Soliditas Pertahanan Spanyol, Fondasi Menuju Gelar Juara Piala Dunia 2026
Drajat Sugiri July 07, 2026 07:30 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Tidak ada tim yang mencatatkan sejarah enam pertandingan Piala Dunia berturut-turut tanpa kebobolan selain Spanyol. Spanyol memastikan rekor tersebut setelah menyingkirkan Portugal 1-0 untuk melaju ke babak perempat final Piala Dunia 2026, Selasa (7/7).

Gol Mikel Merino pada masa injury time memang memastikan kemenangan, tetapi pencapaian terbesar La Furia Roja justru berada di lini pertahanan.

Spanyol melewati rekor Italia (1990) dan Swiss (2006-2010) yang sebelumnya sama-sama mencatat lima laga Piala Dunia tanpa kebobolan.

Kini mereka telah mencatat enam clean sheet beruntun atau lebih dari 609 menit tanpa kebobolan.

Catatan tersebut bukanlah kebetulan. Di balik rekor itu, Spanyol memiliki fondasi pertahanan yang dibangun dari perpaduan sistem permainan, kualitas individu, hingga kerja kolektif seluruh tim.

Di balik rekor tersebut, kunci keberhasilan Spanyol terletak pada organisasi pertahanan yang tampil nyaris tanpa cela sepanjang turnamen.

Evolusi Tembok Spanyol

Flashback ke Piala Dunia 2010 silam saat Spanyol keluar sebagai juara dengan hanya kebobolan dua gol di akhir turnamen karena mengalahkan Belanda 1-0.

Spanyol ketika itu punya duet Carles Puyol dengan Gerard Pique, sementara saat ini dihuni oleh dua pemain beda generasi, Pau Cubarsi yang baru berusia 19 tahun dengan Aymeric Laporte dengan usia 32 tahun.

Pasangan di atas memiliki karakter dan gaya bermain yang berbeda dengan cara mereka menetralisir bahaya, penempatan posisi, pembagian peran, hingga metode distribusi bola.

Pique-Puyol lebih mengandalkan dominasi penguasaan bola dengan khas-nya Spanyol 'tiki-taka yang dikombinasikan dengan duel fisik tradisional.

Sedangkan Cubarsi-Laporte bermain dalam skema modern yang lebih vertikal, mengandalkan umpan progresif yang akurat, serta perangkap offside yang dinamis.

Di era Vincente del Bosque, Spanyol adalah tim yang hobinya mendominasi penguasaan bola, lebih dari 50 hingga 60 persen dalam pertandingan.

Hal itu membuat lini pertahanan mereka jarang terekspose, dan ketika mendapat serangan lawan, Puyol, Pique dan rekannya mengandalkan kedisiplinan posisi zonal statis di depan kotak penalti.

Beda halnya di era Luis de la Fuente yang menerapkan high-defensive line yang sangat ekstrem, dan taktik jebakan offside yang kompak.

Para pemain dituntut memiliki kecepatan pulis posisi yang tinggi karena meninggalkan ruang besar di area pertahanan.

Peran yang Saling Melengkapi

Satu lagi dalam hal peran, Puyol adalah pemain dengan tipekal petarung, unggul dalam duel fisik satu lawan satu. Sementara Pique lebih membaca ruang, memotong bola, dan menjadi pelapis bagi Puyol.

Di era saat ini, Cubarsi lebih bertindak sebagai arsitek serangan di belakang dengan cara yang elegan, dia jarang melakukan pelanggaran kasar, dan mengandalkan kecerdasan membaca arah bola.

Sebaliknya, Laporte menjadi sosok senior yang dominan secara fisik dan sangat kukuh ketika bertarung di udara, dan menutup celah saat bek sayap mereka membantu serangan.

Pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague mengungkapkan bahwa Cubarsi dan Laporte adalah kombinasi yang cocok dan seimbang. 

Perbedaan karakter itulah yang membuat duet tersebut dinilai saling melengkapi.

"Kemitraan antara Laporte dan Cubarsi sangat cocok dengan gaya permainan Spanyol; mengoper bola, melakukan penetrasi, dan bertahan dengan banyak ruang di belakang," ucap Balague kepada BBC.

Namun, pertahanan Spanyol tidak hanya dibangun oleh empat pemain di lini belakang. Di bawah mistar, Unai Simon menjadi lapisan terakhir yang sama sulit ditembus.

Unai Simon, Benteng Terakhir

Dia adalah satu di antara pahlawan Spanyol sejauh ini melangkah ke babak perempat final Piala Dunia 2026.

Statistiknya pun mengesankan. Dari enam tembakan tepat sasaran yang mengarah ke gawang Spanyol, Unai Simon menggagalkan seluruhnya.

Persentase itu adalah satu-satunya yang dilakukan oleh penjaga gawang di Piala Dunia 2026 dari para kiper yang setidaknya bermain selama 500 menit di satu Piala Dunia.

Kiper klub Athletic Bilbao tersebut telah mencetak sejarah tanpa kebobolan gol menjadi 609 menit untuk menghentikan laju Cristiano Ronaldo cs di Dallas.

Catatan tersebut telah melampaui rekor Walter Zenga dengan 517 menit berturut-turut tanpa kebobolan untuk Italia, serta rekor rekan senegaranya, Iker Casilan dengan 476 menit.

Pelengkap Pertahanan

Kekuatan bertahan Spanyol juga tidak berhenti di lini belakang. Kontribusi dua bek sayap serta Rodri membuat sistem pertahanan mereka bekerja secara kolektif.

Formasi empat bek tersebut disempurnakan oleh Rodri, peraih Ballon d'Or tahun 2024 yang seperti mercusuar dalam tim asuhan de la Fuente.

"Spanyol bertahan dengan jumlah pemain yang banyak dan secara kolektif, mereka banyak melakukan pressing ke belakang. Mereka secara individu menyelesaikan masalah," lanjut Balague.

"Hal ini juga terbantu karena Rodri sedang mencapai performa terbaiknya dan dia telah memainkan dua pertandingan yang luar biasa. Dia adalah mercusuar tim," tegasnya.

Fondasi Gelar?

Perjalanan Spanyol di Piala Dunia 2026 masih menyisakan tiga tangga lagi untuk menyabet gelar juara.

Dengan fondasi pertahanan seperti itu, Spanyol kini memiliki modal besar untuk kembali mengejar gelar juara dunia.

Rekor pertahanan terbaik di Piala Dunia dipegang oleh Prancis (1998), Italia (2006), dan Spanyol itu sendiri, yang masing-masing mengangkat trofi juara setelah hanya kebobolan dua gol sepanjang turnamen.

"Ini adalah hasil dan buah dari kerja sama tim, soliditas pertahanan yang luar biasa," ucap De La Fuente usai kemenangan atas Portugal, dikutip dari BBC.

"Ada soliditas, usaha, pengorbanan, dan semua orang saling mendukung, Setiap ini sepak bola hadir dengan sangat jelas, tetapi yang indah adalah sikap yang ditunjukkan para pemain ini, mereka berkomitmen pada tujuan tersebut," terangnya.

Di sisi lain, Luis de la Fuente, lebih dari nakhoda bagi timnas Spanyol di Piala Dunia 2026. Pelatih berusia 64 tahun ini juga berperan sebagai "Shield" alias perisai bagi pemainnya agar terhindar dari tekanan media.

Hal itu disampaikan Football Enthusiast, Gigih, dalam podcast Super Taktik berjudul "Prediksi Grup G-L Piala Dunia 2026, Grupnya Para Calon Juara" di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

"De La Fuente ini terkenal (sebagai pelatih -red) yang mementingkan ruang ganti. Ini kan tugas dari De La Fuente untuk memastikan nama-nama seperti Lamine Yamal dan Nico Wiliams bisa bermain dengan Rodri maupun Fabian Ruiz yang lebih senior," papar Gigih menganalisis.

"Kekeluargaan di era De La Fuente merupakan salah satu yang terbaik setelah Vicente del Bosque. Jadi pemain Spanyol itu mendapatkan tekanan dari media yang luar biasa, De La Fuente tugasnya memastikan kekeluargaan di tim ketika mendapatkan tekanan dari media, tidak terpengaruh banyak. Kuncinya ada di situ," terang pria yang juga mengidolakan klub asal Inggris, Wigan Athletic. 

Jika mampu mempertahankan disiplin dan soliditas seperti yang ditunjukkan sepanjang turnamen, Spanyol bukan hanya berpeluang memperpanjang rekor nirbobol mereka, tetapi juga menyamai jejak tim-tim juara dunia yang membangun kejayaan dari lini pertahanan.

(Tribunnews.com/Sina)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.