Kementerian Pertahanan Rusia: Lebih dari 600 Drone Ukraina Ditembak Jatuh dalam Semalam
Hasiolan Eko P Gultom July 07, 2026 12:38 AM

Kementerian Pertahanan Rusia: Lebih dari 600 Drone Ukraina Ditembak Jatuh dalam Semalam

 

TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim berhasil menggagalkan salah satu serangan drone terbesar yang dilancarkan Ukraina sejak perang berlangsung.

Menurut Moskow, lebih dari 600 pesawat nirawak (UAV) berhasil ditembak jatuh atau dilumpuhkan dalam serangan yang menyasar lebih dari 20 wilayah Rusia, termasuk ibu kota Moskow dan Semenanjung Krimea.

Baca juga: Rusia Klaim Hantam Industri Pertahanan Ukraina Jelang KTT NATO, Kyiv Sebut 34 Lokasi Jadi Sasaran

Dalam pernyataan yang dirilis Senin (6/7/2026), Kementerian Pertahanan Rusia menyebut serangan dilakukan sepanjang malam dan terutama menargetkan infrastruktur energi di sejumlah wilayah, seperti Bryansk, Belgorod, Leningrad, Yaroslavl, Kaluga, serta Krimea.

Menurut data militer Rusia, 147 drone berhasil dihancurkan di wilayah Bryansk, sementara 64 drone dicegat di atas Krimea.

Selain ditembak jatuh menggunakan sistem pertahanan udara, sebagian drone disebut berhasil dinetralisasi melalui perang elektronik (electronic warfare), yakni teknologi yang mengganggu sistem navigasi maupun komunikasi drone sehingga kehilangan kendali.

Rusia Kaitkan Serangan dengan KTT NATO

Kementerian Pertahanan Rusia menuduh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memerintahkan serangan tersebut menjelang KTT NATO di Ankara pada 7–8 Juli.

Menurut Moskow, serangan itu dimaksudkan untuk menunjukkan kepada negara-negara pendukung Ukraina bahwa Kyiv masih mampu menyerang wilayah Rusia, sekaligus mendorong peningkatan bantuan militer Barat.

Pernyataan tersebut merupakan klaim sepihak dari pemerintah Rusia dan belum dapat diverifikasi secara independen.

Moskow Ancam Tingkatkan Serangan Balasan

Rusia memperingatkan bahwa peningkatan pasokan drone, rudal, dan amunisi dari negara-negara Barat kepada Ukraina akan direspons dengan serangan balasan yang lebih sering dan lebih besar terhadap sasaran militer di Ukraina.

Moskow menyatakan setiap serangan terhadap infrastruktur sipil Rusia akan dibalas melalui operasi yang menargetkan fasilitas militer, pabrik persenjataan, pusat komando, hingga lokasi pengambilan keputusan strategis di Ukraina.

Peringatan ini muncul setelah Rusia sebelumnya mengumumkan serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap sejumlah fasilitas industri pertahanan Ukraina, termasuk pabrik drone dan pangkalan udara.

Krimea Alami Gangguan Listrik

Dampak paling nyata dari serangan drone kali ini terjadi di Krimea, yang mengalami pemadaman listrik berskala besar.

Operator jaringan listrik Krymenergo menyatakan gangguan terjadi akibat kerusakan pada jaringan tegangan tinggi yang dipicu "pengaruh eksternal". Gubernur Sevastopol, Mikhail Razvozhaev, mengatakan sebagian besar pasokan listrik berhasil dipulihkan pada pagi hari.

Selain Krimea, Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin melaporkan 11 drone berhasil dicegat saat mendekati ibu kota sehingga tidak menimbulkan kerusakan besar.

Serangan Drone Semakin Menjadi Senjata Utama

Dalam beberapa bulan terakhir, perang Rusia-Ukraina semakin ditandai oleh penggunaan drone jarak jauh oleh kedua belah pihak.

Drone menjadi pilihan karena biayanya relatif lebih murah dibanding rudal, tetapi mampu menjangkau sasaran yang berada ratusan kilometer dari garis depan.

Bagi Ukraina, serangan ke wilayah Rusia bertujuan mengganggu logistik, fasilitas energi, dan kemampuan industri militer lawan.

Sementara Rusia memanfaatkan serangan balasan untuk menghancurkan pabrik drone, depot bahan bakar, hingga lapangan terbang militer Ukraina.

Pola saling menyerang infrastruktur strategis ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi hanya berlangsung di garis depan, tetapi juga menyasar pusat-pusat industri dan energi yang menopang kemampuan perang masing-masing pihak.

Konsep Balasan Ala Putin

Serangan drone terbaru terjadi ketika Rusia mengklaim terus memperoleh kemajuan di medan perang Donbas. 

Pekan lalu, Moskow menyatakan berhasil merebut kota strategis Konstantinovka, yang disebut membuka jalan menuju kawasan Slavyansk-Kramatorsk, dua kota besar yang masih dikuasai Ukraina di wilayah Donetsk.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin juga memperingatkan kalau semakin banyak serangan Ukraina terhadap wilayah sipil Rusia, semakin luas pula "zona keamanan" yang akan dibentuk militer Rusia di wilayah perbatasan Ukraina.

Seperti halnya banyak perkembangan dalam perang Rusia-Ukraina, klaim mengenai jumlah drone yang ditembak jatuh maupun efektivitas serangan dari kedua belah pihak sulit diverifikasi secara independen karena keterbatasan akses di wilayah konflik.

(oln/rt/*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.