TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Penyebab tewasnya seorang pemuda bernama Okto Tigau (19) di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, akhirnya mulai terungkap.
Insiden berdarah ini memicu respons emosional dan kekecewaan mendalam dari pemerintah daerah setempat.
Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, mengaku sangat kecewa dan mengutuk keras insiden memilukan yang diduga melibatkan oknum aparat keamanan tersebut.
Atas kejadian ini, Aner bahkan mendesak Presiden Prabowo Subianto bersama Panglima TNI untuk segera melakukan evaluasi total.
Evaluasi tersebut terkait penempatan satuan nonorganik yang bertugas di wilayah Kabupaten Intan Jaya.
Saat dihubungi wartawan melalui sambungan telepon pada Rabu (1/7/2026), Bupati Aner Maisini membeberkan fakta memprihatinkan.
Penemuan jasad Okto ternyata terjadi di waktu yang sangat memilukan, yakni di tengah suasana duka masyarakat.
Jasad pemuda tersebut ditemukan justru ketika warga Intan Jaya tengah memakamkan seorang gembala gereja yang juga menjadi korban penembakan.
Baca juga: TNI Tuding Okto Tigau yang Tewas di Intan Jaya Pentolan KKB, Bupati Kecewa hingga Keluarga Protes
"Tadi kami sedang memakamkan gembala yang ditembak. Di saat yang sama, kami mendapat informasi bahwa jenazah Okto ditemukan di belakang Pos Habema," ujar Aner, Rabu.
Mendengar kabar tersebut, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya bersama jajaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) daerah dan tim penanganan langsung bergerak cepat untuk mengevakuasi korban.
Jenazah Okto pun langsung dimakamkan pada hari yang sama.
TNI Sebut Okto Tigau Pentolan KKB
Di sisi lain, pihak TNI memberikan penjelasan berbeda terkait insiden maut tersebut.
TNI mengklaim bahwa Okto Tigau tewas dalam sebuah insiden kontak tembak sengit, bukan karena diculik atau dianiaya.
Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa Okto Tigau bukan warga sipil biasa.
Menurut data TNI, pemuda tersebut merupakan Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII/Intan Jaya dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Wirya membeberkan kronologi peristiwa mencekam yang terjadi di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, pada Selasa (30/6/2026) malam sekira pukul 22.00 WIT.
Peristiwa bermula saat personel TNI mendeteksi pergerakan mencurigakan dari empat orang yang mencoba mendekati pos secara sembunyi-sembunyi.
Prajurit TNI kemudian memberikan peringatan lisan secara bertahap sesuai prosedur baku, namun tidak direspons.
"Namun peringatan tersebut tidak direspons, dan mereka justru lebih dahulu melepaskan tembakan ke arah pos, sehingga terjadi kontak tembak," ungkap Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/7/2026).
Dalam baku tembak tersebut, tiga orang melarikan diri ke dalam hutan, sementara satu orang ambruk.
Karena kondisi malam yang gelap dan rawan, tim gabungan Koops TNI Habema baru melakukan penyisiran TKP pada keesokan harinya.
Petugas kemudian menemukan jenazah Okto beserta sebuah parang.
Jenazah lalu dicocokkan cirinya dan diserahkan kepada tokoh adat setempat.
Wirya menyebut Okto terlibat dalam sederet aksi teror di Intan Jaya, termasuk penembakan aparat, penembakan pekerja sipil, penyiksaan, dan intimidasi warga.
Meski demikian, ia menyatakan belasangkawa dan menegaskan tindakan TNI sudah sesuai aturan pelibatan serta Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI terkait pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
Tangis Pilu Keluarga: Kami Bukan Binatang!
Kendati ada klaim resmi dari pihak TNI, salah seorang anggota keluarga korban mempertanyakan penyebab pasti kematian korban.
Pihak keluarga mendesak agar kasus ini diusut tuntas hingga ke akar-akarnya.
Keluarga mengaku terpukul melihat kondisi tubuh korban yang dinilai mengalami sejumlah luka mengenaskan.
Mereka menduga kuat terdapat beberapa bekas tembakan yang bersarang di tubuhnya.
"Kalau satu peluru saja bisa mematikan seseorang, mengapa kami melihat ada beberapa luka yang diduga bekas tembakan?" cetus salah satu anggota keluarga korban dengan penuh emosi.
Baca juga: Jenazah Pilot AS Nicholas Goselin Korban KKB Tiba di Jayapura, Dijemput Uskup dan Pimpinan AMA
"Kasus-kasus seperti ini selama ini tidak pernah dijelaskan secara terbuka," lanjutnya.
Keluarga mendesak proses penyelidikan dilakukan secara transparan, jujur, dan adil.
Sementara itu, seorang warga lain di lokasi persemayaman ikut melayangkan protes keras sambil menahan tangis.
Ia menegaskan bahwa masyarakat sipil di Papua memiliki hak yang sama di mata hukum.
"Kami bukan binatang. Kami manusia. Kalau memang terjadi pelanggaran, harus diusut sesuai hukum," serunya di hadapan warga yang sedang berkabung.
"Kami ingin keadilan!" pungkasnya. (*)