Oleh: Abdul Gafar
Pendidik di Departemen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - “Tunggu giliran Pak”, begitu balasan WA.
Penulis menanyakan tulisan yang dibuat oleh ibunya anak-anak.
Ada masanya, Ada waktunya.
Hal lain adalah sebuah kepastian yang tidak bisa dihindari salah satunya adalah kematian.
Pengalaman terdekat adalah kematian dua orang tua penulis yang tercinta.
Kemudian dua orang saudara penulis.
Di luar itu, dua orang kawan sepengangkatan penulis sebagai Dosen di Universitas Hasanuddin Makassar.
Giliran selanjutnya beberapa orang kawan sewaktu penulis berkiprah di Lembaga Penerbitan Unhas berangkat duluan.
Kemudian sewaktu penulis diberi amanah sebagai Ketua Asrama Dosen di Baraya, dua orang yang pernah menempati kamar penulis juga telah mendahului.
Begitupun, teman satu ruangan penulis di jurusan Ilmu Komunikasi telah pergi.
Sebelumnya teman seboncengan yang biasa menemani ke kampus juga telah berangkat.
Belum lama, Ketua Masjid tempat penulis biasa ikut shalat di situ. Kita semua menunggu giliran berdasarkan catatan yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz.
Itulah sedikit kenangan tentang kematian yang pasti.
Semoga mereka semua itu mendapat ampunan dari Allah SWT diberi tempat yang lapang.
Perjalanan sejarah kehidupan manusia tidak ada yang persis sama.
Kemiripan mungkin saja dapat terjadi.
Ibarat roda yang berputar, terkadang di atas, terkadang di bawah.
Silih berganti menerima giliran.
Negeri ini dibangun di atas suka dan duka.
Berlomba antara tawa dan tangis pedih.
Cucuran keringat dan semburan darah.
Jiwa dan raga menjadi tumbal sejarah lahirnya sebuah bangsa.
Dinamika ini berputar dan menggelinding terus, dinikmati dan dirasakan hingga kini.
Ada anak negeri, dari lahir hingga akhir hayatnya tetap hidup dalam kemiskinan yang abadi.
Sebaliknya ada yang menikmati kehidupan ini dengan tawa dan canda dalam kemewahan.
Hidup hingga matinya tetap dalam keberlimpahan kesenangan.
Menurut proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada pertengahan tahun 2026 mencapai 287.198.383 jiwa.
Dari jumlah sebesar itu, berapa yang dapat menikmati kehidupan yang terbilang kaya dan mewah?
Kalau dibandingkan dengan kelas miskin yang ada, tampaknya orang miskin semakin bertambah jumlahnya.
Info terkini menyatakan bahwa mereka yang berpenghasilan di bawah Rp.8 jutaan sebulan sudah termasuk kategori miskin.
Mereka yang tidak termasuk miskin misalnya anggota parlemen kita.
Penghasilannya mencengangkan luar biasa.
Begitu pula pejabat-pejabat lainnya.
Banyak fasilitas yang mereka nikmati di atas penderitaan rakyat kebanyakan.
Negeri ini memiliki stok manusia yang cerdik.
Mereka termasuk kreatif dalam menikmati penghasilan yang ‘luar biasa’.
Terlihat bagi-bagi kekuasaan untuk menguras kekayaan negeri ini.
Pajak yang besar dari rakyat dinikmati dengan serakah.
Inilah yang disebut perilaku koruptif.
Surga yang nyaman bagi para koruptor.
Kerugian negara yang ditimbulkan oleh para koruptor sangat fantastis.
Mereka yang benar-benar korupsi dan mereka yang tidak benar-benar korupsi.
Hukum berakrobat jungkir-balik menjerat seseorang.
Terlihat bagaimana perilaku Hakim, Jaksa, Polisi dalam menangani perkara yang ada.
Sumpah dan janji mudah dilanggar.
Kebohongan menjadi senjata andalan dalam membela diri.
Tunggulah, giliran kebohongan akan terlindas oleh kebenaran sejati!