Kondisi Yuvita Korban Penyekapan Taufik Hidayat yang Kini Bisa Aktivitas, Operasi Tak Cuma Sekali 
Talitha Daren July 04, 2026 12:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Kasus penyekapan dan penganiayaan yang diduga dilakukan Taufik Hidayat memang telah terungkap, namun penderitaan yang dialami korban berinisial YTR masih jauh dari kata berakhir.

Perempuan asal Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu kini harus menjalani serangkaian perawatan dan operasi demi memulihkan kondisinya.

Penganiayaan yang dialaminya disebut meninggalkan dampak serius berupa cacat permanen hingga menyebabkan kebutaan.

Saat ini, YTR masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSHS Bandung, dr. Fitra Hergyana, mengungkapkan bahwa kondisi korban mulai menunjukkan perkembangan positif.

Menurutnya, YTR kini sudah bisa duduk dan perlahan kembali melakukan aktivitas ringan.

Meski demikian, korban masih berada dalam masa pemulihan dan belum dapat menjalani operasi lanjutan.

Tim medis sebelumnya telah melakukan debridement atau pembersihan luka sebagai bagian dari penanganan awal.

Tindakan tersebut dilakukan sembari menunggu kondisi YTR cukup stabil untuk menjalani operasi berikutnya demi meningkatkan kualitas hidupnya.

Baca juga: Taufik Hidayat Akui Kencan dengan Janda Saat Masih Menyekap Yuvita, Datangi Kantor Dedi Mulyadi

Korban Sudah Bisa Beraktivitas

YTR kini sudah bisa duduk dan mulai beraktivitas, meski masih menjalani masa pemulihan serta menunggu tindakan operasi.

dr. Fitra Hergyana mengatakan tim medis telah melakukan debridement atau pembersihan luka sebagai bagian dari penanganan awal sebelum operasi dilakukan.

"Kemarin Pak Dirut sudah menyampaikan. Alhamdulillah pasien saat ini memang sudah bisa duduk, sudah bisa dapat beraktivitas. Dan juga kita kemarin sudah melaksanakan debridement atau pembersihan luka sambil dengan menunggu operasi. Saat ini memang sedang pemulihan dan sedang menunggu operasi," ujar Fitra, Jumat (3/6/2026).

Meski demikian, kata dr. Fitra Hergyana, tindakan operasi belum dapat dilakukan dalam waktu dekat karena tim medis masih fokus menangani infeksi yang dialami pasien.

"Kita saat ini kan memang masih ada infeksinya. Tadi makanya kenapa steril, begitu setelah infeksinya tertangani kita langsung dilaksanakan," katanya. 

Baca juga: Taufik Hidayat Akui Kencan dengan Janda Saat Masih Menyekap Yuvita, Datangi Kantor Dedi Mulyadi

PENYEKAPAN DI BANDUNG - Sejumlah tindakan sadis yang dilakukan Taufik Hidayat pada korban di dalam kosan
WANITA DISIKSA PACAR - Kondisi Yuvita korban penyekapan Taufik Hidayat yang kini bisa beraktivitas (Tribun Trends/Istimewa/via TribunBogor dan Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama)

Operasi Tak Cuma Sekali 

Selain penanganan fisik, tim medis juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis korban yang disebut masih dalam tahap pemulihan.

"Kemarin kan yang pertama adalah kita pembersihan lukanya, dari infeksi-infeksinya, dan juga pemulihan dari psikisnya. Jadi setelah itu ini baru kita ke step-by-step," ucapnya.

Fitra menjelaskan, proses operasi yang akan dijalani YTR tidak cukup dilakukan satu kali.

Tim dokter akan mengevaluasi hasil operasi pertama sebelum menentukan langkah penanganan berikutnya.

“Ini juga operasi ini nggak bisa sekali, perlu beberapa kali. Jadi kita melihat adalah bagaimana dari operasi yang pertama, dilihat hasilnya dulu baru sambil melihat perkembangannya semuanya secara komprehensif," katanya.

Untuk menangani YTR, RSHS membentuk tim gabungan yang melibatkan sekitar 40 dokter. Tim tersebut disiapkan untuk memastikan seluruh aspek kesehatan pasien tertangani secara menyeluruh.

"Kita juga membentuk tim dokter dari Kementerian Kesehatan RSHS sekitar 40 dokter. Jadi kita betul-betul secara komprehensif penanganannya," ucapnya.

Baca juga: Sebelum Ditangkap, Taufik Hidayat Ternyata Sempat Datangi Kantor KDM, Ingin Sampaikan Curahan Hati

SANTAI - Tampang Taufik Hidayat (lingkaran merah), penyiksa dan penyekap perempuan Rancaekek saat diamankan polisi di Majalaya, Selasa 23 Juni 2026 malam
WANITA DISIKSA PACAR - Kondisi Yuvita korban penyekapan Taufik Hidayat yang kini bisa beraktivitas (Tribun Trends/Tribun Jabar)

Alasan Tak Berani Kabur Saat Disekap

Akhirnya terjawab alasan perempuan Bandung berinisial YTR (29) tak bisa kabur dari Taufik Hidayat meski disekap dan dianiaya selama tiga tahun. 

Pengakuan YTR ini menjawab rasa penasaran pengacara Hotman Paris mengenai alasan di balik korban yang tidak berusaha melarikan diri atau meminta pertolongan selama masa penyekapan tersebut.

Hotman mempertanyakan mengapa korban tidak berteriak, memukul pintu, atau merusak jendela kamar kos saat pelaku sedang pergi bekerja.

Menurutnya, tindakan tersebut seharusnya bisa memancing perhatian dari pemilik kos, ketua RT, RW, maupun warga sekitar untuk memberikan pertolongan.

Hotman Paris pun meminta korban untuk memberikan penjelasan secara jujur dan perlahan mengenai situasi yang sebenarnya terjadi, apakah dipicu oleh rasa takut yang luar biasa atau ada faktor lain.

Ia menjamin kerahasiaan jawaban tersebut dan berjanji tidak akan menyebarkannya ke publik.

Sebagai bentuk dukungan moral dan materi, Hotman Paris menawarkan bantuan modal sebesar Rp2,5 miliar lebih untuk membantu korban menata kembali kehidupannya di masa depan setelah dirinya kembali dari Singapura.

Di sisi lain, Hotman juga menyarankan agar pihak penyidik kepolisian mendalami poin tersebut guna melengkapi proses investigasi perkara ini.

Terkait hal ini, Direktur Reserse  Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang (PPA-PPO) Polda Jabar, Kombes Rumi Untari mengungkap pengakuan korban. 

Menurut Kombes Rumi Untari alasan YTR tidak bisa kabur karena memiliki rasa takut yang besar.

Jawaban tersebut terus menerus dan konsisten dijawab korban.

"Ya memang ketakutan yang besar dari korban. Ponselnya dikuasai pelaku sejak awal," kata Kombes Rumi.

Rumi juga menegaskan korban membuat tato di tubuhnya tak ada paksaan dari pelaku.

Namun, dengan kondisi YTR ketakutan, tentu korban mau tak mau mengikuti perintah pelaku.

"Walau memang secara lisan tak ada paksaan. Tapi, kalau kami lihat kondisi psikis ya pasti ada ketakutan. Kalau menolak pasti dilakukan kekerasan terhadap korban," katanya.

(TribunTrends/Surya.co.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.