TRIBUNJAKARTA.COM, PENJARINGAN - Laut Jakarta menjadi sumber kehidupan bagi Mistah (42).
Hampir setiap hari, pria asal Indramayu itu menyelam hingga kedalaman sekitar lima meter untuk memanen kerang hijau yang menjadi tumpuan nafkah bagi istri dan keempat anaknya.
Pekerjaan itu telah dijalani Mistah selama lebih dari tiga dekade sejak merantau ke Kampung Nelayan Muara Angke, RW 022 Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.
"Lahirnya di Indramayu. Kalau Muara Angke kita merantau sama orang tua. Sebelum punya anak sudah di sini," kata Mistah saat ditemui TribunJakarta.com di Muara Angke, Jumat (3/7/2026).
Berbeda dengan orang tuanya yang berprofesi sebagai nelayan jaring di kampung halaman, Mistah justru belajar mencari kerang dari mertuanya setelah menetap di Jakarta.
Kemampuan menyelam tidak diperoleh secara instan.
Ia mengaku harus berlatih sedikit demi sedikit, terutama mengendalikan napas saat berada di bawah permukaanlaut.
Menurutnya, kesalahan mengatur napas dapat membuat penyelam cepat kehabisan tenaga.
"Kalau pernapasan kita nafsu enggak jadi. Harus santai kalau di dalam air," ujarnya.
Kini, kemampuan itu menjadi bekal utama setiap kali turun ke laut.
Aktivitas melaut biasanya dimulai sejak dinihari, sekitar pukul 4.00 WIB.
Mistah menuju lokasi budidaya kerang yang dipasang di tengah laut menggunakan perahu kecil.
Perahu itu berukuran panjang sekitar 4-5 meter, dengan warna biru terang yang di bagian kemudinya tertulis nomor registrasi. Perahu Mistah bernomor 295.
Mistah pada Jumat pagi bergerak sendirian dari rumah panggungnya di Muara Angke.
Dengan perahu itu, ia berlayar ke perairan Teluk Jakarta, tempat area peternakan kerang miliknya berada.
Lokasinya sekitar 2 kilometer arah utara dari daratan Kampung Nelayan Muara Angke.
Kerang hijau yang dipanen bukan berasal dari tangkapan liar, melainkan hasil budidaya menggunakan sistem bagang dirigen.
Pada sistem tersebut, tali sepanjang sekitar 30 depa dipasang menggunakan jangkar, bambu, dan drum pelampung.
Bibit kerang akan menempel secara alami pada tali hingga membesar.
Namun, prosesnya tidak singkat dan bisa memakan waktu berbulan-bulan.
"Kalau normal lima bulan panen. Kadang delapan bulan tergantung bibitnya," katanya.
Saat panen tiba, Mistah menyelam menggunakan bantuan udara dari kompresor.
Ia turun seorang diri mengambil kerang yang menempel di tali, kemudian memasukkannya ke dalam wadah sebelum naik kembali ke permukaan.
Proses itu dilakukan berulang kali hingga seluruh kerang berhasil diangkat.
Setelah dibawa ke darat, kerang ditimbang lalu dikirim ke tempat perebusan.
Usai direbus, daging kerang dipisahkan dari cangkangnya sebelum dijual kepada pengepul.
Meski terlihat sederhana, pekerjaan tersebut menyimpan risiko besar.
Mistah pernah tertusuk duri ikan pari saat mencari kerang liar di sekitar perairan Ancol.
Saat itu kondisi air sedang keruh sehingga ia tidak menyadari keberadaan ikan pari yang bersembunyi di dasar laut.
"Sakit, langsung berdarah. Habis itu meriang, dibawa ke klinik. Satu bulan enggak kerja," tuturnya.
Ancaman lain datang dari cuaca.
Gelombang tinggi kerap membuat nelayan tidak dapat melaut selama beberapa hari.
"Kalau cuaca buruk kita enggak bisa berlayar. Nyari kerangnya susah kalau gelombangnya besar," katanya.
Tantangan ekonomi juga semakin terasa.
Mistah mengatakan satu petak budidaya kerang membutuhkan modal sekitar Rp 8 juta.
Namun, hasil panen tidak selalu sesuai harapan karena sangat bergantung pada pertumbuhan bibit.
"Bikin dua ternak, yang satu ada buahnya, yang satu enggak ada isinya," ujarnya.
Harga jual kerang pun mengalami penurunan.
Jika sebelumnya daging kerang dibeli pengepul sekitar Rp 25 ribu per kilogram, kini hanya berkisar Rp 18 ribu hingga Rp 19 ribu.
Akibatnya, pendapatan nelayan ikut tergerus.
Menurut Mistah, jika hasil panen sedang bagus, penghasilan bersihnya sekitar Rp 200 ribu per hari atau sekitar Rp 2 juta dalam sebulan.
Namun, jika panen gagal, tidak ada pemasukan yang bisa dibawa pulang.
"Kalau enggak ada hasil ya enggak ada," katanya.
Di tengah berbagai tantangan itu, Mistah mengaku belum terpikir meninggalkan profesi yang telah membesarkan keluarganya.
Baginya, menjadi nelayan kerang sudah menjadi bagian dari kehidupan yang sulit digantikan pekerjaan lain.
"Kalau nyari kerja di darat kan kita enggak bisa. Sudah di sini jadi nelayan kerang hijau," ujarnya.
Belakangan, Mistah juga mengaku khawatir dengan kondisi laut di sekitar lokasi budidaya.
Ia mengatakan pernah terjadi kematian massal kerang yang diduga dipicu limbah yang terbawa aliran sungai ke laut.
"Kerang ini pernah mati semua. Ada buangan dari kali, limbah putih kayak susu. Di Pulau G ikan-ikan juga pada mati," katanya.
Meski demikian, ia hanya bisa menunggu kondisi perairan kembali pulih agar bibit kerang dapat tumbuh lagi.
Sebab bagi Mistah dan banyak nelayan lainnya di Muara Angke, laut bukan sekadar hamparan air, melainkan satu-satunya tempat mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.
Caption: NELAYAN KERANG - Nelayan kerang warga Muara Angke, Mistah (42). Nelayan kerang dari Jakarta Utara harus menghadapi beragam persoalan saat mencari nafkah untuk keluarga. (TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO).