TRIBUNKALTARA.COM, BULUNGAN – Robohnya atap Pasar Dayak di Pasar Induk Tanjung Selor yang berlokasi di Jalan Sengkawit akibat angin kencang dan hujan lebat tak hanya menghentikan aktivitas perdagangan, tetapi juga menyebabkan kerugian bagi sejumlah pedagang.
Berdasarkan pantauan TribunKaltara.com di lapangan, sisa-sisa reruntuhan atap berbahan seng tersebut sudah dievakuasi oleh petugas terkait.
Sejumlah pedagang juga turut menghentikan aktivitas berjualan diarea tersebut.
Tampak beberapa pedagang mulai bersih-bersih dan menyimpun barang dagangannya. Ada yang ditutup menggunakan terpal ada pula yang dipindah ke tempat lainnya.
Baca juga: Atap Pasar Dayak di Pasar Induk Tanjung Selor Roboh Diterjang Angin Kencang, Tidak Ada Korban Jiwa
Pada umumnya para pedagang di Pasar Dayak ini biasa menjual barang-barang hasil bumi seperti sayur mayur, beras, kacang-kacangan,rempah hingga buah-buahan.
Diantaranya ada seorang pedagang yang duduk berteduh dibawah payung besar berwarna pelangi sembari merapikan terpal berwarna biru untuk memastikan barang miliknya tertutup rapat.
Saat dikonfirmasi, Meli seorang pedagang palawija (beras,jagung dan kacang-kacangan) mengaku terkejut saat tiba di pasar sekitar pukul 05.30 Wita untuk membuka lapak.
Setibanya di lokasi, ia mendapati atap bangunan telah roboh dan bergeser hingga menutupi sebagian area jalan pasar.
"Saya datang mau jualan sekitar jam setengah enam pagi. Pas lihat, atapnya sudah pindah ke jalan sini, seperti terangkat begitu," ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Menurut Meli, para pedagang yang berada di lokasi sempat panik melihat kondisi pasar.
Baca juga: Saat Terjadi Angin Kencang Atap Seng Politeknik Kaltara Terbang, Perkuliahan Sementara Diliburkan
Meski para pedagang sayur masih bisa berpindah tempat untuk berjualan, namun dirinya yang menjual beras dan jagung kesulitan memindahkan barang dagangan karena jumlahnya cukup banyak.
"Kalau pedagang sayur masih bisa pindah. Saya kan jual beras sama jagung, barangnya banyak, jadi susah dipindahkan," katanya.
Akibat kejadian tersebut, sebagian besar jagung dan beras dagangannya terkena hujan hingga basah. Kondisi itu membuat kualitas barang menurun dan berpotensi tidak lagi layak dijual.
Meli memperkirakan total kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp10 juta.
"Ruginya sampai sekitar Rp10 jutaan. Jagung saya sebagian besar basah karena kena hujan," ucapnya.
Ia juga mengaku telah meminta bantuan kepada pengelola pasar untuk memindahkan barang dagangannya ke lokasi yang lebih aman. Namun hingga saat ini belum dilakukan dan barang-barang tersebut masih berada di lokasi karena dirinya tidak memiliki tenaga untuk mengangkutnya.
"Saya sudah sampaikan, bagaimana barang saya ini bisa dipindahkan. Katanya nanti dibantu petugas pasar untuk mengangkatnya," jelasnya.
Meli yang bertempat tinggal di Jalan Skip Tanjung Selor Bulungan mengaku telah berjualan di kawasan Pasar Induk sejak 2018, setelah sebelumnya berdagang di lokasi pasar lama sejak 2010.
Sehingga ini menjadi sumber mata pencahariannya. Ia berharap pemerintah segera melakukan penanganan agar pedagang dapat kembali berjualan.
Sebab, menurutnya, barang dagangan yang dijual merupakan hasil kulakan sehingga harus segera dipasarkan.
"Saya bingung harus jualan di mana. Barang ini harus cepat terjual karena kami ambil dari pemasok, bukan hasil panen sendiri," tandasnya.
(*)
Penulis : Desi Kartika Ayu