TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui Jakarta sampai saat ini belum bisa lepas dari masalah kemacetan yang selama ini sudah jadi momok bagi warga Ibu Kota.
Pramono mengungkap salah satu penyebab kemacetan kronis di Ibu Kota adalah tingginya mobilitas para komuter dari daerah penyangga.
Setiap harinya, kurang lebih ada 4 juta orang datang ke Jakarta untuk bekerja dan beraktivitas, lalu kembali ke daerah asalnya pada sore hingga malam hari.
“Kemacetan di Jakarta terjadi karena banyak faktor. Tapi yang paling, salah satu yang paling utama adalah ketika pada pagi hari kurang lebug 3,5 sampai 4 juta orang datang bekerja di Jakarta, beraktivitas di Jakarta, dan ketika sore, malam hari kembali ke kediamannya masing-masing,” ucapnya di Balai Kota Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, selama ini mayoritas masyarakat masih mengandalkan kendaraan pribadi untuk bepergian ke Jakarta.
Karena itu, Pemprov DKI berupaya mengubah pola mobilitas warga agar beralih ke transportasi umum.
Pramono mengatakan, salah satu strategi yang ditempuh adalah memperluas jaringan angkutan umum hingga ke wilayah penyangga melalui layanan Transjabodetabek.
Sejumlah rute baru telah dibuka, mulai dari Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, Blok M-Bogor, hingga rute yang menghubungkan Jakarta dengan Bekasi dan Karawang.
“Transportasinya tidak lagi menggunakan pribadi, tetapi bagaimana orang kemudian menggunakan transportasi umum,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak warga yang meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan angkutan massal untuk mengurangi kemacetan di Ibu Kota.
Konektivitas Sudah 93 Persen, Pengguna Angkutan Umum Baru 28 Persen
Pramono mengungkapkan, tingkat konektivitas transportasi di Jakarta saat ini telah mencapai 93 persen.
Namun, jumlah masyarakat yang rutin menggunakan transportasi umum masih tergolong rendah.
“Konektivitas Jakarta sebenarnya sudah 93 persen. Tetapi yang menggunakan terus-menerus, menurut saya data terakhir mungkin baru sekitar 27-28 persen,” katanya.
Meski demikian, angka tersebut dinilai sudah memberikan dampak positif terhadap kondisi lalu lintas Jakarta.
Pramono juga menyinggung capaian Jakarta di sektor transportasi yang kini mendapat pengakuan internasional.
“Hal itu tergambarkan dari hasil lembaga dunia yang kredibel mengenai transportasi menempatkan Jakarta sekarang ini sudah menjadi kota nomor dua di ASEAN setelah Singapura. Di Asia menjadi kota nomor 8, di dunia nomor 17,” ucapnya.