TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, belum sepenuhnya berhasil diatasi hingga memasuki hari kelima, Sabtu (4/7/2026).
Titik-titik api masih ditemukan di sejumlah bagian timbunan sampah sehingga proses pemadaman terus dilakukan.
Baca juga: Berkaca dari Kebakaran TPA Jatiwaringin, WALHI Desak Pengelolaan Sampah Organik dari Rumah Tangga
Berdasarkan pantauan di lokasi, asap putih pekat masih membubung dari area TPA. Bara api yang tersisa di dalam gunungan sampah membuat kobaran kembali muncul meski penyemprotan air telah dilakukan secara intensif.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petugas karena panas yang terperangkap di dalam tumpukan sampah menyebabkan api sulit dipadamkan sepenuhnya. Akibatnya, proses pendinginan harus dilakukan secara berulang di sejumlah titik yang masih mengeluarkan asap.
Baca juga: TPA Jatiwaringin Kebakaran, Ratusan Warga Kena ISPA, Lebih dari 10.000 Masker Dibagikan
Sejumlah armada pemadam kebakaran tetap disiagakan untuk melakukan penyemprotan dari darat. Petugas terus mengalirkan air melalui selang berukuran besar hingga ke puncak timbunan sampah guna menekan potensi api kembali membesar dan merambat ke area lain.
Selain upaya di darat, pemadaman juga dibantu melalui jalur udara. Dua helikopter water bombing kembali diterjunkan untuk menjatuhkan air ke titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau personel di permukaan.
Kedua helikopter tersebut bergantian melakukan penyiraman dari udara dengan menyasar lokasi yang masih dipenuhi asap tebal. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat proses pemadaman sekaligus membantu mendinginkan area yang masih menyimpan bara api.
Meski kobaran api tidak lagi sebesar saat insiden pertama kali terjadi pada Selasa (30/6/2026), bara di dalam timbunan sampah masih memicu munculnya titik api baru di sejumlah lokasi.
Hingga Sabtu siang, personel gabungan masih terus melakukan upaya pemadaman dan pendinginan. Petugas akan tetap bersiaga sampai dipastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Warga diminta menjauhi kawasan terdampak karena paparan asap dinilai berisiko bagi kesehatan, terlebih kebakaran masih terjadi di bagian bawah timbunan sampah.
"Kalau bisa 1,7 kilometer radius ya, yang benar-benar harus dihindari. Tapi kan tergantung arah angin," ucap Diaz di Mauk, Kabupaten Tangerang, Sabtu (4/6/2026).
Diaz menjelaskan arah angin menjadi faktor yang sangat menentukan penyebaran asap. Saat ini hembusan angin mengarah ke timur, namun kondisi tersebut dapat berubah sewaktu-waktu sehingga berpotensi membawa asap menuju kawasan permukiman di sisi barat lokasi TPA.
Mengantisipasi kemungkinan tersebut, LH telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah evakuasi apabila asap mulai mengarah ke permukiman warga.
Upaya mitigasi dilakukan sejak dini agar dampak kesehatan terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
"Tadi saya sudah katakan kepada Pak Bupati, ini antisipasinya apa kalau arah angin nanti ke daerah warga yang di barat, karena ini banyak pemukiman. Dan Pak Bupati tadi akan mengevakuasi warga yang ada di sana, seperti yang sudah dilakukan kemarin terhadap warga di daerah timur," ujar Diaz.
Selain menyiapkan skenario evakuasi, pemerintah juga memastikan telah tersedia lokasi pengungsian bagi warga terdampak. Fasilitas dasar seperti air bersih dan makanan telah dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat apabila proses pengungsian kembali dilakukan.
"Sudah ada dua lokasi yang di-assign oleh Pak Bupati untuk memindahkan atau mengungsikan warga. Airnya tadi sudah disediakan, makanannya juga," ujarnya.
Bagi masyarakat yang masih berada di sekitar kawasan terdampak dan belum dapat meninggalkan rumahnya, Diaz mengimbau agar menggunakan alat pelindung diri, terutama masker, untuk mengurangi risiko menghirup asap hasil kebakaran.
"Kalau masih tinggal di situ ya jangan lupa pakai masker, dan mungkin pelindung-pelindung lainnya," kata Diaz.
Diaz meminta masyarakat tidak menjadikan lokasi kebakaran sebagai tempat tontonan. Semakin dekat warga dengan lokasi kebakaran, semakin besar risiko terpapar polusi udara yang dapat memicu gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga paparan zat berbahaya lainnya.
"Kami mohon masyarakat sekitar agar kebakaran TPA ini tidak menjadi tontonan warga. Ini bukan hiburan, tidak perlu ada yang ditonton. Karena semakin warga mendekat, semakin besar kemungkinan terkena penyakit, termasuk ISPA," pungkasnya.
Baca juga: Kebakaran TPA Jatiwaringin, Pemkab Tangerang Tetapkan Status Tanggap Darurat hingga 14 Juli 2026
Ratusan warga menggelar Salat Istisqa dan doa bersama di Masjid Jami Al-Mujahidin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (3/7/2026).
Ibadah tersebut dilaksanakan sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan di tengah kebakaran yang masih melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin.
Kebakaran di TPA Jatiwaringin diketahui telah berlangsung selama empat hari sejak Selasa (30/6/2026).
Meski sebagian area yang terbakar mulai berhasil dipadamkan, petugas gabungan masih terus berupaya memadamkan titik-titik api yang tersisa.
Pantauan di lokasi, kepulan asap masih terlihat dari beberapa bagian gunungan sampah.
Petugas pemadam kebakaran pun tetap melakukan pembasahan agar api tidak kembali meluas.
Di sisi lain, upaya modifikasi cuaca belum dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), selama sepekan ke depan wilayah Kabupaten Tangerang diperkirakan minim awan yang memiliki kandungan air tinggi sehingga tidak memenuhi syarat untuk penyemaian hujan.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk menggelar Salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar spiritual.
Sejak pagi, halaman Masjid Jami Al-Mujahidin dipenuhi warga yang bersama-sama memanjatkan doa agar hujan segera turun dan membantu proses pemadaman kebakaran.
Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Mauk, Agus Romadhoni mengatakan Salat Istisqa digelar karena dampak musim kemarau dan kebakaran telah dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Dengan salat istisqa kita minta ampun kepada Allah, berdoa mudah-mudahan segera diturunkan hujan dan dihindarkan dari segala musibah bencana alam khususnya TPA di Jatiwaringin sudah mulai padam dan terkendali," katanya.
Menurut Agus musibah kebakaran di TPA Jatiwaringin juga menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus memperkuat keimanan.
"Harapan kita semua, lewat musibah tadi disadarkan untuk menjaga lingkungan, kemudian bertakarrub kepada Allah, lebih mendekatkan diri kepada Allah agar kita semua terhindar dari bencana," ungkapnya.
Tribunnews.com/Tribuntangerang.com