pro Att menjadi yang paling banyak dicari pembeli saat belanja di kedai Lina.
"Sepatu merek Pro Att paling laris di sini, warnanya hitam, cocok untuk anak sekolah," katanya.
Baca juga: Update Revitalisasi Pasar Raya Padang: Lapak Sementara Minim Fasilitas, tapi Penjualan Meningkat
Sejak sepekan terakhir, Lina mengaku telah menjual sekitar 60 buah tas dan 60 pasang sepatu.
Kedua barang ini laris secara bersamaan, sebab para pembeli sering mengambil sepaket untuk kebutuhan sekolah anaknya.
"Sekitar 60 pcs tas dan 60 sepatu laku sejak sepekan terakhir," ujarnya.
Peningkatan pembeli ini kata Lina, juga turut mendongkrak omzet penjualannya.
Pada hari biasa, omzet yang diperoleh sekitar Rp1.500.000 per minggu. Kini, omzet meningkat menjadi sekitar Rp7.000.000 hingga Rp8.000.000 per minggu.
"Omzet hari biasa Rp1,5 juta. Kalau kini alhamdulillah capai Rp7 juta sampai Rp8 juta," katanya.
Menurut Lina, penjualan sepatu biasanya tidak terlalu diminati pada hari-hari biasa karena kebutuhan tersebut umumnya hanya muncul saat menjelang masuk sekolah.
"Kalau sepatu hanya sekali setahun. Anak-anak banyak masuk sekolah," tuturnya.
Momentum libur sekolah tahun ini membawa berkah tersendiri bagi para pedagang di Pasar Raya Padang. Penjualan seragam sekolah di pusat pasar tradisional tersebut dilaporkan mengalami lonjakan drastis hingga mencapai 40 persen dibandingkan pada hari-hari biasa.
Pasar yang berlokasi Kelurahan Kampung Jao, Kota Padang, mulai ramai dikunjung masyarakat jelang dimulainya tahun ajaran baru.
Berdasarkan pantauan TribunPadang.com di lapangan sejak pukul 14.13 WIB, banyak masyarakat yang menyerbu toko seragam sekolah.
Masyarakat yang datang rata-rata membawa keluarga, termasuk anaknya yang ingin masuk sekolah.
Salah seorang pedagang seragam sekolah, Jumadi saat ditemui di bangunan Fase 2, Los 1 Pasar Raya Padang, mengatakan pembeli mulai berdatangan dalam dua hari terakhir.
Baca juga: Heboh Tambang di Kasang, Ombudsman Dalami Dugaan Maladministrasi dan Panggil OPD Terkait
Ia mengaku peningkatan penjualan di bandingkan hari biasa sudah menyentuh angka 40 persen.
"Sudah ada peningkatan, sekitar 40 persen dari hari biasa," kata Jumadi sembari memanggil masyarakat untuk datang melihat seragan sekolah du tokonya.
Menurutnya, seragam untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA sama-sama diminati pembeli.
Di tokonya tersedia berbagai pilihan seragam, merah-putih, pramuka dan fasilitas penunjang lainnya.
"Alhamdulillah, dalam sehari mulai terjual dari tiga, empat hingga lima stel. Masing-masing tingkatan sama larisnya," pungkaanya.
Jumadi mengatakan, peningkatan penjualan juga terlihat dari omzet harian yang diperoleh.
Ia mencatat, pada hari biasa, omzet penjualan hanya berkisar Rp1.000.000 hingga Rp1.500.000 per hari.
Sementara menjelang masuk sekolah, omzet meningkat mencapai sekitar Rp3.000.000 hingga Rp4.0000 per hari.
"Bedanya ada, hari biasa Rp1.000.000 sampai Rp1.500.000, sekarang omzet Rp3.000.000 sampai Rp4.000.000," ujarnya.
Meski jumlah pengunjung mulai bertambah, menurutnya tidak semua yang datang langsung berbelanja dalam jumlah banyak.
Sebagian besar pembeli hanya membeli satu stel seragam yang terdiri dari baju dan celana.
"Kadang yang datang ramai, yang beli cuma satu stel, celana dan baju," katanya.
Ia memperkirakan puncak penjualan seragam sekolah terjadi tiga hari sebelum anak-anak kembali masuk sekolah. Memasuki sore hari, jumlah pembeli juga mulai meningkat.
"Puncaknya tiga hari sebelum sekolah. Hari ini sore mulai ramai. Mudah-mudahan saja lebih ramai," tuturnya.
Senada, pedagang lainnya bernama Syafri juga mengaku penjualan mulai meningkat di bandingkan hari biasa dan awal mulai libur sekolah.
Pada awal libur sekolah, penjualan belum berdampak dan hanya satu atau dua orang masyarakat yang berbelanja ke tokonya.
Baca juga: Pengendalian Inflasi Jadi PR Padang Pariaman, Bank Indonesia Minta Penguatan Ketahanan Pangan
"Mulai ramai hari ini, meski belum signifikan. Jual beli juga meningkat," sebutnya.
Kata dia, penjualan seragam sekolah yang laris di tokonya hampir sama. Mulai dari merah-putih hingga pramuka.
Akan tetapi, kebanyakan masyarkat yang membeli untuk seragam anak SD, lantaran belum ada pakaian yang dikenakan..
"Kalau paling banyak anak SD, karena belum ada pakaian mereka. Untuk SMP dan SMA biasanya pakai seragam lama, kalau sudah tidak muat, baru dibeli lagi," tambahnya.
Bencana banjir bandang yang menghantam Kota Padang sejak Desember tahun lalu menyisakan trauma mendalam bagi warga sekolah.
Hingga kini, kondisi infrastruktur SDN 10 Lambung Bukit amblas pada bagian akses utamanya dan menyisakan retakan aspal yang menjalar sampai ke depan gerbang gedung sekolah di Kecamatan Pauh ini.
Pantauan reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda di lokasi pada Kamis (2/7/2026), sebuah plang seng terlihat berdiri kokoh menutupi jalan utama tepat sebelum memasuki gerbang sekolah dasar tersebut.
Pemasangan plang seng ini sengaja dilakukan sebagai penanda sekaligus pembatas karena akses jalan utama menuju sekolah telah amblas akibat tergerus aliran banjir bandang.
Tidak hanya jalan yang amblas, hamparan aspal di sekitar lokasi juga tampak retak-retak membujur dan mengarah lurus ke gerbang sekolah.
Baca juga: Peluncuran Pembayaran Pajak Daerah Non Tunai Padang Pariaman, Warga Kini Bisa Bayar via QRIS
Tepat di depan gerbang utama, sisa-sisa keganasan aliran sungai yang menghantam kawasan Lambung Bukit pada Desember tahun lalu masih terlihat dengan jelas.
Suasana sekolah pada Kamis siang terpantau sepi tanpa ada riak dan tawa anak-anak karena seluruh murid sedang memasuki masa libur semester.
Cuaca panas yang menyengat hari itu seakan menyatu dengan pemandangan pilu atas rusaknya fasilitas pendidikan di pinggiran Kota Padang ini.
Kepala SDN 10 Lambung Bukit, Haryenti mengatakan, sekolah yang dipimpinnya itu sebenarnya sempat dihantam bencana sebanyak dua kali berturut-turut.
Namun, hantaman banjir bandang yang kedua pada Desember tahun lalu menjadi puncak kerusakan yang membuat area depan sekolah amblas.
Baca juga: Sudah 6 Bulan Amblas, SDN 10 Lambung Bukit Padang Masih Simpan Retakan hingga Depan Gedung
"Bencana dua kali, namun yang membuat amblas sekolah kami itu bencana kedua. Depan gapura amblas sudah sampai depan gedung," kata Haryenti.
Kini, tepat enam bulan pascakejadian, kerusakan parah tersebut menyisakan dampak fisik yang mengganggu fasilitas belajar, termasuk hilangnya ruang kelas dua dan ruang guru.
Akibat amblasnya akses utama di depan gerbang, aktivitas keluar masuk sekolah bagi 259 murid dan para guru kini terpaksa dialihkan total.
"Masuk sekolah tidak bisa lewat gerbang tapi lewat jalan samping, jadi ruang gerak anak-anak sekarang menjadi terbatas," jelas Haryenti.
Kondisi gerbang yang retak dan tanah yang amblas di depan gedung ini memicu kecemasan mendalam bagi pihak sekolah, terutama saat awan hitam mulai menggantung di langit Kecamatan Pauh.
Baca juga: Bayang-Bayang Cemas di Gerbang SDN 10 Lambung Bukit Padang, Jalan Amblas Intai Nyawa Murid
Haryenti mengakui, seluruh guru, pegawai, hingga dirinya selalu dirundung rasa takut dan cemas jika hujan lebat kembali turun mengguyur kawasan tersebut.
Kekhawatiran itu sangat beralasan karena posisi depan gerbang yang sudah retak parah sewaktu-waktu bisa kembali amblas total dan mengancam bangunan utama sekolah jika debit air sungai kembali naik.
Sebagai langkah antisipasi demi keselamatan, pihak sekolah bahkan telah menyusun kebijakan mandiri untuk meliburkan aktivitas tatap muka jika cuaca buruk melanda.
"Keterbatasan ini mengganggu. Jika ada hujan lebat tentu cemas takut amblas semuanya, soalnya depan gerbang sudah retak. Seandainya cuaca tidak aman, anak-anak belajar di rumah," pungkasnya.
Sebuah pemandangan kontras terlihat di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 10 Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), Kamis (2/7/2026).
Di tengah kondisi infrastruktur sekolah yang memprihatinkan akibat hantaman banjir bandang akhir tahun lalu, antusiasme masyarakat untuk menyekolahkan anak mereka di tempat ini justru tidak surut.
Pantauan reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda di lokasi pada Kamis siang, cuaca panas menyengat menyambut di tengah pemandangan pekarangan sekolah yang tampak pilu.
Tepat sebelum memasuki gerbang utama sekolah, berdiri sebuah plang seng yang sengaja dipasang untuk menutupi akses jalan yang telah amblas total.
Tak hanya itu, retakan-retakan panjang pada aspal jalan juga terlihat jelas menjalar dan mengarah langsung ke gerbang sekolah dasar tersebut.
Baca juga: Bayang-Bayang Cemas di Gerbang SDN 10 Lambung Bukit Padang, Jalan Amblas Intai Nyawa Murid
Tepat di depan gerbang, aliran sungai yang menghantam kawasan ini pada Desember tahun lalu masih mengalir, menjadi saksi bisu musibah yang terjadi enam bulan silam.
Meski kondisi fisik bangunan dan akses utamanya sangat berisiko, pihak sekolah justru mencatat adanya lonjakan yang signifikan pada penerimaan siswa baru tahun ini.
Kepala SDN 10 Lambung Bukit, Haryenti mengungkapkan, jumlah pendaftar atau calon murid baru yang ingin masuk ke sekolah tersebut pada tahun ini justru mengalami peningkatan tajam hingga melebihi kuota.
"Hamdalah, mungkin banyak faktor yang dilihat orangtua sehingga mereka tetap optimis sekolah ini akan diperbaiki, peningkatan daftar siswa tahun ini malah melebihi kuota," ujar Haryenti saat ditemui.
Kepercayaan yang tinggi dari para orangtua murid ini terbilang luar biasa mengingat SDN 10 Lambung Bukit saat ini sedang mengalami keterbatasan fasilitas yang cukup parah.
Baca juga: Pikap Ringsek Adu Kambing dengan Truk Tangki di Solok, Nekat Nyalip di Tikungan Cupak
Akibat bencana banjir bandang kedua yang melanda enam bulan lalu, ada dua ruangan vital yang rusak total dan tidak bisa lagi digunakan, yakni ruang kelas dua dan ruang guru.
Kondisi tersebut memaksa 259 murid yang ada di sekolah ini harus rela berbagi waktu dan ruang belajar dengan menerapkan sistem bergantian atau shift karena kekurangan ruang kelas.
Tidak hanya murid yang terdampak, para guru dan pegawai di SDN 10 Lambung Bukit pun saat ini terpaksa beraktivitas sehari-hari tanpa memiliki ruangan kantor yang layak.
Haryenti menambahkan, pihak sekolah bersama guru terus berupaya memberikan pengawasan ketat di pekarangan sekolah yang tersisa agar anak-anak tidak mendekati area longsor, sehingga para orangtua merasa aman menitipkan anak mereka di tengah segala keterbatasan ini.
Plang seng dan kayu itu berdiri kaku, menutup rapat akses utama menuju gerbang Sekolah Dasar Negeri (SDN) 10 Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat.
Di baliknya, aspal jalan yang semestinya menjadi pijakan kaki ratusan murid setiap pagi, tampak menganga dan amblas.
Retakan-retakan panjang menjalar liar, merayap perlahan mendekati fondasi gerbang sekolah.
Tepat di hadapan gerbang yang meranggas itu, aliran sungai mengalir tenang. Nyaris tak ada yang mengira, jeram yang tampak damai pada Kamis (2/7/2026) siang tersebut adalah pelaku utama yang menghantam dan mengikis habis tanah penopang sekolah pada akhir tahun lalu.
Hari itu, tak ada riak tawa atau bising langkah kaki anak-anak di pekarangan. SDN 10 Lambung Bukit sedang sepi karena kalender akademik telah memasuki masa libur semester.
Baca juga: Pikap Ringsek Adu Kambing dengan Truk Tangki di Solok, Nekat Nyalip di Tikungan Cupak
Hanya cuaca terik yang menyengat, membakar pemandangan pilu atas sebuah fasilitas pendidikan yang kini kondisinya kian ringkih.
Bagi warga Lambung Bukit, petaka itu datang beruntun. Alam mengirimkan ujiannya sebanyak dua kali. Namun, hantaman banjir bandang kedua pada Desember tahun lalu menjadi pukulan paling telak yang mengubah wajah sekolah ini secara drastis.
"Bencana dua kali terjadi, namun yang membuat amblas sekolah kami itu adalah bencana yang kedua," kenang Kepala SDN 10 Lambung Bukit, Haryenti, saat berbincang di tengah suasana sekolah yang lengang, Kamis (2/7/2026).
Setengah tahun telah berlalu sejak air bah itu menyapu pemukiman dan memutus akses jalan. Selama enam bulan itu pula, para guru dan murid dipaksa berdamai dengan sisa-sisa ruang yang lolos dari amukan banjir, sembari memendam cemas yang tak kunjung padam.
Dampak terjangan air tak main-main. Dua ruangan vital kini lumpuh total dan tidak bisa lagi digunakan untuk aktivitas sehari-hari, yakni ruang kelas dua dan ruang guru.
Baca juga: Pengaspalan Lembah Anai Capai 95 Persen, Sistem Buka Tutup Berlaku hingga 15 Juli 2026
Hilangnya fasilitas ini mengacaukan ritme belajar-mengajar bagi 259 murid yang menggantungkan masa depannya di sekolah ini.
Pihak sekolah tak punya pilihan selain memutar otak agar roda pendidikan tetap berputar. Strategi pembagian waktu belajar (shift) terpaksa diterapkan.
Saat sebagian anak masuk pagi, sebagian lagi harus rela menanti giliran hingga siang hari karena ruang kelas yang tersisa tidak lagi mampu menampung seluruh murid sekaligus.
Sementara itu, para guru kini harus rela bertugas tanpa memiliki ruang kerja yang layak.
Pada satu bulan pertama pascabencana, atmosfer pendidikan di Lambung Bukit sempat limbung. Pembelajaran sempat dialihkan ke metode dalam jaringan (daring) alias belajar dari rumah selama satu minggu.
Namun, di kawasan pinggiran bukit seperti ini, layar gawai tak mampu menggantikan kehadiran guru. Metode daring terbukti tidak efektif.
Baca juga: Polisi Terapkan Buka Tutup Akibat Pengaspalan Jalan di Lembah Anai, Jalur Padang-Bukittinggi Padat
Ketika sekolah kembali dibuka untuk tatap muka, tantangan baru muncul. Karena gerbang utama terkunci oleh amblasnya jalan, anak-anak terpaksa masuk melalui jalan samping yang sempit. Ruang gerak mereka otomatis menjadi sangat terbatas.
"Awalnya rasa ingin tahu anak-anak sangat tinggi. Kami para guru harus mengawasi secara ketat agar tidak ada anak yang penasaran lalu terjatuh ke bekas longsoran itu," kata Haryenti.
Pengawasan ekstra ketat menjadi menu harian para pendidik di sini. Beruntung, setelah berjalan beberapa bulan, naluri adaptasi anak-anak bekerja.
Mereka mulai terbiasa dengan pekarangan yang tersisa, mengenali batas aman mana yang boleh diinjak dan mana yang harus dijauhi.
Namun, adaptasi fisik tidak serta-merta menyembuhkan luka psikologis. Rasa trauma dan takut itu sesungguhnya masih ada, hanya saja beralih rupa menjadi kebiasaan yang dipaksakan oleh keadaan.
Bayang-bayang air bah yang keruh dan gemuruh sungai masih membekas jelas di ingatan kolektif anak-anak.
Baca juga: Longsor Kelok 44 Tak Putus Jalur, BPBD Agam Sebut Kendaraan Masih Bisa Lewat
Ketakutan terbesar justru kerap merayap di benak para guru, pegawai, hingga kepala sekolah.
Setiap kali langit Pauh mulai mendung dan meluruhkan hujan lebat, dada mereka berdesir kencang. Ada kecemasan kolektif bahwa tanah yang tersisa akan kembali amblas dan membawa seluruh bangunan sekolah ikut runtuh.
Sebagai langkah antisipasi keselamatan, pihak sekolah telah menyusun protokol darurat mandiri. "Seandainya cuaca dinilai sudah tidak aman atau curah hujan terlalu tinggi, anak-anak langsung diminta untuk belajar di rumah," ujar Haryenti menegaskan.
Di tengah situasi serba terbatas ini, sebuah anomali yang mengharukan terjadi. Alih-alih ditinggalkan, SDN 10 Lambung Bukit justru kebanjiran peminat pada penerimaan peserta didik baru tahun ini.
Optimisme orangtua wali murid rupanya belum luntur; jumlah pendaftar bahkan melonjak hingga melebihi kuota yang disediakan.
Meski demikian, realita pahit tetap tidak bisa ditutupi. Beberapa orangtua terpaksa mengambil keputusan berat dengan memindahkan anak-anak mereka ke sekolah lain yang lebih jauh.
Alasan mereka pragmatis akses jalan dari rumah menuju sekolah masih banyak yang rusak parah akibat bencana setahun lalu, membuat perjalanan harian menjadi terlampau berisiko bagi keselamatan anak.
Solusi jangka panjang kini bertumpu pada rencana relokasi. Pemerintah Kota Padang dilaporkan tengah berupaya mencari lahan baru.
Proses ini berjalan alot karena di sekitar lokasi sekolah saat ini sudah tidak ada lagi fasilitas umum milik pemerintah yang tersedia, sehingga pemko harus mencari dan menegosiasikan pembelian tanah milik warga.
Enam bulan adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah ketidakpastian. Harapan besar kini digantungkan pada pundak pemerintah agar proses perbaikan atau relokasi bisa dipercepat, demi mengembalikan kenyamanan proses belajar mengajar yang hilang.
Sembari menanti kepastian dari pemangku kebijakan, para guru di SDN 10 Lambung Bukit memilih untuk terus bertahan di garis depan.
Para guru berjanji akan terus merawat dan menjaga anak-anak, memastikan bahwa di tengah pekarangan yang sempit dan ancaman longsor yang mengintai, trauma masa lalu tidak akan merebut masa depan anak-anak Lambung Bukit.
Sudah sepekan lamanya pedagang basemen Blok II dan Blok III Pasar Raya Padang menempati lapak sementara di area lobi basemen Blok III, Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.
Relokasi sementara ini dilakukan menyusul langkah Pemerintah Kota (Pemko) Padang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) yang tengah melakukan revitalisasi Pasar Raya Padang.
Salah satu pedagang, Erik mengatakan bahwa ia sudah mulai berjualan di lapak sementara selama sepekan.
"Kami mulai berjualan sudah seminggu di sini," kata Erik saat ditemui di lapak sementara, Kamis (2/7/2026).
Baca juga: Dubalang Kelurahan di Padang Selatan Ditangkap Usai Curi 93 Kg Cengkeh, Diduga Sudah 4 Kali Beraksi
Ia menyebut, sebelum pindah, pedagang diminta mencabut nomor lotting untuk menentukan tempat berjualan.
Setelah nomor lotting dicabut, akhirnya pedagang menempati lapak sesuai yang sudah ditentukan.
"Sistem pindah lapak sementara kemarin, dilakukan lotting. Sebelumnya di sini, sudah diberi garis merah, dan nomor," ujarnya.
Namun di lapak sementara, tidak disediakan fasilitas penunjang penjualan bagi pedagang.
Erik mengaku hanya disediakan bangunan yang diberi pondasi balok kayu dan seng.
Baca juga: Pengendalian Inflasi Jadi PR Padang Pariaman, Bank Indonesia Minta Penguatan Ketahanan Pangan
Selain itu, ukuran lapak untuk satu pedagang, diberi tanda dengan garis merah.
"Tidak disediakan fasilitas, meja saya buat sendiri, karena menyesuaikan ukuran dengan lapak di sini yang agak kecil," keluhnya.
Ia menambahkan, rata-rata pedagang membuat meja baru untuk berjualan di lapak sementarar Pasar Raya Padang.
Tetapi, sebagian kecil lainnya membawa meja lama dari basemen Blok II dan Blok III Pasar Raya Padang.
"Sebagian pedagang membawa meja dari basemen. Tapi lebih banyak yang buat sendiri. Tapi, penjualan di sini lumayan, ada pelanggan lama dan baru yang berbelanja," katanya.
Baca juga: Pendaftar SDN 10 Lambung Bukit Padang Membeludak Malah Melebihi Kuota padahal Akses Jalan Amblas
Senada, pedagang lainnya bernama Eli Marlina. Ia menyebut kepindahan penjualan ke lapak sementara sudah dimulai sejak Jumat (26/7/2026) lalu.
Kata dia, fasilitas di lapak tersebut tidak disediakan, sehingga ia harus membuat meja baru untuk berjualan kue.
"Tidak ada disediakan, saya terpaksa buat baru untuk memasak kue," jelasnya.
Akan tetapi, ia mengaku penjualan di lapak sementara cukup ramai. Hal ini kata Eli, dikarenakan posisinya lebih terbuka dan banyak dilihat pembeli.
"Lumayan ramai, mungkin karena lebih terbuka, jadi gampang dilihat pembeli saat ke Pasar Raya," tutupnya.
Sebelumnya,Pemerintah Kota (Pemkot) Padang akan mulai memberlakukan rekayasa dan pengalihan arus lalu lintas di kawasan Pasar Raya Padang mulai Senin (29/6/2026) hingga 30 Desember 2026.
Pengalihan arus tersebut dilakukan untuk mendukung pelaksanaan proyek Revitalisasi Kawasan Pasar Raya Padang yang saat ini memasuki tahap konstruksi.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang, Fizlan Setiawan, mengatakan rekayasa lalu lintas dilakukan berdasarkan surat Dinas Perhubungan Kota Padang Nomor 500.11.6/552/Dishub-Pd/2026 tanggal 25 Juni 2026 tentang Rekayasa Lalu Lintas Masa Konstruksi Revitalisasi Pasar Raya.
Menurutnya, pengaturan arus kendaraan diperlukan agar pekerjaan revitalisasi dapat berjalan lancar tanpa mengabaikan keselamatan masyarakat yang beraktivitas di kawasan pusat perdagangan terbesar di Kota Padang tersebut.
Baca juga: SAR Padang Keluarkan Imbauan Penting untuk Pengunjung Pantai dan Sungai Saat Libur Sekolah
"Rekayasa lalu lintas ini diberlakukan mulai 29 Juni hingga 30 Desember 2026. Kami mengimbau seluruh pengguna jalan untuk mengantisipasi perjalanan, mematuhi rambu-rambu yang telah dipasang serta mengikuti arahan petugas di lapangan," ujar Fizlan, Minggu (28/6/2026).
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang mungkin timbul selama proses pembangunan berlangsung.
"Kami berharap dukungan dan kerja sama seluruh masyarakat sehingga revitalisasi Pasar Raya Padang dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat," katanya.
Dalam skema rekayasa lalu lintas yang telah disusun, terdapat sejumlah ruas jalan yang akan ditutup selama masa konstruksi.
Penutupan utama berada di ruas jalan depan Masjid Taqwa Muhammadiyah hingga kawasan Sentral Pasar Raya (SPR). Ruas tersebut ditutup total sehingga kendaraan tidak dapat lagi melintas menuju lokasi proyek.
Selain itu, akses menuju Jalan Belakang Lintas dan Jalan Belakang Tangsi juga dibatasi dengan pemasangan rambu larangan (verboden), sehingga hanya kendaraan tertentu yang dapat melintas sesuai pengaturan petugas.
Baca juga: Penggerebekan Pesta Sabu di Pondok Pinggir Jalan Sijunjung, Satu Pelaku Nekat Melawan Lalu Kabur
Bagi masyarakat yang datang dari arah Jalan Pemuda maupun Jalan Diponegoro, perubahan rute cukup signifikan.
Sebelumnya kendaraan dapat melaju lurus menuju kawasan Sentral Pasar Raya. Namun selama proyek berlangsung, jalur tersebut ditutup sehingga pengendara tidak diperbolehkan lagi melintas lurus ke arah SPR.
Sebagai gantinya, seluruh kendaraan wajib berbelok ke kiri menuju Jalan Bandar Olo.
Setelah memasuki Jalan Bandar Olo, pengendara dapat memilih dua jalur untuk menuju kawasan Pasar Raya, yakni melalui Jalan Pasar Raya I, atau Jalan Pasar Raya II.
Kedua ruas tersebut menjadi akses utama menuju pusat aktivitas perdagangan selama penutupan jalan berlangsung.
Selain dua jalur tersebut, masyarakat juga masih dapat memanfaatkan jalan di samping Gedung IWAPI maupun jalan belakang Sentral Pasar Raya (SPR) sebagai jalur alternatif apabila kondisi lalu lintas padat.
Baca juga: Antre Sejam Asal Tangki Penuh Solar, Sopir Truk: Daripada di Tengah Jalan Pusing dan Mengantre Lagi
Sementara itu, kendaraan yang datang dari arah Jalan Bandar Belakang Tangsi tidak lagi dapat langsung menuju kawasan proyek.
Pengendara akan diarahkan berbelok ke Jalan Adhyaksa, kemudian memutar melewati Jalan Belakang Tangsi untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing.
Rekayasa ini dilakukan agar kendaraan tidak memasuki area konstruksi yang sedang dikerjakan.
Perubahan arus juga berlaku bagi kendaraan dari arah Jalan Bundo Kanduang. Akses langsung menuju kawasan Air Mancur Pasar Raya ditutup di dekat lokasi proyek sehingga kendaraan tidak dapat lagi melintas melalui jalur tersebut.
Pengguna jalan diminta mengikuti petunjuk arah yang telah dipasang maupun arahan petugas di lapangan untuk memilih jalur alternatif yang tersedia.
Baca juga: Residivis Curanmor di Sijunjung Tak Berkutik Ditangkap Polisi, Sembunyikan Sabu dalam Kotak Rokok
Pengaturan lalu lintas juga diberlakukan bagi kendaraan yang datang dari arah Kantor Balai Kota Padang Lama atau melalui Jalan M. Yamin.
Selama masa pembangunan, akses lurus dari Jalan M. Yamin menuju ujung Jalan Pasar Raya atau kawasan bundaran Air Mancur ditutup total demi keamanan proyek.
Sebagai penggantinya, kendaraan harus berbelok ke kanan sebelum titik penutupan, kemudian masuk ke Jalan Sandang Pangan.
Jalur tersebut melewati depan Kantor Balai Kota Padang Lama serta samping Gedung Fase VII Pasar Raya, sebelum kembali menuju kawasan Pasar Raya melalui ruas jalan yang masih dibuka.
Baca juga: Mandi di Pantai Gasan Gadang Padang Pariaman, Remaja 13 Tahun Asal Pekanbaru Tewas Terseret Ombak
Fizlan mengimbau masyarakat agar menyesuaikan waktu keberangkatan selama rekayasa lalu lintas berlangsung karena potensi kepadatan kendaraan diperkirakan meningkat pada jam-jam sibuk.
Selain itu, pengguna jalan diminta memperhatikan seluruh rambu pengalihan yang telah dipasang, menggunakan jalur alternatif yang telah disiapkan, serta mengikuti arahan petugas demi menjaga kelancaran arus lalu lintas.
Menurutnya, rekayasa lalu lintas ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung percepatan pembangunan kawasan Pasar Raya agar nantinya menjadi pusat perdagangan yang lebih tertata, aman, nyaman, dan representatif bagi pedagang maupun masyarakat yang berbelanja.(*)