Sempat Vakum karena Mondok di Klaten, Pemuda Asal Gantung Sabet Juara I MTQH Beltim 2026
Asmadi Pandapotan Siregar July 03, 2026 04:37 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Perjuangan Martin (22) membuahkan hasil manis. Setelah tiga tahun vakum dari panggung Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadits (MTQH) karena menimba ilmu di pondok pesantren, pemuda asal Kecamatan Gantung itu berhasil meraih Juara I Cabang Qira'at Murattal Dewasa pada MTQH Tingkat Kabupaten Belitung Timur Tahun 2026.

Prestasi tersebut diumumkan saat penutupan MTQH di Aula Kantor Camat Manggar, Jumat (3/7/2026). Mengenakan batik kuning khas Kafilah Kecamatan Simpang Renggiang, Martin tampak tak kuasa menyembunyikan rasa harunya ketika namanya dipanggil sebagai juara pertama.

"Ya alhamdulillah, rasanya sangat senang sekali. Benar-benar enggak nyangka dan dari awal saya sama sekali enggak berharap bisa keluar sebagai juara satu," ujar Martin saat ditemui Posbelitung.co, Jumat (3/7/2026). 

Napasnya masih gugup, sisa-sisa ketegangan bercampur rasa senang.

"Tiba-tiba nama saya dipanggil. Ya mungkin ini sudah menjadi kehendak dan ketetapan Allah, Alhamdulillah saya diberikan amanah juara satu ini," ucapnya.

Kisah Martin di panggung MTQH tahun ini sebenarnya cukup unik. Meski membawa nama Simpang Renggiang, Martin sejatinya adalah pemuda asli kelahiran Kecamatan Gantung.

Namun ternyata Kecamatan Simpang Renggiang lebih dulu tertarik kepada bakatnya sehingga ia pun akhirnya direkrut.

"Iya, istilahnya saya ditarik sama Simpang Renggiang. Karena di Gantung sendiri pesertanya sudah ada dan penuh, jadi saya pindah membela Renggiang di kabupaten tahun ini," katanya. 

Di Desa Gantung sendiri Martin tumbuh dan pertama kali mengenal tilawah Al-Qur'an. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ia terpikat oleh syahdu lantunan qari-qari senior.

"Kalau ditanya sejak kapan belajar tilawah, saya memulainya benar-benar dari masa SMA dulu. Ceritanya, di kampung halaman saya di Gantung, alhamdulillah ada seorang guru, Ustadz Sulaiman yang sangat alim dan memahami ilmu ini," ungkapnya.

Pertemuan dengan Ustadz Sulaiman menjadi titik balik dalam hidup Martin. Di sana, Martin menghabiskan waktu remajanya untuk mengasah vokal, mempelajari makhrojal (pengucapan) huruf, hingga mendalami cengkok murattal.

"Dapat ilmunya murni dari guru tersebut di kampung. Kami sering latihan bareng di satu masjid yang sama, Masjid Al Hidayah Gantung" tambahnya.

Namun, perjalanan Martin di panggung MTQ sempat terhenti selama sekitar tiga tahun. Pemuda berkacamata ini memutuskan untuk merantau dan masuk ke sebuah pondok pesantren di Klaten, Jawa Tengah untuk mendalami ilmu agama. 

Selama mondok, Martin berfokus untuk menimba ilmu. Baru pada tahun 2026 ini, setelah selesai mondok, ia kembali.

"Sebelumnya saya sempat berhenti ikut lomba karena harus fokus mondok di Klaten. Nah, alhamdulillah, tahun ini saya selesai mondok dan langsung ikut kompetisi MTQ," katanya.

Dalam ceritanya, perjuangan Martin untuk mencapai performa terbaik rupanya cukup menguras tenaga.

"Effort-nya itu lumayan besar dan agak lumayan berat lah buat saya pribadi setelah lama absen di panggung lomba. Persiapannya sangat menguras waktu," bebernya.

Setiap hari, di sela-sela kesibukannya, Martin harus meluangkan waktu berjam-jam untuk menghadap sang guru. Pertemuan demi pertemuan dilakukan demi mengembalikan kelenturan pita suara dan ketepatan napas pascakeluar dari pondok.

"Ya bentuk persiapannya kayak latihan terus-menerus, mengadakan pertemuan rutin sama guru buat mengoreksi bacaan, pokoknya latihan dan latihan terus," ujarnya. 

Setelah menjadi pemenang di tingkat kabupaten, Martin kini dihadapkan pada tantangan baru. 

Diketahui sebelumnya bahwa para juara kabupaten tidak serta merta langsung otomatis dikirim ke tingkat provinsi, melainkan harus melewati seleksi ulang. 

Menghadapi hak tersebut, Martin tak merasa gentar sedikit pun.

"Soal bakal ada seleksi lagi dan enggak langsung otomatis masuk ke provinsi, saya pribadi menyikapinya dengan positif. Reaksi saya ya yang pasti harus bersiap menghadapi itu," tuturnya. 

Bagi Martin, seleksi ulang justru menjadi pemicu semangat bagi dirinya untuk membuktikan bahwa kualitas yang dimilikinya memang hasil latihan, bukan keberuntungan semata. 

"Yang pastinya saya akan berusaha sebaik mungkin, memberikan penampilan yang paling maksimal di depan tim penguji nanti. Berusaha sebaik mungkin, itu saja kuncinya," ucapnya. 

Martin pun sudah memasang target. Ia berjanji akan memperbanyak porsi latihannya demi mengejar passing grade provinsi.

"Persiapan ke depan yang pasti saya harus berlatih lebih giat lagi dari yang sekarang. Saya ingin berusaha keras untuk memberikan hasil yang terbaik buat Kabupaten Belitung Timur di tingkat provinsi nanti," tutupnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.