Grand Prix Inggris pada hari Minggu berakhir dengan kontroversi yang sudah tidak asing lagi. Insiden kecelakaan di lap-lap akhir yang melibatkan Max Verstappen memunculkan safety car dengan empat lap tersisa, menciptakan situasi di mana para pembalap harus mengambil keputusan berisiko — apakah akan mempertahankan posisi atau masuk pit untuk mengganti ban menjelang kemungkinan balapan satu lap terakhir. Lewis Hamilton memilih untuk masuk pit dan turun ke posisi ketiga — sebuah keputusan yang tampak brilian ketika grafik di siaran televisi menunjukkan bahwa akan ada satu lap restart, memberinya peluang untuk membalas kejadian di Abu Dhabi tahun 2021. Namun, balapan justru berakhir di belakang safety car, dan Hamilton kehilangan posisi kedua dari rival perebutan gelar, George Russell, tanpa alasan berarti.
Pihak Formula 1 menyalahkan kebingungan yang muncul di siaran tersebut pada kesalahan perangkat lunak. Prosedur otomatis yang mewajibkan satu lap penuh setelah proses unlapping biasa membuat restart potensial itu tidak sah, berbanding terbalik dengan keputusan yang pernah diambil oleh mantan direktur balapan Michael Masi pada tahun 2021. Hal itu membuat Hamilton kehilangan kesempatan untuk merebut posisi kedua, atau bahkan mungkin mencoba meraih kemenangan... namun persoalannya jauh lebih besar daripada sekadar kejadian dalam satu balapan ini.
Dalam Formula 1, jalur pit tidak ditutup ketika safety car keluar, berbeda dengan praktik di balapan Amerika, di mana pit lane akan ditutup. Kondisi pit lane yang tetap terbuka memberi keuntungan besar bagi pembalap yang berhenti di bawah kondisi ini. Jalur pit yang tetap dibuka mengubah dinamika siapa yang memiliki kesempatan untuk berhenti tanpa kehilangan posisi, memberikan keuntungan bagi pembalap yang memiliki jarak cukup jauh dari mobil di belakangnya untuk berhenti tanpa kehilangan tempat, sambil tetap bisa bereaksi terhadap keputusan lawan mereka yang mungkin sudah mengganti ban lebih dulu.
Dalam kondisi balapan normal, aturan ini sebenarnya membuat waktu keluarnya safety car menjadi lebih adil, bukan sebaliknya. Dengan tidak menutup jalur pit, pembalap tidak terlalu dirugikan jika mereka “terjebak” oleh kecelakaan yang terjadi di antara jadwal pit stop mereka dan lawan-lawan mereka. Namun, situasi ini berubah di akhir balapan, ketika pergantian ban bukan lagi bagian dari strategi panjang untuk memaksimalkan kecepatan, melainkan langkah taktis yang diambil di menit-menit terakhir.
Dalam situasi di mana balapan mungkin atau mungkin tidak dilanjutkan, pembalap di posisi kedua yang terpaut lima detik dari pemimpin dengan jarak cukup jauh dari posisi ketiga justru memiliki keuntungan besar. Jika sang pemimpin masuk pit, pembalap kedua bisa tetap di lintasan dan mungkin saja meraih kemenangan karena keberuntungan, seperti yang dialami Russell di Silverstone. Sebaliknya, jika sang pemimpin tidak masuk pit, pembalap kedua bisa mengganti ban dan mendapatkan keuntungan besar untuk sprint terakhir, seperti yang dilakukan Verstappen di Abu Dhabi tanpa hukuman apa pun. Dengan kata lain, munculnya safety car menciptakan dua peluang baru untuk menang yang sebelumnya tidak ada.
Daripada terus memperumit hal ini, Formula 1 sebenarnya bisa saja menutup jalur pit di bawah kondisi safety car pada beberapa lap terakhir balapan. Pengecualian bisa diberikan kepada pembalap yang membutuhkan perbaikan darurat. Sementara pembalap yang belum memenuhi kewajiban menggunakan lebih dari satu jenis ban selama balapan dapat masuk pit setelah seluruh mobil berkumpul di belakang safety car, seperti yang berlaku di IndyCar atau IMSA. Hukuman untuk melakukan hal ini memang besar, tetapi Formula 1 sudah terbiasa dengan konsekuensi besar akibat kesalahan yang terjadi di akhir balapan — seperti penalti lima detik Kimi Antonelli yang menjadi sangat merugikan karena kemunculan safety car di Grand Prix Inggris hari Minggu itu.
Ada preseden untuk perubahan aturan safety car di akhir balapan di level ini. IMSA menggunakan sistem “fast yellows” yang mengabaikan prosedur pit panjang agar balapan dapat dilanjutkan lebih cepat di akhir lomba. FIA World Endurance Championship memiliki prosedur unlapping dan penggabungan tiga grup yang rumit di Le Mans, tetapi aturan itu dihentikan dalam satu jam terakhir lomba dengan alasan yang sama. Formula 1 dapat mengikuti contoh dari kedua seri tersebut dengan sedikit menyesuaikan prosedur safety car-nya untuk menjaga kualitas dan integritas tontonan yang mereka jual.
Langkah ini akan langsung menyelesaikan situasi “lempar koin” yang harus dihadapi tim dalam kondisi seperti ini. Dengan membiarkan seluruh pembalap tetap menggunakan ban yang sama seperti sebelum safety car keluar, balapan satu lap terakhir akan menjadi lebih adil dan lebih merepresentasikan persaingan sebenarnya sebelum intervensi safety car. Selain meningkatkan kualitas balapan, langkah ini juga akan menyelamatkan kita dari perdebatan berulang tentang insiden memalukan di Abu Dhabi 2021. Dengan mengatasi akar masalah yang menyebabkan kekacauan tersebut, bukan sekadar memperbaiki prosedur yang dilanggar, Formula 1 dapat menciptakan seri yang lebih adil dan lebih sesuai dengan semangat balapan sprint sejati yang seharusnya diwakilinya.