TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK – Kabupaten Siak boleh berbangga dengan stan pameran dan perahu hiasnya. Namun di arena utama Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-44 Tingkat Provinsi Riau, Negeri Istana harus menerima hasil berbeda, finis di peringkat VI.
Hasil itu menempatkan Siak tepat di papan tengah dari 12 kabupaten dan kota se-Riau. Padahal, Siak tidak kekurangan identitas keislaman, mulai dari sejarah, budaya, pondok pesantren dan program keagamaan di berbagai instansi.
Dalam kategori pendukung capaian Siak yang lebih menonjol. Siak meraih Juara III Bazar Stand Pameran dengan nilai 89,67. Pada kategori Pawai Ta’aruf dan Perahu Hias, Siak mendapat Juara Harapan I dengan nilai 87,20.
Ketua LPTQ Siak sekaligus Wakil Bupati Siak Syamsurizal yang hadir pada malam penutupan bersama istrinya, Siti Sarifah. Meski Siak hanya berada pada posisi VI, ia tetap berbangga. Ia menyampaikan rasa syukur atas hasil yang diraih. Ia menilai capaian tersebut merupakan buah kerja keras peserta dan tim pembina.
“Alhamdulillah, kita bersyukur atas hasil yang telah diraih. Prestasi ini patut kita apresiasi sebagai hasil dari usaha dan kerja keras seluruh kafilah serta tim pembina,” ujar Syamsurizal, Minggu (5/7/2026).
Syamsurizal juga mengakui posisi Siak tahun ini berada di peringkat keenam. Ia berharap hasil tersebut tidak mematahkan semangat peserta untuk meningkatkan prestasi pada MTQ berikutnya.
“Saya berharap seluruh peserta tetap semangat dan terus meningkatkan prestasi pada pelaksanaan MTQ yang akan datang,” katanya.
Baca juga: Lompatan Prestasi Luar Biasa Diraih Kafilah Inhu di Ajang MTQ ke 44 Riau, Dari Peringkat 12 Jadi 4
Apresiasi terhadap kerja keras kafilah tentu layak diberikan. Namun hasil akhir MTQ ke-44 juga harus menjadi evaluasi bagi Pemerintah Kabupaten Siak dan lembaga yang menangani pembinaan qari dan qariah.
Sebab, posisi keenam menempatkan Siak di kelompok tengah. Hasil tersebut belum membawa Negeri Istana masuk barisan daerah dengan capaian tertinggi pada MTQ tingkat Provinsi Riau.
Kondisi ini menjadi menarik bila melihat modal yang dimiliki Siak. Kabupaten ini mempunyai sejarah Islam yang panjang, 14 kecamatan, jaringan masjid, madrasah, pesantren, rumah tahfiz dan lembaga pendidikan Alquran yang tersebar di berbagai wilayah.
Setiap tahun, MTQ juga digelar secara berjenjang. Mulai dari tingkat kampung, kecamatan hingga kabupaten. Namun seluruh modal tersebut belum cukup mengantarkan Siak menembus papan atas MTQ Riau. LPTQ Siak layak dievaluasi.
Prestasi MTQ tidak dibentuk beberapa pekan menjelang perlombaan. Qari dan qariah membutuhkan latihan panjang. Hafiz dan hafizah memerlukan pendampingan berkelanjutan. Cabang tafsir, fahmil, syarhil dan cabang lainnya menuntut pelatih berkualitas serta pola pembinaan yang terstruktur.
Karena itu, peringkat keenam dapat menjadi bahan untuk mengukur efektivitas pembinaan selama ini. Apakah pencarian bibit telah berjalan merata di 14 kecamatan? Apakah peserta potensial mendapat pembinaan sepanjang tahun? Bagaimana evaluasi terhadap pelatih? Apakah setiap cabang memiliki target prestasi yang jelas?
MTQ ke-44 Tingkat Provinsi Riau resmi ditutup di Tepian Narosa, Kota Jalur, Kabupaten Kuantan Singingi, Jumat (3/7/2026) malam. Ajang tersebut diikuti seluruh kabupaten dan kota se-Riau.
MTQ tahun ini mengusung tema “Aktualisasi Spirit Al-Qur’an Wujudkan Riau Bermarwah dan Hebat”. Tema tersebut membawa semangat memperkuat syiar Islam dan membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.
( Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)