Antrean Sawit di Mamuju Tengah Makin Membludak, Kini Tembus ke Jalan Trans Poros Sulawesi
Nurhadi Hasbi July 03, 2026 01:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH - Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Mamuju Tengah merespons keluhan masyarakat terkait antrean panjang kendaraan pengangkut tandan buah segar (TBS) yang mengular hingga ke Jalan Trans Sulawesi.

Kepala Dishub Mamuju Tengah, Bahtiar, menyebut transportasi merupakan urat nadi perekonomian daerah.

Ia menegaskan setiap perusahaan kelapa sawit telah memiliki Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin).

Andalalin tersebut mengatur aspek keselamatan dan ketertiban di sekitar lingkungan perusahaan.

Baca juga: Menko Pangan Zulhas Kunjungi Mamuju, Dialog dengan Petani di Kalukku Bahas Pupuk hingga Harga Gabah

Baca juga: Petani Sawit di Pasangkayu Mengeluh, Antrean Pabrik Belum Terurai, Banyak Timbangan Tutup

"Transportasi adalah urat nadi perekonomian daerah. Perusahaan sawit ini sudah punya Andalalin, jadi ada safety untuk mengamankan seluruh lingkungannya yang ada di sekitar perusahaan," ujar Bahtiar, Jumat (3/7/2026).

Dishub Siapkan Penanganan di Lapangan

Untuk mengatasi kepadatan kendaraan pemuat TBS yang kerap terjadi di pabrik kelapa sawit, Dishub mengambil sejumlah langkah.

Di antaranya dengan menurunkan personel di setiap perusahaan apabila terjadi antrean yang berpotensi menimbulkan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas.

"Terutama di jalan poros lintas provinsi," ungkapnya.

"Kami akan terjunkan personel, namun menyesuaikan dengan kondisi efisiensi anggaran yang dirasakan saat ini," jelasnya.

Selain itu, Bahtiar meminta agar seluruh tenaga keamanan atau security di perusahaan kelapa sawit diberdayakan secara maksimal untuk mengatur lalu lintas kendaraan pengangkut TBS, terutama saat antrean sudah meluber hingga ke jalur Trans Sulawesi.

Faktor utama antrean ini adalah perbedaan harga beli TBS antarperusahaan serta akses pengiriman.

Antrean truk sawit dari petani lokal menuju perusahaan di Mamuju Tengah makin membludak
ANTREAN KENDARAAN TBS - Kepala Dishub Mamuju Tengah, Bahtiar, saat ditemui di halaman Kantor DPRD Mamuju Tengah, Jl. Tammauni Pue Ballung, Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Jumat (3/7/2026).

Antrean tersebut tidak hanya berasal dari petani lokal, tetapi juga dari wilayah Polewali Mandar, Majene, Mamuju, hingga Sulawesi Selatan.

Kondisi ini mendorong DPRD Mamuju Tengah memanggil lima perusahaan sawit untuk mencari solusi, termasuk penambahan jam operasional pabrik agar antrean tidak terus menumpuk dan mengganggu arus lalu lintas masyarakat. (*)

Laporan wartawan Tribun Sulbar, Sandi Anugrah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.