Membangun Manusia, Menguatkan Budaya Kerja, Menyongsong NTB Makmur Mendunia
Idham Khalid July 03, 2026 10:21 AM

Oleh: Muhamad Ihwan
Penulis adalah Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Di sepanjang sejarah, tidak ada peradaban besar yang lahir hanya karena kekayaan alamnya. Bangsa-bangsa yang mampu bertahan dan memimpin perubahan adalah bangsa yang berhasil membangun manusia, memperkuat institusinya, serta menjadikan kebudayaan sebagai fondasi kehidupan bersama. Alam menyediakan potensi, tetapi manusialah yang menentukan apakah potensi itu akan menjadi kemakmuran atau sekadar menjadi cerita tentang kesempatan yang terlewatkan.

Di tengah perkembangan global yang berlangsung begitu cepat, pelajaran itu menjadi semakin relevan bagi Nusa Tenggara Barat. Revolusi digital, kecerdasan artifisial, ekonomi hijau, dan pergeseran rantai pasok global sedang mengubah cara manusia bekerja dan cara daerah bersaing. Keunggulan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya alam terbesar, tetapi oleh siapa yang memiliki sumber daya manusia yang paling adaptif, kreatif, berintegritas, dan mampu belajar sepanjang hayat.

Dalam konteks itulah visi NTB Makmur Mendunia memperoleh makna yang jauh lebih dalam. Visi tersebut bukan semata-mata berbicara tentang meningkatnya investasi, tumbuhnya industri, atau bertambahnya infrastruktur. Lebih dari itu, visi tersebut merupakan ikhtiar membangun sebuah peradaban baru di Nusa Tenggara Barat, peradaban yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, kebudayaan sebagai roh kehidupan, dan tata kelola pemerintahan sebagai penggerak perubahan.

Karena itu, reformasi birokrasi perlu dipahami bukan sekadar sebagai penataan organisasi pemerintahan. Reformasi birokrasi adalah upaya membangun kepercayaan. Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, kepercayaan dunia usaha untuk berinvestasi, dan kepercayaan generasi muda bahwa masa depan dapat dibangun di tanah kelahirannya sendiri.

Tidak ada investasi yang tumbuh di atas ketidakpastian. Tidak ada industri yang berkembang tanpa tata kelola yang baik. Dan tidak ada lapangan kerja yang berkelanjutan tanpa ekosistem pemerintahan yang profesional, cepat, transparan, dan akuntabel. Dengan demikian, pembenahan birokrasi bukanlah tujuan akhir, melainkan fondasi agar seluruh sektor pembangunan dapat bergerak lebih cepat dan lebih berkualitas.

Baca juga: Dari Tari hingga Kuliner, Penampilan NTB Curi Perhatian di Festival Budaya Nusantara 2026

Namun fondasi yang kokoh saja belum cukup. Rumah yang megah tetap membutuhkan penghuni yang mampu merawat dan mengembangkannya. Demikian pula pembangunan daerah. Infrastruktur, kawasan industri, investasi, maupun teknologi baru hanya akan memberikan manfaat optimal apabila masyarakatnya telah siap menjadi pelaku utama.

Di sinilah Nusa Tenggara Barat sedang memasuki momentum yang sangat menentukan.

Jumlah penduduk usia produktif terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa angkatan kerja NTB telah mencapai lebih dari tiga juta orang, dengan tren pekerja formal yang terus membaik. Bonus demografi ini merupakan jendela sejarah yang tidak datang dua kali. Ia dapat menjadi lompatan besar menuju kemakmuran, tetapi juga dapat berubah menjadi tantangan apabila kualitas sumber daya manusianya tidak berkembang secepat perubahan ekonomi.

Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan peluang. Pembangunan juga harus memastikan bahwa masyarakat NTB memiliki kemampuan untuk mengisi peluang tersebut.

Di sinilah saya memandang bahwa pembangunan ekonomi sesungguhnya adalah juga pembangunan kebudayaan.

Mengapa demikian?

Karena dunia kerja masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki ijazah atau sertifikat. Dunia membutuhkan manusia yang mampu bekerja sama, menghargai waktu, memiliki integritas, cepat belajar, terbuka terhadap perubahan, kreatif, mampu berkomunikasi, serta sanggup memecahkan persoalan. Seluruh kualitas itu tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh melalui proses panjang yang disebut kebudayaan.

Budaya kerja pada hakikatnya adalah kebudayaan.

Etos berkarya adalah kebudayaan.

Integritas adalah kebudayaan.

Kemampuan berkolaborasi adalah kebudayaan.

Semangat belajar sepanjang hayat juga merupakan kebudayaan.

Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang pemajuan kebudayaan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang pembangunan manusia. Kita sedang membangun karakter yang kelak menentukan daya saing daerah.

Nusa Tenggara Barat beruntung memiliki warisan nilai yang luar biasa.

Masyarakat Sasak mengenal falsafah Patut Patuh Patju, yang mengajarkan kepantasan dalam bersikap, kepatuhan pada nilai-nilai kebaikan, serta semangat untuk terus maju melalui kerja keras dan ikhtiar. Dalam bahasa pembangunan modern, nilai tersebut dapat diterjemahkan sebagai profesionalisme, disiplin, kepatuhan terhadap standar, dan keberanian untuk terus meningkatkan kualitas diri.

Masyarakat Samawa mewariskan falsafah Sabalong Samalewa, sebuah pandangan hidup yang menempatkan keseimbangan, kebersamaan, dan kemanfaatan sebagai dasar kehidupan. Nilai ini mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh meninggalkan harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan sosial. Ketika dunia kini berbicara tentang pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau, masyarakat Samawa sesungguhnya telah lama memiliki kearifan yang sejalan dengan arah perkembangan dunia.

Sementara itu, masyarakat Mbojo memegang teguh falsafah Maja Labo Dahu, rasa malu untuk berbuat salah dan keberanian menjunjung kebenaran, yang dipadukan dengan Nggahi Rawi Pahu, keselarasan antara ucapan dan tindakan. Nilai-nilai tersebut membentuk integritas, tanggung jawab, dan konsistensi karakter yang menjadi fondasi bagi kepemimpinan, dunia usaha, maupun pelayanan publik.

Keempat falsafah itu lahir dari ruang budaya yang berbeda, tetapi bertemu pada tujuan yang sama: membentuk manusia yang berkarakter, dapat dipercaya, menghormati sesama, bekerja keras, dan selalu berusaha memberikan manfaat bagi lingkungannya.

Inilah modal sosial terbesar yang dimiliki NTB.

Jika nilai-nilai tersebut mampu diterjemahkan menjadi budaya kerja modern, maka masyarakat NTB tidak hanya memiliki identitas budaya yang kuat, tetapi juga memiliki keunggulan kompetitif yang akan sulit ditiru oleh daerah lain.

Di era ketika teknologi dapat dibeli, mesin dapat didatangkan, dan modal dapat berpindah dengan cepat, justru karakter manusialah yang menjadi pembeda utama. Di sinilah kebudayaan tidak lagi berdiri di pinggir pembangunan, tetapi berada di jantungnya

Melihat dari perspektif tersebut, pemajuan kebudayaan tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai upaya melestarikan tradisi atau menjaga warisan leluhur. Pemajuan kebudayaan sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas manusia. Bangunan fisik dapat selesai dalam beberapa tahun, tetapi membangun karakter membutuhkan waktu lintas generasi.

Karena itu, museum, taman budaya, kawasan cagar budaya, desa adat, manuskrip kuno, bahasa daerah, seni pertunjukan, permainan rakyat, pengetahuan tradisional, hingga festival budaya tidak boleh dipandang sebagai pelengkap pembangunan. Seluruhnya adalah ruang belajar yang membentuk cara berpikir, cara bekerja, dan cara hidup masyarakat.

Museum, misalnya, bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda masa lalu. Museum adalah pusat pengetahuan yang mengajarkan bahwa sebuah bangsa menjadi besar karena mampu belajar dari sejarahnya. Taman Budaya bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan laboratorium kreativitas tempat gagasan, inovasi, dan talenta muda bertumbuh. Festival budaya bukan hanya agenda seremonial tahunan, tetapi ruang bertemunya pelaku seni, pelaku usaha, komunitas, wisatawan, dan masyarakat dalam sebuah ekosistem ekonomi yang produktif.

Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa ekonomi masa depan semakin bertumpu pada kreativitas dan identitas. Wisatawan tidak lagi sekadar mencari panorama alam, tetapi pengalaman budaya yang otentik. Produk ekonomi kreatif memperoleh nilai tinggi bukan karena bahan bakunya semata, tetapi karena cerita, filosofi, dan identitas budaya yang melekat di dalamnya. Kota-kota yang berhasil membangun ekonomi kreatif dunia hampir selalu memulai langkahnya dengan memperkuat ekosistem kebudayaan.

NTB memiliki seluruh modal tersebut.

Kita memiliki kekayaan budaya Sasak, Samawa, dan Mbojo yang hidup di tengah masyarakat. Kita memiliki Gunung Rinjani, Tambora, Teluk Saleh, Samota, Mandalika, serta ratusan desa budaya yang menyimpan pengetahuan lokal tentang pengelolaan alam, kehidupan sosial, arsitektur tradisional, pangan lokal, seni pertunjukan, dan kearifan hidup yang telah teruji oleh zaman. Semua itu bukan hanya aset kebudayaan, tetapi juga modal ekonomi masa depan apabila dikelola secara profesional, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, pemajuan kebudayaan harus berjalan seiring dengan pembangunan sektor-sektor lainnya. Ketika pertanian berkembang, kebudayaan menghadirkan nilai tambah melalui pangan lokal, tradisi agraris, dan identitas produk. Ketika pariwisata tumbuh, kebudayaan menghadirkan pengalaman yang membedakan NTB dengan daerah lain. Ketika industri kreatif berkembang, kebudayaan menjadi sumber inspirasi lahirnya karya-karya baru. Bahkan ketika investasi masuk, kebudayaan berperan membentuk masyarakat yang terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan jati dirinya.

Inilah yang saya sebut sebagai pembangunan yang berakar pada kebudayaan.

Pembangunan seperti ini tidak memisahkan ekonomi dari manusia, tidak memisahkan investasi dari karakter, dan tidak memisahkan kemajuan dari identitas. Sebab pada akhirnya, pembangunan bukan hanya soal meningkatkan pendapatan, melainkan juga meningkatkan martabat manusia.

Oleh karena itu, tantangan terbesar masyarakat NTB beberapa tahun ke depan bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu mengisi ruang-ruang produktif yang sedang tumbuh.

Generasi muda NTB perlu membangun budaya belajar sepanjang hayat. Mereka perlu menguasai teknologi digital, kecerdasan artifisial, bahasa asing, literasi keuangan, kewirausahaan, serta berbagai keterampilan baru yang terus berkembang. Dunia kerja akan terus berubah, sehingga kemampuan belajar menjadi lebih penting daripada sekadar menguasai satu jenis pekerjaan.

Namun kemampuan teknis saja tidak cukup.

Perusahaan-perusahaan terbaik di dunia justru semakin menekankan pentingnya karakter. Integritas, kemampuan bekerja dalam tim, kepemimpinan, empati, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi merupakan kompetensi yang semakin dibutuhkan. Menariknya, nilai-nilai tersebut telah lama hidup dalam kebudayaan masyarakat NTB. Tugas kita hari ini adalah menerjemahkannya ke dalam bahasa pembangunan modern sehingga menjadi kekuatan nyata dalam meningkatkan daya saing daerah.

Di sinilah peran pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, dunia usaha, komunitas, dan keluarga bertemu dalam satu tujuan besar, yaitu membangun manusia NTB yang unggul. Pemerintah menyiapkan tata kelola yang baik dan iklim investasi yang sehat. Dunia pendidikan meningkatkan kualitas pembelajaran. Dunia usaha membuka ruang magang, pelatihan, dan kesempatan berkarya. Sementara masyarakat terus menumbuhkan budaya belajar, budaya bekerja, dan budaya berinovasi.

Kebudayaan menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh proses tersebut.

Ia membentuk karakter aparatur yang melayani dengan integritas.

Ia melahirkan wirausahawan yang kreatif dan jujur.

Ia membentuk pekerja yang disiplin dan bertanggung jawab.

Ia melahirkan pemimpin yang memahami bahwa kemajuan harus menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.

Dengan cara pandang seperti ini, pemajuan kebudayaan bukan lagi menjadi urusan satu perangkat daerah. Ia menjadi gerakan bersama untuk membangun kualitas manusia NTB.

Pada akhirnya, cita-cita NTB Makmur Mendunia bukan hanya tentang menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau investasi yang terus meningkat. Lebih dari itu, ia adalah ikhtiar membangun peradaban yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, kebudayaan sebagai fondasi karakter, dan kolaborasi sebagai kekuatan utama.

Kita ingin menyaksikan semakin banyak putra-putri NTB menjadi ilmuwan, seniman, insinyur, guru, petani modern, pelaku ekonomi kreatif, pengusaha, birokrat, dan pemimpin yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Kita ingin mereka berdiri tegak di panggung dunia dengan membawa kompetensi global sekaligus identitas lokal yang kuat.

Sebab mendunia bukan berarti menjadi seperti orang lain.

Mendunia adalah menghadirkan yang terbaik dari diri kita kepada dunia.

Ketika Patut Patuh Patju melahirkan profesionalisme, Sabalong Samalewa melahirkan kolaborasi dan keseimbangan, Maja Labo Dahu melahirkan integritas, serta Nggahi Rawi Pahu melahirkan konsistensi antara kata dan perbuatan, sesungguhnya masyarakat NTB telah memiliki fondasi moral dan budaya yang sangat kuat untuk menghadapi masa depan.

Di atas fondasi itulah reformasi birokrasi memperoleh maknanya, investasi menemukan tujuannya, kesempatan kerja semakin terbuka, dan pembangunan ekonomi bergerak menuju kesejahteraan yang berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, kekayaan alam dapat diwariskan, infrastruktur dapat dibangun, teknologi dapat dibeli, tetapi hanya kebudayaan yang mampu melahirkan manusia-manusia unggul yang akan menjaga, mengembangkan, dan membawa Nusa Tenggara Barat melangkah mantap menuju cita-cita besarnya: Makmur Mendunia.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.