Kue Lawas Plemben Khas Jombang Tetap Diburu Warga saat Bulan Suro, Cita Rasa Warisan Leluhur
Alga W July 03, 2026 02:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Aroma manis menguar memenuhi rumah sederhana di Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Aroma tersebut menguar dari loyang berisi plemben yang dikeluarkan dari tungku satu per satu.

Baca juga: Tertipu Lowongan Kerja Kernet Truk di Facebook, Zidan Pemuda Jombang Terpaksa Kehilangan Motor

Di meja kayu, kue-kue berwarna kecokelatan tersebut segera dikemas sebelum dibawa pembeli yang sejak pagi silih berganti datang.

Kesibukan seperti ini hanya terjadi pada musim-musim tertentu, dan Bulan Suro selalu menjadi salah satunya.

Ketika sebagian pelaku usaha kuliner berlomba menciptakan menu baru demi mengikuti tren, Setyaningsih justru memilih bertahan dengan resep lama yang diwariskan keluarganya.

Ia tidak mengubah rasa, bentuk, maupun cara pembuatannya.

Baginya, plemben bukan sekadar kue, melainkan jejak sejarah keluarga yang harus tetap hidup.

Usaha tersebut telah berlangsung lintas generasi.

Setyaningsih mengaku tidak mengetahui pasti kapan pertama kali keluarganya mulai membuat plemben.

Yang ia ingat, usaha ini sudah ada sejak masa buyutnya, diteruskan kepada sang ibu, hingga kini menjadi tanggung jawabnya.

"Yang saya tahu, ini sudah dari zaman buyut. Setelah ibu, sekarang saya yang meneruskannya," ucap Setyaningsih kepada Tribunjatim.com, Jumat (3/7/2026).

Memasuki Bulan Suro, dapur produksinya nyaris tak pernah sepi.

Tradisi sedekah desa, kenduri, hingga berbagai ritual adat, membuat permintaan plemben dan mawaran meningkat dibanding hari-hari biasa.

"Kue ini masih dipercaya menjadi sajian yang tak terpisahkan dari berbagai kegiatan masyarakat," ujarnya.

Dalam kondisi normal, rumah produksinya mengolah sekitar 50 kilogram tepung terigu setiap bulan.

Namun ketika musim tradisi datang, kebutuhan bahan baku ikut melonjak untuk memenuhi pesanan yang berdatangan.

Menariknya, pelanggan Setyaningsih tidak hanya berasal dari wilayah Bareng atau Kabupaten Jombang.

Plemben buatannya telah dikirim ke sejumlah daerah, mulai Wonosalam, Kota Malang, hingga Kalimantan.

"Pernah menerima pesanan yang dijadikan buah tangan bagi jemaah haji dari Malang," ungkapnya.

Di tengah melimpahnya pilihan camilan modern, plemben tetap memiliki penggemar setia.

Teksturnya yang lembut dengan rasa manis sederhana menghadirkan nostalgia bagi banyak orang.

Bagi sebagian pelanggan, menikmati plemben berarti kembali mengingat suasana masa kecil atau tradisi keluarga yang masih terjaga.

Terjangkau

Harga yang ditawarkan pun tetap ramah di kantong, aneka kue dijual mulai Rp2.000 per buah.

Plemben kemasan dipasarkan sekitar Rp17 ribu per bungkus, kemasan besar Rp25 ribu, sedangkan pembelian satu kilogram dibanderol sekitar Rp60 ribu.

Di rumah produksi yang berada tidak jauh dari kawasan wisata Pandansili tersebut, Setyaningsih percaya, mempertahankan resep lama bukan berarti tertinggal oleh zaman.

Selama masyarakat masih menjaga tradisi dan menghargai cita rasa warisan leluhur, plemben akan selalu menemukan jalannya menuju meja-meja keluarga.

Di tengah derasnya arus kuliner kekinian yang datang silih berganti, kisah Setyaningsih menjadi pengingat bahwa tidak semua warisan harus berubah agar tetap bertahan. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.