TRIBUNSUMSEL.COM -- Saat mengisi Survei Nasional Supervisi Pengelolaan Kinerja Guru Tahun 2026, Ibu/Bapak Guru akan bertemu dengan salah satu pertanyaan yang harus diselesaikan.
Pertanyaan tersebut berupa "Kendala atau Hambatan apa Saja yang Dialami Ibu Bapak Selama Proses Penilaian Kinerja?"
Untuk membantu Ibu/Bapak Guru dalam menyelesaikan pertanyaan ini, berikut akan Tribunsumsel.com sajikan beberapa contoh kunci jawabannya sebagai referensi.
_____
>> Kendala atau Hambatan apa Saja yang Dialami Ibu Bapak Selama Proses Penilaian Kinerja?
[Kunci Jawaban;]
Selama menjalani proses penilaian kinerja, saya mengalami sejumlah kendala yang secara nyata menghambat efektivitas dan kelancaran pelaksanaannya.
Kendala-kendala tersebut muncul dari aspek teknis maupun non-teknis, yang jika tidak ditangani secara sistematis, berpotensi menurunkan kualitas hasil penilaian.
Dari sisi teknis, hambatan utama adalah performa sistem yang sering kali lambat dan tidak stabil.
Ketika sistem digunakan secara bersamaan oleh banyak pengguna, terutama pada masa puncak pengisian, sering terjadi lag bahkan error yang menyebabkan proses input data terganggu.
Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan infrastruktur jaringan internet, khususnya di sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil.
Internet yang tidak stabil membuat guru harus mengulang proses unggah atau kehilangan data yang sudah diinput, sehingga menghabiskan waktu lebih banyak daripada yang semestinya.
Selain itu, kerumitan dalam memahami istilah dan indikator penilaian turut menjadi hambatan signifikan.
Banyak komponen dalam sistem yang tidak dijelaskan secara detail, sehingga menimbulkan kebingungan dalam interpretasi.
Tanpa panduan yang jelas, saya—dan mungkin juga guru lainnya—berisiko salah menafsirkan instrumen penilaian, yang pada akhirnya bisa memengaruhi objektivitas dan akurasi laporan kinerja.
Ketiadaan pelatihan teknis yang menyeluruh semakin memperbesar tantangan ini. Bagi guru yang belum terbiasa dengan platform digital atau belum mendapatkan bimbingan khusus, sistem ini menjadi beban tambahan, bukan alat bantu.
Seharusnya, penguasaan terhadap alat ukur kinerja ini diperkuat terlebih dahulu melalui pelatihan yang terstruktur, bukan diserahkan sepenuhnya pada inisiatif individu.
Dari sisi non-teknis, keterbatasan waktu menjadi kendala nyata. Pengisian data kinerja dan unggah bukti pendukung membutuhkan ketelitian dan waktu luang yang cukup.
Namun, realitanya, tugas tersebut harus dilakukan di sela-sela rutinitas mengajar, menyusun perangkat pembelajaran, mengikuti pelatihan, dan memenuhi kewajiban administratif lainnya.
Dalam situasi seperti ini, beban kerja guru menjadi tidak proporsional dan dapat mengganggu fokus terhadap proses pembelajaran itu sendiri.
Lebih jauh lagi, ketika terjadi gangguan pada sistem, respons dari tim teknis sering kali lambat.
Tanpa kehadiran petugas pendamping atau operator sekolah yang siap membantu, guru menjadi harus menyelesaikan kendala teknis sendiri, yang tentu tidak semua mampu melakukannya.
Hal ini menunjukkan bahwa dukungan teknis dan koordinasi antar pihak masih perlu diperkuat agar proses penilaian berjalan optimal.
Dengan berbagai kendala tersebut, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pelaksanaan penilaian kinerja tidak hanya bergantung pada kemauan individu, tetapi juga sangat ditentukan oleh kesiapan sistem, kejelasan instrumen, serta dukungan teknis dan manajerial yang memadai.
___
Selama proses penilaian kinerja, saya mengalami beberapa kendala baik dari sisi teknis maupun non-teknis.
Dari sisi teknis, akses ke sistem terkadang lambat atau tidak stabil, terutama ketika diakses bersamaan oleh banyak pengguna atau ketika koneksi internet di daerah saya sedang lemah.
Hal ini menyebabkan proses penginputan data menjadi terhambat.
Selain itu, saya juga menemui kesulitan dalam memahami beberapa istilah atau indikator penilaian yang kurang dijelaskan secara rinci di dalam sistem.
Kurangnya pelatihan atau sosialisasi juga menjadi hambatan tersendiri, khususnya bagi guru-guru yang belum terbiasa dengan sistem digital atau aplikasi berbasis daring.
Dari sisi waktu, proses pengisian dan pengumpulan bukti dokumen seringkali bersamaan dengan tugas-tugas lain seperti mengajar, membuat perangkat ajar, dan mengikuti program sekolah lainnya.
Hal ini menyebabkan beban kerja terasa cukup berat, apalagi jika tidak ada bantuan teknis dari operator atau rekan sejawat.
Kendala lainnya adalah belum tersedianya pendampingan teknis yang cukup saat terjadi error atau kendala dalam sistem.
Kadang butuh waktu lama untuk mendapatkan bantuan atau respons dari tim teknis, yang berdampak pada keterlambatan dalam penyelesaian pengisian.
___
Salah satu kendala utama yang sering dikeluhkan guru adalah beban administrasi yang cukup berat selama proses penilaian kinerja.
Pengisian dokumen, laporan, dan bukti pendukung sering kali memakan waktu cukup lama, sehingga mengurangi fokus guru pada tugas utama yaitu mengajar.
Hal ini diperparah dengan kurangnya pelatihan dan pendampingan terkait sistem penilaian yang baru, sehingga guru merasa kewalahan dan kurang memahami prosedur yang harus dijalankan.
Banyak guru mengalami kesulitan karena minimnya sosialisasi dan pemahaman tentang mekanisme penilaian kinerja.
Sistem yang terus diperbarui tanpa pendampingan yang memadai membuat guru bingung saat mengisi instrumen penilaian, termasuk dalam penggunaan platform digital seperti e-Kinerja.
Akibatnya, proses penilaian menjadi tidak optimal dan kurang akurat.
Beberapa guru dan kepala sekolah mengeluhkan bahwa kriteria penilaian kinerja masih terlalu umum dan kurang spesifik, sehingga membuka celah subjektivitas dalam penilaian.
Variasi standar antar evaluator juga menjadi persoalan, karena perbedaan interpretasi bisa menghasilkan nilai yang tidak konsisten.
Hal ini menimbulkan ketidakpuasan dan kebingungan di kalangan guru.
(Tribunsumsel/Putri Kusuma Rinjani)
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com