RS Bahteramas Bantah Tolak Tindakan Pasien Baubau karena BPJS, Sebut Pertimbangan Klinis Jadi Dasar
Apriliana Suriyanti July 05, 2026 01:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Inilah alasan klinis Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Bahteramas tidak melakukan penanganan terhadap pasien asal Kota Baubau yang videonya viral setelah keluarga pasien mengamuk di rumah sakit, Sabtu (4/7/2026).

Peristiwa itu terjadi di depan loket pelayanan rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang berlokasi di Jalan Kapten Piere Tendean, Kelurahan Watubangga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari.

Dalam video yang beredar di media sosial, seorang pria yang merupakan keluarga pasien tampak meluapkan kemarahannya kepada petugas rumah sakit.

Pria tersebut mengaku datang dari Kota Baubau ke Kendari dengan harapan pasien segera mendapat penanganan.

Ia juga menyebut pasien merupakan peserta BPJS Kesehatan Kelas 1.

Adu argumen sempat terjadi antara keluarga pasien dengan petugas rumah sakit.

Sementara sang petugas mengaku pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap calon pasien dan belum dapat menjalani tindakan karena pertimbangan medis.

Baca juga: Viral Video Keluarga Pasien Asal Baubau ‘Ngamuk’ di RS Bahteramas Kendari, Kronologi dan Penyebab

Menanggapi kejadian tersebut, Direktur RSUD Bahteramas, dr Sukirman menjelaskan, pasien datang dengan harapan menjalani operasi pencabutan gigi bungsu karena mengeluhkan nyeri yang terus-menerus.

Namun, setelah dokter spesialis bedah mulut melakukan pemeriksaan dan foto rontgen, kondisi pasien dinilai belum memerlukan operasi pencabutan gigi bungsu.

“Dokter tidak sekadar mengikuti keinginan pasien, tetapi harus bertindak berdasarkan kondisi medis pasien,” kata Sukirman, Minggu (5/7/2026).

Ia menyampaikan, hasil rontgen menunjukkan posisi gigi bungsu pasien masih baik dan berpotensi tumbuh normal serta tetap berfungsi dalam proses pengunyahan.

Karena itu, dokter menilai belum ada alasan medis untuk melakukan pencabutan gigi bungsu.

“Melakukan operasi pada gigi yang masih sehat bertentangan dengan prinsip dasar kedokteran, yakni primum non nocere atau pertama-tama jangan menyakiti,” tuturnya.

Mantan Direktur RSUD Kota Kendari ini menyebut, meski pencabutan gigi bungsu merupakan prosedur yang umum dilakukan, tindakan tersebut tetap memiliki risiko.

Baca juga: Sakit TBC, Alasan Polresta Kendari Tangguhkan Penahanan Vokalis Band Tersangka Rudapaksa Anak Tiri

Seperti perdarahan, pembengkakan (edema), nyeri setelah operasi, hingga cedera saraf apabila dilakukan tanpa alasan medis yang kuat.

“Jadi keputusan dokter tidak melakukan operasi merupakan bentuk tanggung jawab untuk melindungi keselamatan pasien, bukan karena pasien menggunakan BPJS Kesehatan,” jelasnya.

Kronologi Keluarga Pasien Mengamuk

Sosok pria paruh baya dalam video viral tersebut berinisial H, kerabat dari pasien berinisial AN.

Sementara kejadian dalam video yang viral tersebut terjadi di RS Bahteramas Kendari, pada Sabtu, 4 Juli 2026, pagi.

AN sebelumnya berobat ke Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sultra, dari Kota Baubau di Pulau Buton.

Anak H, AS, membeberkan kronologi dalam video viral yang memicu kemarahan sang ayah.

Baca juga: Baru Secuil Tukang Bangunan di Sulawesi Tenggara Tersertifikasi Padahal Upah Bisa Lebih, Cara Daftar

Awalnya pada 20 Juni 2025, AN yang mengeluhkan sakit mendatangi Fasilitas Kesehatan (Faskes) Tingkat 1.

Faskes RS Bhayangkara yang berlokasi di Jalan Gunung Meluhu, Kecamatan Mandonga itu kemudian merujuk AN untuk pengobatan lebih lanjut ke RS Bahteramas Kendari.

Mereka pun datang ke RSUD provinsi tersebut selama beberapa hari berturut-turut.

“Datang tanggal 22, 23, 24, tapi dokter spesialis bedah mulut tidak ada,” kata AS kepada wartawan TribunnewsSultra.com.

Mereka pun kembali datang pada 26 Juni 2024 dan pemeriksaan berlanjut dilakukan pada Jumat, 3 Juni 2026.

“Pemeriksaan lanjut tanggal 3 dengan keluhan pasien sakit terus menerus. Foto, hasil kemudian tanggal 4 datang lagi dan dijanjikan tanggal 14,” jelasnya.

“Tidak ditahu pasien mau ditindaklanjuti. Ternyata pasien dengan keluhan pasien seperti itu tidak diakomodasi dengan pelayanan BPJS,” tutupnya. (*)

(Tribunnewssultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.