Rusia Klaim Hantam Industri Pertahanan Ukraina Jelang KTT NATO, Kyiv Sebut 34 Lokasi Jadi Sasaran
TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan telah melancarkan serangan rudal dan drone jarak jauh ke sejumlah wilayah Ukraina.
Rusia mengklaim serangan ini sebagai aksi balasan atas apa yang disebut Moskow sebagai "serangan teroris" oleh pemerintah Kyiv terhadap wilayah Rusia.
Baca juga: Keteteran Lawan UAV Ukraina, Rusia Kembangkan Peluru AK Khusus Pemburu Drone: Pecah Jadi 3 Proyektil
Dalam pernyataannya pada Minggu (6/7/2026), Kementerian Pertahanan Rusia menyebut sasaran utama operasi tersebut adalah fasilitas industri militer dan infrastruktur energi yang mendukung kemampuan tempur Ukraina.
Serangan dilaporkan menyasar Kyiv beserta wilayah sekitarnya, serta sejumlah pangkalan udara di Dnipropetrovsk, Poltava, Cherkasy, Chernihiv, dan Oblast Kyiv.
Menurut Moskow, beberapa fasilitas pertahanan strategis di ibu kota Ukraina menjadi target, di antaranya:
Di wilayah Kyiv, Rusia juga mengklaim menyerang pabrik milik negara Vizar, yang disebut terlibat dalam pemeliharaan sistem pertahanan udara dan drone jarak jauh, serta sebuah depot bahan bakar di dekat Kota Vishnyovoe yang diklaim memasok bensin dan solar bagi militer Ukraina.
Sejumlah media Ukraina sebelumnya menayangkan video yang memperlihatkan ledakan besar disertai ledakan susulan yang lazim terjadi ketika amunisi militer ikut meledak.
Media tersebut menyebut rekaman itu merupakan dampak serangan terhadap fasilitas Vizar di wilayah Kyiv.
Namun, informasi mengenai tingkat kerusakan maupun korban belum dapat diverifikasi secara independen.
Militer Ukraina melaporkan sedikitnya 34 lokasi terkena serangan langsung.
Dalam laporannya, Kyiv menyebut Rusia menggunakan 29 rudal balistik, dan tidak menyatakan adanya rudal-rudal tersebut yang berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Pernyataan ini dipandang sejumlah pengamat sebagai indikasi bahwa kemampuan pertahanan udara Ukraina menghadapi tekanan yang semakin besar, meski belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab kegagalan intersepsi tersebut.
Serangan besar ini terjadi menjelang KTT NATO di Ankara, ketika negara-negara anggota aliansi dijadwalkan membahas kelanjutan bantuan militer jangka panjang bagi Ukraina.
Menurut laporan sejumlah media Barat, masih terdapat perbedaan pandangan di antara anggota NATO mengenai besaran dan bentuk dukungan berikutnya untuk Kyiv.
Pemerintah Ukraina sebelumnya berpendapat bahwa peningkatan kemampuan serangan jarak jauh terhadap infrastruktur energi Rusia dapat mengubah keseimbangan konflik apabila memperoleh tambahan pendanaan miliaran dolar AS dari negara-negara Barat.
Konflik Rusia-Ukraina semakin ditandai oleh serangan terhadap infrastruktur strategis kedua belah pihak.
Rusia dalam beberapa bulan terakhir lebih sering mengklaim menargetkan industri pertahanan, fasilitas energi, dan logistik militer Ukraina, sementara Kyiv meningkatkan serangan drone jarak jauh ke wilayah Rusia, termasuk fasilitas energi dan pangkalan militer.
Moskow juga kembali menegaskan pandangannya bahwa Ukraina menghadapi kekurangan personel militer yang semakin serius.
Pemerintah Rusia menyatakan perpanjangan perang hanya menguntungkan pihak-pihak yang memperoleh manfaat dari bantuan luar negeri kepada Kyiv.
Hingga kini, klaim mengenai hasil serangan dari kedua pihak belum dapat diverifikasi secara independen.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun itu masih diwarnai perang informasi, sehingga rincian kerusakan maupun efektivitas operasi militer sering kali sulit dipastikan secara objektif.
(oln/rt/*)