Kisah Devi, Petani Muda di Belitung Timur Raih Ijazah Paket C setelah Putus Sekolah sejak Kelas 3 SD
Ardhina Trisila Sakti July 06, 2026 08:23 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Di tengah hamparan sawah Desa Aik Kelik, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur, terdapat seorang gadis remaja berusia 20 tahun yang sudah akrab memegang gagang cangkul.

Setiap hari, keringatnya menetes demi menanam padi dan mengurus lahan pertanian.

Gadis itu adalah Devi Khusnul Khotimah. Bagi teman-teman sekitarnya, Devi kerap dipanggil 'CEO', sebuah sebutan yang muncul karena kemandiriannya dalam mengelola sawah sendiri sejak usia belia. 

Namun di balik kiprah Devi di sawah, ada sebuah rahasia yang tersimpan selama bertahun-tahun.

Devi adalah seorang anak putus sekolah yang pendidikannya terhenti di bangku kelas tiga Sekolah Dasar (SD).

Keadaan hidup memaksa Devi untuk memilih ladang daripada tumpukan buku pelajaran.

Devi sebenarnya merupakan warga pendatang asal Magelang, Jawa Tengah.

Keluarganya memutuskan untuk merantau dan mengadu nasib ke Pulau Belitung demi mencari penghidupan yang lebih baik.

"Kemarin sempat masuk sekolah dasar, tapi memang enggak tamat. Cuma bisa sampai kelas 3 SD saja karena bapak ada kerjaan di luar," ujar Devi dalam keterangannya, Senin (6/7/2026). 

Warga belajar asal Desa Aik Kelik, Kecamatan Damar, Devi Khusnul Khotimah (20), saat menerima ijazah Paket C di Dinas Pendidikan Belitung Timur, beberapa waktu lalu. Sempat putus sekolah sejak kelas 3 SD demi membantu orang tua bertani, gadis ini akhirnya berhasil menuntaskan pendidikan menengahnya melalui program kesetaraan di PKBM Seroja.
Warga belajar asal Desa Aik Kelik, Kecamatan Damar, Devi Khusnul Khotimah (20), saat menerima ijazah Paket C di Dinas Pendidikan Belitung Timur, beberapa waktu lalu. Sempat putus sekolah sejak kelas 3 SD demi membantu orang tua bertani, gadis ini akhirnya berhasil menuntaskan pendidikan menengahnya melalui program kesetaraan di PKBM Seroja. (DiskominfoSP Beltim)

Akibat tuntutan ekonomi keluarga dan pekerjaan sang ayah, Devi terpaksa harus mengorbankan bangku sekolah formalnya demi ikut membantu ekonomi orang tua. 

Dalam ceritanya, anak bungsu dari empat bersaudara ini juga mengatakan seluruh saudara laki-lakinya memiliki nasib yang hampir sama.

Dari empat bersaudara, hanya kakak tertuanya saja yang berhasil menamatkan sekolah formal.

"Abang-abangku ikut sekolah paket juga dua-duanya. Yang lulus dari sekolah formal itu cuma kakakku yang paling tua," ucapnya. 

Sejak 2018, Devi sudah hidup di sawah untuk menanam padi. Aktivitas fisik seperti mencangkul dan membajak sawah sudah menjadi rutinitas harian yang ia pilih tanpa paksaan.

"Mulai bersawah itu dari tahun 2018. Sebenarnya dari umur sembilan tahun saya sudah terbiasa ke sawah, tapi itu murni karena keinginan saya sendiri untuk bantu orang tua," katanya. 

Namun di tengah kesibukan bertani, keinginan untuk menjadi orang yang berpendidikan tak pernah padam.

Titik itu muncul ketika dirinya mendapatkan informasi mengenai adanya program pendidikan kesetaraan nonformal.

Devi mengaku awalnya hanya iseng-iseng mendaftarkan diri karena tertarik pada sistem belajar sekolah paket yang tidak seketat sekolah pada umumnya.

"Saya dapat info kalau ada sekolah paket. Jadi saya iseng-iseng masuk, ternyata sistemnya lumayan membantu sekali," ungkapnya. 

Singkat cerita, Devi menempuh jalur Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), hingga Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Seroja, Desa Kelubi, Manggar.

Orang tua Devi sebenarnya sempat ragu terhadap pembagian waktu jika Devi memaksakan diri masuk sekolah formal, mengingat dirinya masih sangat dibutuhkan di sawah setiap hari. 

"Sebenarnya orang tua bukan melarang, tapi kurang mendukung kalau di formal. Karena kalau sekolah formal kan waktunya kaku, kurang bisa untuk disambi kegiatan lain. Kalau sekolah paket kan gampang, waktunya lebih fleksibel jadi tetap bisa kerja ke kebun dan sawah," jelasnya.

Pilihan ini tentunya tak mudah dan menuntut pengorbanan yang luar biasa untuk Devi.

Setiap kali jadwal kelas tiba, ia harus menempuh perjalanan sejauh 40 kilometer dari kediamannya di Damar menuju lokasi PKBM Seroja di Kecamatan Manggar.

Rasa lelah saat bekerja di sawah harus ia tahan demi bisa mengenyam bangku pendidikan. 

Pilihan tersebut akhirnya berbuah manis pada akhir bulan Juni kemarin.

Tepat pada Senin, 29 Juni lalu Devi pergi ke Ruang Pertemuan Ibu Muslimah, Dinas Pendidikan Belitung Timur, Desa Padang, Kecamatan Manggar. 

Hari itu ia hadir untuk menerima selembar kertas yang telah ia perjuangkan selama bertahun-tahun, yaitu Ijazah Paket C.

Momen haru pecah saat nama Devi menerima Ijazah kelulusan setingkat SMA tersebut. Bagi Devi, ijazah tersebut adalah kemenangan atas perjuangan panjangnya. 

Kini, setelah bertahun-tahun, jerih payah Devi terbayar lunas disertai predikat lulusan sekolah menengah.

Di sisi lain, ia juga sukses mengelola sepetak sawah pribadinya. 

Setelah mendapatkan ijazah Paket C, Devi mengaku masih ingin fokus pada sawah padinya untuk sementara waktu. 

"Mungkin nanti lah dipikir-pikir lagi, tapi untuk sekarang belum kepikiran sih mau langsung lanjut kuliah atau ambil Universitas Terbuka (UT), belum tahu. Nanti dilihat dulu kedepannya," ucapnya. 

Meski begitu, Devi berharap dirinya bisa mencicipi bangku perkuliahan suatu saat nanti, asalkan tekad dan kondisi ekonominya sudah benar-benar mapan.

"Kalau ada keberanian dan jalannya, mau. Tapi yang paling penting itu rezeki dan niatnya dulu, kan? Intinya sekarang bersyukur dulu sudah bisa lulus," tutupnya.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.