TRIBUNKALTIM.CO - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah pemerintah Iran melayangkan tuduhan serius terhadap Amerika Serikat (AS).
Teheran menuding Washington telah melancarkan kampanye diplomatik guna menekan dan mengintimidasi negara-negara lain agar tidak mengirimkan utusan ke upacara pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Kendati demikian, otoritas Iran mengklaim bahwa upaya boikot tersebut gagal total karena mayoritas perwakilan tetap memilih hadir dalam prosesi sakral tersebut.
Baca juga: Iran Disebut akan Terapkan Aturan Baru Selat Hormuz, Perlakuan Khusus Kapal China dan Negara Sahabat
Berdasarkan investigasi pemerintahan Iran, manuver terselubung yang dijalankan oleh Korps Diplomatik AS berlangsung secara maraton selama lima hari berturut-turut menjelang hari pemakaman.
Dokumen rahasia diduga dikirimkan langsung dari Washington ke seluruh kedutaan besar mereka di berbagai belahan dunia guna memberikan ancaman tersirat terkait masa depan hubungan bilateral.
Imbas dari ancaman ekonomi dan politik ini, belasan negara dilaporkan terpaksa membatalkan atau menurunkan level delegasi resmi mereka demi menghindari sanksi dari pihak AS.
Upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei sendiri memicu perhatian besar dunia karena menjadi titik balik penting pasca-konflik bersenjata yang menghancurkan kawasan sejak awal tahun.
Baca juga: Mojtaba Khamenei tak Hadiri Pemakaman Ayahnya, Sumber Iran Beber Soal Alami Luka Parah
Mendiang wafat akibat serangan militer udara gabungan sebelum akhirnya tercapai kesepakatan gencatan senjata permanen.
Di tengah absennya respons resmi dari Gedung Putih, klaim sepihak mengenai kehadiran hampir seratus delegasi asing ini diposisikan oleh Iran sebagai bentuk kegagalan pengaruh hegemoni Barat di mata internasional.
Menurut sumber tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Jumat (26/6/2026) diduga mengeluarkan arahan rahasia kepada seluruh kedutaan besar dan misi diplomatik AS.
Baca juga: Kenapa Ali Khamenei Baru Dikuburkan Setelah 4 Bulan? Iran Ungkap Alasan Penundaan Pemakaman
Arahan itu, menurut klaim Iran, memerintahkan para diplomat menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk meyakinkan negara tuan rumah bahwa kehadiran dalam pemakaman Khamenei akan dianggap sebagai tindakan yang tidak bersahabat dan dapat membawa konsekuensi negatif terhadap hubungan bilateral dengan Washington.
Tasnim juga mengutip dua diplomat Arab yang tidak disebutkan namanya.
Mereka mengeklaim Rubio secara langsung menghubungi mitranya di sedikitnya lima negara Arab untuk mendesak agar tidak menghadiri upacara tersebut.
Sumber Iran juga menuduh para duta besar AS di sejumlah negara Afrika memperingatkan pemerintah setempat bahwa kehadiran dalam upacara pemakaman dapat membahayakan bantuan pembangunan dari AS.
Baca juga: Iran Siapkan Pemakaman Ali Khamenei 4-9 Juli 2026, Prosesi Digelar di Teheran, Irak dan Mashhad
Menurut sumber tersebut, tekanan itu menyebabkan satu negara besar di Afrika Utara menurunkan tingkat keterwakilannya dalam prosesi pemakaman.
Menurut penilaian pihak Iran, sedikitnya 13 negara akhirnya membatalkan kehadiran mereka karena tekanan dari Amerika Serikat.
Negara-negara tersebut, menurut sumber Iran, terbagi ke dalam beberapa wilayah strategis dunia:
Eropa Timur: Sebanyak 3 negara memutuskan untuk membatalkan pengiriman utusan resmi.
Baca juga: Serangan Iran Bikin Pangkalan AS Rusak Parah, Donald Trump Hadapi Tekanan, Pentagon Siapkan Relokasi
Afrika: Sebanyak 5 negara membatalkan kehadiran pasca-adanya peringatan terkait bantuan pembangunan.
Teluk Persia: Sebanyak 2 negara Arab di kawasan ini memilih absen dari prosesi.
Asia Timur: Sebanyak 2 negara besar di wilayah ini turut membatalkan rencana kehadiran mereka.
Laporan Tasnim juga menyebut beberapa pemerintah yang akhirnya tidak hadir kemudian berupaya menjelaskan keputusan mereka kepada Teheran melalui jalur diplomatik.
Baca juga: AS dan Iran Lanjutkan Negosiasi di Qatar usai Ketegangan Selat Hormuz, Serangan Dihentikan Sementara
Sebagian di antaranya disebut menawarkan untuk mengirim diplomat tingkat rendah yang telah berada di Teheran, tetapi tawaran tersebut diklaim ditolak oleh Iran.
Terlepas dari dugaan tekanan tersebut, Iran mengeklaim delegasi dari hampir 100 negara tetap menghadiri prosesi pemakaman pada Jumat.
Adapun Khamenei, mantan Pemimpin Tertinggi Iran, meninggal dunia dalam serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari.
Jenazahnya baru dimakamkan setelah AS dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Pelayat dalam jumlah masif dilaporkan berkumpul di luar Grand Mosalla untuk memberi penghormatan terakhir kepada mendiang mantan Pemimpin Tertinggi Iran ketika prosesi pemakamannya dimulai di Teheran pada Sabtu (4/7/2026).
Sementara itu, hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS mengenai tuduhan Iran tersebut. (*)