TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Pelayanan kemanusiaan di Kabupaten Malinau Kalimantan Utara masih dihadapkan pada tantangan besar pemenuhan kebutuhan medis darurat.
Kondisi tersebut disampaikan Ketua Umum PMI Malinau, Ernes Silvanus dalam Musyawarah Kabupaten ke-II Palang Merah Indonesia Kabupaten Malinau, Selasa (7/7/2026).
Hingga saat ini, kebutuhan pasokan kantong medis darurat tersebut selalu muncul secara berkala dalam hitungan hari.
Ernes Silvanus menyampaikan, setiap pekan selalu ada laporan mengenai warga yang membutuhkan bantuan darurat di fasilitas kesehatan.
Baca juga: Mahasiswa dan Mahasiswi Politeknik Bisnis Kaltara Ikut Donor Darah di BNNP, Sempat Ada yang Gugup
"Memang kendala kami sampai saat ini permasalahan darah ya. Darah ini yang masih permasalahan bagi kami. Sementara biasanya per minggu itu ada saja yang butuh darah," ujar Ernes Silvanus.
Animo dan kesadaran masyarakat lokal dalam mendonorkan darah sebenarnya dinilai sudah sangat baik di lapangan.
Namun proses pemenuhan cadangan sering kali terhambat kondisi fisik calon pendonor saat pemeriksaan medis.
Pengurus daerah juga mulai merancang sasaran strategis dengan melibatkan sektor swasta di wilayah sekitar.
Sejumlah badan usaha dan perusahaan besar diimbau untuk ikut mengambil peran sebagai pembina donor darah.
Langkah kolaborasi tersebut diambil karena operasional pelayanan tidak dapat bersandar sepenuhnya pada bantuan daerah.
Baca juga: Stok Darah Kritis, PMI Nunukan Gelar Donor dan Beri Paket Sembako Bagi 80 Pendonor Pertama
"Kalau kita diberharap murni dari APBD kita juga mengalami kesulitan. Nah, mungkin nanti ada pengalaman dari PNI provinsi untuk memberi Pak mungkin seperti ini ya teman-benar seperti ini. Itu intinya," ucap Ernes Silvanus.
Komitmen bantuan keuangan dari pemerintah daerah sendiri diakui mengalami penyesuaian atau pengurangan pada tahun ini.
Melalui forum musyawarah tersebut, PMI Malinau berharap mendapatkan formulasi dan terobosan baru untuk menunjang aktivitas kemanusiaan ke depan.
(*)
Penulis : Mohammad Supri