BANJARMASINPOST.CO.ID- Ariani Astuti Roosiani, menyeka air matanya berkali-kali saat menceritakan sosok ibunda tercinta, Dewi Fitriani, petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin yang meninggal dunia akibat ditabrak kendaraan roda empat, Selasa (30/6/2026) lalu.
Padahal belum lama sebelum insiden maut terjadi, Dewi sempat mengantar Rani, sapaan akrabnya, ke Bandara Syamsudin Noor untuk bertolak ke Jakarta.
Kala itu, gadis berusia 19 tahun yang merupakan anak kedua mendiang, dilepas menuju Universitas Indonesia (UI). Rani diterima kuliah di kampus bergengsi di Tanah Air tersebut pada jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Ia pergi bersama sang kakak, anak sulung almarhumah Dewi, Aulia yang juga menempuh pendidikan di Jakarta, dan memboyong adik bungsu mereka, Arman. Meki masih duduk di Sekolah Dasar (SD), Arman ikut pindah ke Jakarta agar berkumpul dengan kakak-kakaknya.
Baca juga: Menangi Lomba Bertutur di Banjarmasin, Siswi SDN 2 Rampa Kotabaru Melenggang ke Nasional
Doa dan harapan pun disampaikan Dewi kepada Rani dan kakak serta adiknya agar bisa sukses di perantauan.
“Saat itu mama meluk erat, seperti pelukan terakhir. Setelah di Jakarta empat hari ada kabar duka mama meninggal, syok banget karena secepat itu mama pergi,” ungkapnya sambil berurai air mata.
Rani masih tidak menyangka. Ia masih terbayang bahagia dan senyum semringah sang ibunda saat mengantar dirinya berangkat ke Ibu Kota.
Sambil membuka album foto kenangan, ia menceritakan sosok wanita pekerja keras yang sudah melahirkan dan membesarkan tiga anak tersebut.
Dewi muda dulu sempat menjadi model, berbagai kompetisi maupun event-event modeling diikutinya pada awal tahun 2000-an.
“Mama dulu mantan model, beliau selalu memotivasi kami agar bisa berhasil di bidang apapun yang ditekuni,” ujarnya.
Sang ibu harus menghidupi anak-anaknya seorang diri, karena ayah mereka tiada sejak delapan tahun lalu.
Di tengah rasa kehilangan yang mendalam, Rani berkomitmen untuk mewujudkan cita-cita dan harapan terakhir sang almarhumah demi masa depan keluarga.
“Apapun itu, harus bisa mendapatkan pekerjaan yang baik supaya bisa meningkatkan derajat keluarga,” ucapnya.
Demi meringankan beban dan mewujudkan impian besar almarhumah, ia dan saudaranya bertekad untuk berjuang mencari peluang beasiswa hingga akhirnya berhasil.
Rani juga mengenang makanan kesukaan almarhumah semasa hidup. Dewi sangat menyukai ketupat kandangan. Dalam setiap kesempatan, mendiang selalu menyempatkan menyantap kuliner khas Banjar tersebut.
Rani mengungkapkan, ada beberapa keinginan dan rencana almarhumah semasa hidup yang belum sempat terealisasikan hingga ajal menjemput.
Salah satu impian besar almarhumah adalah bisa menyaksikan langsung kelulusan putrinya dari bangku kuliah. Demi mewujudkan hal tersebut, sang ibu diam-diam telah menyisihkan uang untuk biaya keberangkatan ke Jakarta.
“Mama sering bilang kalau beliau lagi mengumpulkan uang buat menghadiri wisuda saya di Jakarta nanti. Tapi takdir berkata lain, rencana itu tidak bisa terwujud,” kenangnya dengan nada sedih.
Selain menghadiri acara wisuda, Dewi juga sempat mengutarakan keinginannya untuk mengabadikan momen bersama seluruh anggota keluarga dalam sebuah sesi foto bersama.
Namun, karena kesibukan dan keterbatasan waktu, rencana tersebut terus tertunda.
“Mama juga sempat bilang, Kapan-kapan kita foto bersama sekeluarga. Tapi karena memang belum ada waktunya, hal itu tidak pernah sempat terlaksana,” ujarnya.
Anak pertama mendiang Dewi, Aulia mengatakan sang ibu selalu mengajarkan untuk selalu berbagi seberapa pun materi yang dimiliki, terutama jika ada orang yang meminta bantuan terkait makanan.
Baca juga: Hanya Ada 9 Siswa Baru di SDN Basirih 10 Banjarmasin, Kepsek: SPMB 2026 Ada Peningkatan
Sebelum mengalami kecelakaan maut, Aulia menyadari adanya beberapa isyarat tidak biasa yang ditunjukkan oleh ibunya. Almarhumah Dewi seakan sudah merasakan bahwa waktunya tidak lama lagi.
Di akhir hayatnya, Dewi sempat membelikan makanan untuk tetangga di sebelah rumahnya.
“Mama juga sempat berkeliling untuk meminta maaf kepada orang-orang di sekitarnya,” kata Aulia.
Kini meskipun sudah tiada, Aulia harus ikhlas atas kepergian sang ibu. Ia pun mengaku bangga terhadap perjuangan mendiang karena wafat saat tengah berjuang mencari nafkah untuk keluarga, ia meyakini ibunya meninggal dalam keadaan yang mulia.
(Banjarmasinpost.co.id/Mariana)