TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Fenomena cuaca ekstrem yang ditandai dengan panas terik di siang hari dan suhu dingin pada malam hingga menjelang pagi kini tengah melanda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Dinas Kesehatan DIY memperingatkan masyarakat mengenai tingginya ancaman penyakit menular lewat udara (airborne) seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), serta pentingnya menjaga hidrasi tubuh.
Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H., menyampaikan bahwa kombinasi panas terik dan paparan polusi membuat risiko penularan penyakit saluran pernapasan meningkat tajam. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih ketat dalam menjaga imunitas dan pola hidup sehat.
"Jadi yang menjadi masalah, yang menjadi perhatian kita adalah cuaca yang sangat terik ini ya. Sangat terik itu risiko penyakit-penyakit yang kemudian menyebar melalui airborne atau melalui droplet itu, melalui udaralah, itu cukup tinggi, infeksi saluran pernapasan atas dan sebagainya. Itu sangat tergantung dari kondisi tubuh kita. Nah, karena paparan dari luar polusi dan sebagainya, pasti akan lebih tinggi ditambah panas, itu berarti kesehatan kita harus kita jaga," urai dr. Anung, Senin (6/7).
Langkah mitigasi paling krusial di tengah cuaca panas ini adalah memastikan asupan cairan tubuh tercukupi. dr. Anung memberikan perhatian khusus kepada para pekerja lapangan agar secara sadar mengurangi paparan langsung sinar matahari yang dapat memicu evaporasi (penguapan) cairan secara masif lewat kulit. Masyarakat dapat dengan mudah memantau kecukupan hidrasi secara mandiri melalui indikator warna urine.
"Ya kalau pekerja, pakai pelindung lah. Bukan berarti tidak boleh bekerja di sinar matahari langsung ya, tapi kan kemudian pakai pelindung, pakai topi. Kalau toh harus seperti itu karena penguapannya banyak, yang keluar lewat pori-pori banyak, minum air putihnya ditambah. Rata-rata kan kebutuhan cairan kita paling kan normal sekitar 1,5 liter sampai 2 liter lah. Nah kalau kepanasan dan sebagainya, ditambah. Gampang kok, indikatornya gampang. Lihat kencing dari bapak ibu semua. Kencingnya sudah mulai keruh, hampir pasti itu kurang. Gitu ya," tegasnya.
Meski suhu di DIY tergolong sangat terik, dr. Anung memastikan bahwa angkanya belum menyentuh level ekstrem seperti 40 derajat Celcius yang terjadi di beberapa negara lain, mengingat hujan sesekali masih turun di wilayah DIY.
Selain terik di siang hari, suhu yang bisa turun hingga belasan derajat Celcius pada malam dan dini hari menjadi ancaman tersendiri, terutama bagi warga yang memiliki riwayat alergi dan asma. Perubahan cuaca yang drastis ini kerap menjadi pemicu utama kambuhnya gangguan saluran pernapasan dan masalah kulit.
"Nah, untuk temen-temen atau masyarakat terutama yang alergi ini juga kemudian risiko meningkatnya tinggi kan. Karena kan alergi itu bisa dipicu oleh panas itu bisa kemudian gatal, kalau dingin sesak napas, gatal dan sebagainya juga kemudian bisa terjadi," jelas dr. Anung.
Ia menambahkan, suhu dingin secara umum tidak memicu komplikasi kesehatan serius bagi masyarakat tanpa riwayat medis bawaan. Namun, bagi penderita asma, paparan udara dingin secara langsung wajib dihindari.
"Kalau dingin kita kan paling di suhu-suhu belasan ya masih ya, yang yang menjadi masalah untuk penderita itu biasanya orang-orang yang mempunyai alergi-alergi saluran napas. Selain itu kok tidak ada masalah kesehatan serius yang berpotensi kambuh ketika kemudian dingin. Yang dingin banget itu ya kalau kemudian dia penderita asma ya jangan sampai kemudian terpapar langsung dingin," pungkasnya.