Dinsos Kalsel Ungkap Tantangan Sekolah Rakyat Jenjang SD, Orang Tua Berat Lepas Anak ke Asrama
Ratino Taufik July 07, 2026 03:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU – Sistem pendidikan berasrama (boarding school) masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan Program Sekolah Rakyat di berbagai daerah.

Kendala terbesar bukan terletak pada ketersediaan calon peserta didik, tetapi kesiapan orang tua melepas anak-anak usia sekolah dasar untuk tinggal jauh dari keluarga.

Gambaran itu terlihat di Daerah Istimewa Yogyakarta, di mana kuota Sekolah Rakyat jenjang SD yang disiapkan untuk 90 siswa baru terisi tujuh orang. Banyak orang tua masih enggan mengizinkan anaknya tinggal di asrama, meski seluruh biaya pendidikan ditanggung pemerintah.

Kondisi serupa juga dihadapi Kalimantan Selatan. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kalsel, Farhanie mengatakan persoalan tersebut hampir menjadi tantangan bersama di seluruh Indonesia, khususnya pada jenjang SD.

“Memang persoalan di Indonesia sama. Orang tua berat melepas anak atau anaknya yang tidak bisa lepas dari orang tua karena masih usia SD. Memang itu yang menjadi tantangan Sekolah Rakyat karena sifarnya boarding,” katanya, Selasa (7/7/2026).

Menurut Farhanie, tantangan itu hanya dirasakan pada jenjang SD. Sementara untuk SMP dan SMA, proses pemenuhan kuota relatif berjalan lancar karena siswa maupun orang tua dinilai lebih siap menjalani sistem pendidikan berasrama.

“Kalau jenjang SMP-SMA aman. Untuk SD yang memang agak berat,” ujarnya.

Baca juga: Riset ULM Tawarkan Rumah Murah yang Nyaman di Lahan Basah Kalsel

Ia mengungkapkan, setiap Sekolah Rakyat menargetkan penerimaan sekitar 90 diswa jenjang SD. Namun, angka tersebut sulit dipenuhi, termasuk di Kalsel.

“Saya belum terlalu mengikuti update-nya, karena data langsung dipegang kabupaten/kota. Tetapi informasi yang didengar sebulan lalu, rata-rata sudah di atas 30 siswa baru untuk jenjang SD,” ungkapnya.

Farhanie menjelaskan, proses penjaringan calon siswa Sekolah Rakyat dilakukan oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) masing-masing kabupaten/kota.

Maka dari itu, ia menilai keberhasilan pemenuhan kuota sangat bergantung pada intensitas sosialisasi di lapangan.

“Sosialisasi dan keaktifan teman-teman PKH sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat,” tuturnya/

Menurutnya, semakin baik pemahaman masyarakat terhadap konsep Sekolah Rakyat, semakin besar pula peluang kuota siswa terpenuhi.

Ia berharap para pendamping PKH terus aktif memberikan edukasi kepada keluarga calon peserta didik agar keraguan terhadap sistem sekolah berasrama, khususnya bagi anak usia SD dapat perlahan teratasi.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.