TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (6/7/2026) siang.
Berdasarkan data Bloomberg, sekitar pukul 14.02 WIB, rupiah anjlok ke level Rp18.007 per dolar AS.
Namun, sore harinya rupiah perlahan meninggalkan level Rp18.000 dan ditutup melemah 32 poin ke level Rp 17.995 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp 17.963 per dolar AS.
Baca juga: Siang Ini, Rupiah Ambruk Lagi di Atas Rp18.000 per Dolar AS
Pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen negatif dari revisi outlook utang Indonesia oleh Fitch Ratings menjadi negatif dan kembali terjadinya defisit neraca perdagangan, meski Bank Indonesia (BI) terus mengintensifkan intervensi di pasar.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar merespons negatif laporan terbaru Fitch Ratings yang menyoroti rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia.
Menurutnya, perhatian utama lembaga pemeringkat tersebut bukan hanya pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, dan derasnya arus modal keluar, tetapi juga menurunnya kepercayaan investor akibat memburuknya tata kelola ekonomi.
"Ujungnya, lembaga pemeringkat itu memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia, yang pada Maret 2026 masih dipertahankan pada level BBB dan prospek (outlook) direvisi menjadi negatif," ungkap Ibrahim dalam keterangan, Senin (6/7/2026).
Selain sentimen Fitch, pasar juga dibayangi defisit neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
BI juga memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar guna menjaga stabilitas pasar keuangan.
Untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.990 hingga Rp 18.050 per dolar AS.