SURYA.co.id, SURABAYA – Kota Surabaya, Jawa Timur, diperkirakan akan menikmati cuaca yang cukup bersahabat pada Selasa, 7 Juli 2026.
Berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG Juanda, langit Kota Pahlawan akan didominasi kondisi cerah pada dini hari hingga pagi sebelum berubah menjadi berawan mulai menjelang siang hingga malam.
Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat diperkirakan dapat berlangsung relatif lancar tanpa gangguan cuaca ekstrem.
Meski demikian, perubahan tutupan awan pada siang hari tetap perlu menjadi perhatian, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
Suhu udara juga diprediksi cukup hangat dengan kisaran 23 hingga 33 derajat Celsius.
Sementara itu, angin bertiup dari arah timur laut dengan kecepatan sekitar 21 kilometer per jam, sehingga masih tergolong normal untuk wilayah Surabaya.
Hingga prakiraan terakhir pukul 22.00 WIB, BMKG tidak menunjukkan potensi hujan di Kota Surabaya.
Kendati demikian, masyarakat tetap disarankan untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu.
Informasi prakiraan ini dapat menjadi acuan bagi warga yang akan bekerja, bersekolah, maupun melakukan perjalanan di dalam maupun luar kota.
Memasuki dini hari pukul 01.00 WIB, cuaca di Surabaya diprakirakan cerah. Kondisi ini berlanjut pada pukul 04.00 WIB dengan cuaca cerah berawan.
Saat pagi tiba, tepatnya pukul 07.00 WIB, langit kembali diprediksi cerah.
Cuaca tersebut memberikan kondisi yang cukup nyaman bagi masyarakat yang memulai aktivitas pagi seperti berangkat kerja, sekolah, maupun berolahraga.
Suhu udara pada pagi hari juga masih terasa sejuk sebelum meningkat secara bertahap menuju siang.
Memasuki pukul 10.00 WIB, kondisi cuaca mulai berubah menjadi berawan. Tutupan awan diperkirakan terus bertahan hingga pukul 13.00 WIB dan 16.00 WIB.
Meski berawan, suhu udara diperkirakan tetap cukup panas dengan kisaran maksimum mencapai 33 derajat Celsius.
Oleh karena itu, masyarakat tetap perlu menjaga asupan cairan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan agar terhindar dari dehidrasi akibat cuaca yang cukup terik.
Kecepatan angin dari arah timur laut sekitar 21 km/jam juga dapat memberikan sedikit kesejukan di tengah suhu udara yang hangat.
Pada malam hari, kondisi berawan diprakirakan masih bertahan.
BMKG memprediksi cuaca berawan terjadi pada pukul 19.00 WIB dan masih berlanjut hingga 22.00 WIB.
Tidak terdapat indikasi hujan dalam prakiraan cuaca harian tersebut sehingga aktivitas masyarakat pada malam hari diperkirakan tetap berjalan normal.
Meski begitu, warga tetap disarankan mengikuti pembaruan informasi cuaca apabila terjadi perubahan kondisi atmosfer secara tiba-tiba.
Prakiraan cuaca Selasa menunjukkan pola cuaca yang cukup khas pada musim kemarau di Surabaya, yakni pagi yang cerah kemudian berkembang menjadi berawan pada siang hingga malam.
Tutupan awan tersebut tidak selalu menjadi pertanda akan turun hujan, tetapi lebih berfungsi mengurangi intensitas penyinaran matahari pada sebagian waktu.
Dengan tidak adanya potensi hujan dalam prakiraan harian BMKG, mobilitas masyarakat diperkirakan tetap tinggi, terutama untuk kegiatan ekonomi, pendidikan, dan transportasi.
Meski demikian, suhu maksimum yang mencapai 33 derajat Celsius tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi agar masyarakat menjaga kondisi tubuh selama beraktivitas di luar ruangan.
Pembangunan saluran drainase yang sedang dipercepat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menjadi upaya penting untuk mengurangi banjir dan genangan.
Namun, di balik manfaat besar yang akan dirasakan masyarakat, aspek keselamatan selama proses pembangunan tidak boleh diabaikan oleh seluruh pihak yang terlibat.
Sejumlah insiden yang terjadi sepanjang Juni menjadi pengingat bahwa proyek infrastruktur di ruang publik menyimpan risiko apabila pengelolaannya tidak dilakukan secara maksimal.
Mulai dari warga yang terperosok ke area galian, genangan akibat saluran yang tertutup material proyek, hingga kemacetan di sekitar lokasi pekerjaan menjadi catatan yang harus dievaluasi agar tidak kembali terulang.
Sekretaris Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ir. Ratna Sari Dewi S.T., M.T., Ph.D., IPU., menilai persoalan tersebut bukan disebabkan oleh pembangunan proyek itu sendiri.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur tetap menjadi kebutuhan untuk mendukung pelayanan publik sekaligus mengatasi persoalan banjir di Surabaya.
"Kalau saya melihatnya, yang menjadi persoalan bukan karena proyeknya, karena pada dasarnya pembangunan infrastruktur memang diperlukan untuk mendukung tersedianya berbagai fasilitas publik. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana risiko selama proyek itu dikelola," ujarnya.
Ratna menjelaskan, setiap proyek yang berlangsung di ruang publik selalu memiliki potensi risiko, mulai dari kecelakaan, gangguan lalu lintas, hingga terganggunya aliran air.
Karena itu, seluruh potensi tersebut harus dipetakan sejak awal melalui analisis risiko yang matang dan diikuti langkah mitigasi selama pekerjaan berlangsung.
Ia mencontohkan area galian harus dilengkapi pagar pembatas yang jelas, penerangan memadai pada malam hari, serta informasi jalur alternatif yang mudah dipahami masyarakat.
"Dari sisi keilmuan ergonomi dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), kita percaya bahwa keselamatan tidak boleh hanya bergantung pada kewaspadaan masyarakat. Lingkungan tempat masyarakat beraktivitas juga harus dirancang agar secara alami membantu orang tetap aman," katanya.
Ratna mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya yang melakukan evaluasi serta memperkuat pengamanan proyek setelah sejumlah insiden terjadi. Menurutnya, setiap kejadian semestinya menjadi momentum untuk memperbaiki sistem keselamatan agar proyek berjalan lebih aman.
"Menurut saya itu langkah yang baik, karena setiap insiden harus menjadi pembelajaran untuk memperbaiki sistem, bukan hanya menyelesaikan proyeknya," imbuhnya.
Ia menegaskan keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada pemerintah maupun kontraktor. Pemerintah harus memastikan setiap proyek dilengkapi analisis risiko yang komprehensif, tidak hanya dari sisi konstruksi, tetapi juga dampaknya terhadap lalu lintas, drainase, hingga keselamatan pengguna jalan.
Di sisi lain, kontraktor wajib menerapkan standar keselamatan secara konsisten melalui pemasangan rambu, pagar pembatas, lampu peringatan, hingga penempatan petugas yang benar-benar mempertimbangkan kondisi pengguna jalan.
"Kadang kita merasa rambu sudah dipasang, tetapi pertanyaannya apakah benar-benar mudah dilihat oleh pengendara? Apakah cukup jelas saat malam hari atau ketika hujan deras? Ini yang dalam ergonomi disebut sebagai human centered design," jelas perempuan yang telah menyelesaikan program doktoralnya di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) ini.
Selain pemerintah dan kontraktor, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman selama proyek berlangsung. Ratna mengimbau warga mematuhi rambu lalu lintas, mengurangi kecepatan saat melintasi lokasi pekerjaan, serta segera melaporkan apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan.
"Jadi keselamatan itu sebenarnya merupakan tanggung jawab bersama," tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri menerobos jalan yang telah ditutup hanya demi menghemat waktu. Tindakan tersebut justru berpotensi membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lain.
Apabila menemukan pagar proyek rusak, lampu peringatan padam, atau genangan yang menutupi area galian, masyarakat diminta segera melaporkannya melalui kanal resmi pemerintah agar dapat segera ditindaklanjuti.
Ratna mengakui proyek infrastruktur memang kerap menimbulkan ketidaknyamanan sementara. Namun, apabila risiko dapat dikelola dengan baik, manfaat pembangunan akan jauh lebih besar bagi masyarakat.
"Saya tentu tidak bisa memberikan penilaian terhadap seluruh proyek karena belum melakukan audit K3 secara langsung. Tetapi jika sampai terjadi kecelakaan yang melibatkan masyarakat, itu menjadi sinyal bahwa ada aspek keselamatan yang perlu dievaluasi lebih lanjut," kata pakar Human Factors/Ergonomics ITS ini.
Menurut alumni Institut Teknologi Bandung tersebut, setiap insiden dalam manajemen keselamatan harus dipandang sebagai kesempatan memperbaiki sistem, bukan sekadar mencari pihak yang bersalah.
"Fokusnya melihat bagian mana yang perlu diperkuat, apakah pengamanan lokasi, komunikasi kepada masyarakat, pengawasan, atau prosedur pelaksanaannya. Saya mengapresiasi apabila setelah kejadian dilakukan evaluasi dan perbaikan. Justru budaya keselamatan yang baik adalah budaya yang mau belajar dari setiap insiden. Semoga pemerintah dan masyarakat Surabaya bisa mengarah ke budaya keselamatan yang lebih baik," ujarnya.
Ratna juga mengajak masyarakat tetap mendukung pembangunan saluran drainase yang dilakukan Pemkot Surabaya sebagai investasi jangka panjang untuk mengurangi banjir dan genangan. Menurutnya, pembangunan dan keselamatan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Ia menyarankan masyarakat mengurangi kecepatan saat melintasi area proyek, terutama ketika malam hari atau hujan, mengikuti arahan petugas, tidak menerobos pembatas proyek, memanfaatkan jalur alternatif apabila memungkinkan, serta segera melaporkan potensi bahaya yang ditemukan.