Menjaga Cinta dari Balik Jeruji Lapas Kerobokan Bali, Kisah Nyata Dalam Buku Unfinished Love
Putu Kartika Viktriani July 05, 2026 01:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Rasa cinta sering kali menuntut pengorbanan yang di luar nalar. Bagi Klissy Myring, pembuktian kesetiaan itu terukir lewat dinding beton Lapas Kerobokan, Badung, Bali. 

Demi mendampingi sang suami yang tersandung kasus narkoba, ia rela ikut mengunci diri dan tidur di dalam sel tahanan selama hampir seminggu. 

Pahit getir perjalanan hidup itulah yang ia tuangkan secara jujur tanpa rahasia dalam novel biografinya yang berjudul Unfinished Love yang diluncurkan di Le Matrix Co Working Gate 88 Badung, Bali, tak jauh dari Lapas itu, pada Sabtu 4 Juli 2026. 

Perempuan kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur ini memilih jalur yang tidak biasa bagi seorang istri.

Ketika suaminya mendekam di balik jeruji besi akibat kasus heroin dan kepemilikan hasis, ia menolak untuk membiarkan suaminya menghadapi masa-masa kelam itu sendirian.

"Saya harus tidur di sana dengan membawa tikar. Saya tidak pernah dipenjara, tapi saya bisa merasakan orang dipenjara itu seperti apa," ujar Klissy saat dijumpai Tribun Bali di sela peluncuran bukunya.

 

Langkah nekat ini ia ambil bukan tanpa alasan.

Sang suami Warga Negara Asing asal Inggris itu enggan melewatkan waktu sedikit pun tanpa kehadiran Klissy setelah mereka sempat terpisah lalu bersatu kembali. 

Baca juga: Nonton Piala Dunia 2026 Berujung Kejar-kejaran, Terduga Maling Gas Ditangkap Warga di Buleleng Bali

Melalui berbagai upaya, Klissy mengondisikan agar bisa ikut masuk dan menemani sang suami melewati malam-malam dingin di dalam sel.

Perjuangan Klissy menjaga keutuhan rumah tangganya sebenarnya sudah diuji sejak sebelum sang suami masuk bui. 

Saat usia kandungannya menginjak sembilan bulan dan tinggal menghitung hari menuju persalinan, Klissy harus berjalan menyusuri gemerlap malam kawasan Legian untuk melacak keberadaan suaminya yang kerap berpindah dari satu kelab malam ke kelab malam lainnya.

"Lagi hamil sembilan bulan, saya harus mencari di mana suami saya, kenapa belum pulang. Kalau ada perempuan lain di sana, saya datangi lalu saya ajak pulang bersama saya," kenang perempuan kelahiran 14 Mei ini. 

Bagi Klissy Myring, buku setebal hampir 300 halaman ini bukan sekadar media curahan hati, melainkan sebuah refleksi mendalam mengenai konsekuensi dari sebuah pilihan hidup.

Melalui Unfinished Love, ia ingin mengirimkan pesan kuat kepada para pembaca agar tidak mudah menyerah saat diempas oleh ujian hidup yang paling berat sekalipun.

"Dari awal kita tahu jangan ke sana, tapi kita tetap lakukan karena isi hati. Ketika kita sudah memilih ini, ya sudah, kamu harus menjalaninya dengan ikhlas dan jangan sampai give up," pungkas perempuan yang terjun di dunia desain dan properti ini

Kisah hidup yang penuh gejolak emosi ini disunting langsung oleh penulis senior sekaligus editor, Wina Bojonegoro.

Wina menilai kejujuran Klissy dalam menarasikan setiap jengkal luka dan kepahitannya di Bali menjadi daya tarik utama yang membuat buku ini terasa sangat hidup dan personal.

"Ini sebuah keberanian karena ini kisah nyata yang dibukukan tanpa merahasiakan sesuatu sedikit pun. Sebagai penulis pemula, perjuangannya luar biasa untuk membukukan dirinya sendiri," kata Wina Bojonegoro.

Wina mengakui proses penyuntingan berjalan cukup ketat.

Mengingat naskah asli Klissy sangat tebal dan menyentuh banyak hal sensitif, beberapa bagian terpaksa dipangkas demi kenyamanan pembaca.

Serta beberapa nama tokoh disamarkan untuk melindungi privasi orang-orang yang masih hidup.

"Banyak paragraf yang saya potong karena sensitif. Melalui buku ini, pembaca bisa belajar bagaimana menghadapi kerumitan dan kepahitan, bahwa takdir baik atau buruk adalah pilihan yang harus dijalani dengan ikhlas," tutur Wina.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.