- Pagi di Jalan Mawar, Desa Padang, Manggar, terlihat seperti pagi biasa.
Puluhan kendaraan bermotor lalu lalang melewati jalan yang tak begitu ramai itu.
Sekilas tak ada yang istimewa di kawasan ini dan tidak ada papan nama besar, tidak pula spanduk yang menandakan keberadaan sebuah usaha.
Namun siapa sangka, di balik sebuah gang sempit yang tertutup pagar seng sederhana, tersimpan rumah produksi kue kering yang sudah melegenda di Manggar.
Aroma mentega yang dipanggang langsung menyapa begitu mendekati pagar.
Wangi cokelat dengan taburan kacang menyeruak ke jalan, seolah menjadi penanda tak kasat mata bagi siapa saja yang melintas.
Begitu pintu pagar dibuka, aktivitas produksi terlihat sibuk.
Tumpukan kue yang sudah dikemas rapi dalam plastik berjajar di meja, siap diambil para pelanggan.
Di balik usaha ini, berdiri sosok muda bernama Nilam Wahyuni.
Di usianya yang baru 24 tahun, ia kini meneruskan bisnis keluarga yang telah berjalan sejak tahun 1980.
Usaha tersebut dirintis oleh sang kakek, kemudian diteruskan oleh orang tuanya, hingga akhirnya kini berada di tangan Nilam sebagai generasi ketiga.
Di dalam ruang produksi, suasana terasa hangat dan padat aktivitas. Enam orang karyawan duduk mengelilingi meja besar, membentuk adonan kue satu per satu secara manual.
Jemari mereka bergerak cepat dan terampil, memastikan setiap keping kue memiliki bentuk yang rapi dan presisi.
Di meja lain, seorang pegawai sibuk mengoperasikan mesin pres plastik untuk menyegel kemasan, sementara rekannya menata kue ke dalam cup kecil.
Ramadhan tahun ini membawa cerita tersendiri bagi rumah produksi NW.
Di tengah ratusan pesanan yang datang, satu pesanan mencuri perhatian.
Sebanyak 100 kilogram kue kacang dipesan sekaligus untuk kebutuhan arisan di Tanjungpandan.
Kue kacang sendiri memang menjadi primadona dari 19 varian kue kering yang diproduksi di sini.
Teksturnya yang renyah namun lumer di mulut membuatnya selalu diburu pelanggan.
Di bagian belakang rumah produksi, dua oven gas berukuran besar terus bekerja memanggang loyang demi loyang kue.
Hawa panas sesekali menyapu ruangan, sementara kipas angin berputar mencoba meredakan gerah.
Meski begitu, para pekerja tetap bekerja dengan ritme cepat untuk mengejar pesanan sebelum Lebaran tiba.
Selama bulan Ramadhan, seluruh aktivitas produksi difokuskan pada kue kering.
Berbeda dengan hari biasa, ketika Nilam juga membuat kue basah seperti bakpia dan bolen untuk dititipkan di toko.
Harga kue produksi NW berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp160 ribu per kilogram.
Menariknya, rumah produksi ini tidak memasang spanduk atau papan nama di depan rumah.
Selama lebih dari empat dekade, usaha ini berkembang berkat loyalitas pelanggan yang mengenalnya dari mulut ke mulut.
Kini, Nilam juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan usaha yang dirintis kakeknya.
Meski sempat terpukul saat pandemi melanda, usaha keluarga ini perlahan kembali bangkit.
Bagi Nilam, setiap keping kue yang keluar dari dapur sederhana itu bukan sekadar produk jualan.
Melainkan simbol ketekunan keluarga yang telah menjaga rasa yang sama selama puluhan tahun.
Ia pun berharap, usaha yang diwariskan kepadanya ini bisa terus bertahan dan dikenal lebih luas.
Program: Local Experience
Editor: Akmal Khoirul Habib
#localexperience #umkm #usaharumahan #usaha #usahakuliner #usahakue #kuekering #kuliner #usahamenjanjikan #kuekering #inspiratif