... festival ini digerakkan oleh batin komunitas yang tak bisa dibeli, karena persoalan hati dan gairah tidak bisa dihitung dengan duit.

Magelang (ANTARA) - Sudah tidak tampak lagi jalan aspal berlubang di sana-sini menuju Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah di kawasan Gunung Merbabu, sekitar seminggu menjelang Festival Lima Gunung XXV/2026.

Warna aspal gres, tanda pengaspalan sekitar dua kilometer jalan itu terlihat bukan sekadar menambal jalan dusun, tetapi secara menyeluruh badan jalan diaspal. Pelintas dengan sepeda motor dan mobil merasakan nyaman mencapai dusun tuan rumah festival secara swadaya dan mandiri tersebut.

Festival Lima Gunung tahun ini menjadi momen istimewa karena menandai perayaan seperempat abad. Digagas oleh seniman petani dari Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) di Kabupaten Magelang, ajang seni budaya ini hadir dengan latar belakang kuat yang merefleksikan kondisi desa dan gunung, baik dalam hal yang tampak nyata maupun nilai-nilai yang tak kasatmata.

Komunitas tersebut berdiri berkat rintisan Budayawan Magelang, Sutanto Mendut (72), pada 1997, setelah ia menjalani kehidupan seni selama beberapa tahun di sejumlah kota, menjelajahi berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara, serta berkarya sebagai komponis, seniman, dan penulis.

Dalam gairah ruralisasi, ia menggerakkan aktivitas seni budaya dengan menghimpun basis-basis dusun di kawasan Lima Gunung. Ia menemukan bahwa kekuatan khas petani gunung tidak terlepas dari agenda desa berupa ritual tradisi yang senantiasa berbalut kesenian dan idiom lokal.

Perspektif ini juga dikuatkan oleh Joko Aswoyo, pengajar ISI Surakarta. Dalam buku Sumpah Tanah (2019), yang merupakan hasil penelitian doktoralnya tentang komunitas ini, Aswoyo menggambarkan Sutanto Mendut sebagai sosok yang merajut jaring-jaring Komunitas Lima Gunung

Rajutan komunitas itu akhirnya melahirkan Festival Lima Gunung. Ajang perdana digelar pada 2002 di Dusun Warangan. Kini, pada 2026 yang menandai perayaan ke-25, festival kembali berlangsung di lokasi awal tersebut. Dengan demikian, Dusun Warangan telah empat kali menjadi tuan rumah sepanjang sejarah festival.

Pada tahun-tahun awal, komunitas ini berkolaborasi dengan pengelola hotel bertarif mahal di kawasan Candi Borobudur. Namun, titik balik terjadi pada 2010 (FLG IX).

Saat itu, para tokoh komunitas menandatangani pernyataan di atas tanah Studio Mendut, Kelurahan Mendut, Kecamatan Mungkid, sebagai komitmen menyelenggarakan festival secara mandiri tanpa sponsor, baik dari pemerintah maupun swasta.

Keputusan ini diambil di tengah situasi genting ketika Gunung Merapi memasuki fase pra-erupsi hebat, yang diikuti oleh intensitas hujan lahar tinggi hingga 2011.

Itulah pertama kali komunitas itu melakukan "Sumpah Tanah" untuk penyelenggaraan Festival Lima Gunung berpijak kekuatan dusun dan gunung basis mereka.

Peristiwa yang juga dihadiri Joko Aswoyo tersebut, menginspirasi karya desertasinya menjadi buku "Sumpah Tanah". Hingga tahun ini, festival diselenggarakan secara mandiri, tanpa sponsor dan donatur. Komunitas menyebut Festival Lima Gunung tanpa berembuk duit.

Terkait sumber dana pengaspalan jalan menuju Warangan yang tampak masih segar, tidak ada keterangan resmi. Publik hanya dapat berasumsi bahwa hal tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah dalam pembangunan infrastruktur.

Komunitas Lima Gunung pun menyatakan tidak mengetahui detail proyek tersebut. Yang pasti, para pengunjung festival kini menikmati kemudahan akses karena jalan utama ruas Dusun Kajangkoso-Warangan telah terasa mulus.

Ketua Panitia (lokal) Festival Lima Gunung XXV/2026 Teguh Suharianto hanya mendapatkan informasi bahwa pengaspalan jalan tersebut hasil musyawarah perencanaan pembangunan di kecamatan setempat.

Dalam kesempatan lain, Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memfasilitasi ruang ekspresi, inovasi, dan kreativitas seni warga.

Menurutnya, hal ini penting untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan serta melahirkan peradaban yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Ihwal lainnya, seperti penataan panggung berhari-hari, pembuatan instalasi seni, pengadaan material, penyediaan rumah transit bagi tamu dan pementas, konsumsi rapat warga, transportasi rombongan, logistik, kurasi, komunikasi, hingga kesekretariatan, menjadi bukti nyata bahwa festival ini diselenggarakan secara swadaya.

Daftar panjang kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan Festival Lima Gunung tidak bergantung pada suntikan dana besar, melainkan pada gotong royong dan kemandirian komunitas.

Dengan gampang barangkali bisa diterka, kalau terjadi perbedaan kehendak atau pemahaman dalam proses penyelenggaraan festival, akar permasalahannya lebih bersifat substansial. Hal itu berkaitan erat dengan unggah-ungguh, sopan santun, dan tenggang rasa, bukan karena duit. "Saru," kata orang-orang dalam kultur Jawa.

Komunitas ini tidak menolak adanya ketidakpahaman atau perbedaan pandangan. Sebaliknya, hal itu justru menjadi titik pijak ketangguhan para tokoh dan pegiat untuk bersikap bijak serta menemukan siasat terbaik, yang pada akhirnya bermuara pada kearifan lokal.

Bagi Ketua Komunitas Lima Gunung Sujono, kesediaan untuk menerima perbedaan dan ketidakpahaman merupakan parameter keikhlasan. Hal ini juga menjadi wujud komitmen semangat tanpa pamrih dalam menggarap setiap penyelenggaraan Festival Lima Gunung.

Sutanto Mendut memandang, umur relatif panjang gairah berfestival berkelanjutan, termasuk saat pandemi COVID-19, sebagai hasil dari kedekatan emosional atau "kejodohan" antaranggota komunitas. Ia menekankan bahwa ikatan batin tersebut tidak bisa dinilai ringan atau sekadar dengan uang. Fakta ini setidaknya masih terlihat kuat hingga festival tahun ini.

Untuk tahun ini, panitia memutuskan 85 grup kesenian dengan total 1.274 personel mendapat tiket menuju panggung Festival Lima Gunung XXV. Para seniman tersebut berasal dari jejaring internal Komunitas Lima Gunung, desa-desa tetangga Warangan, hingga berbagai kota di Indonesia. Rangkaian pementasan mereka telah dijadwalkan secara rinci pada 10–12 Juli 2026.

Para pementas tersebut merupakan hasil kurasi ketat yang dipimpin Nabila Rivani bersama sejumlah pegiat komunitas. Seleksi ini dilakukan setelah para calon peserta mengajukan permohonan dan memenuhi persyaratan melalui tautan (link) yang telah disebarluaskan beberapa waktu lalu.

Ragam pertunjukan yang ditampilkan mencakup seni tradisional, modern, kolaborasi, hingga instalasi seni. Bentuknya sangat beragam, mulai dari tari, musik, teater, pameran seni rupa, pembacaan dan musikalisasi puisi, kirab budaya, hingga pidato kebudayaan.

Puncak apresiasi tahun ini ditandai dengan pemberian "Lima Gunung Award" kepada seorang sinden, penari, dan sekaligus pemain gamelan dari Pakis bernama Sukitri atau Mbah Kitri (81).

Meskipun telah konsisten menyelenggarakan festival selama 25 tahun tanpa jeda, komunitas ini enggan mengklaim Festival Lima Gunung sebagai sebuah "tradisi". Bagi mereka, label tersebut mungkin terasa membebani, seolah-olah menjadi kewajiban kaku yang harus dijalani dalam kurun waktu tertentu.

Sutanto Mendut, yang dikenal publik sebagai "Presiden Lima Gunung", memastikan bahwa festival ini digerakkan oleh batin komunitas yang tak bisa dibeli, karena persoalan hati dan gairah tidak bisa dihitung dengan duit.

Hal itu tercermin dari tema tahun ini, "Makin Goblok Bareng". Frasa provokatif tersebut sebenarnya merupakan manifestasi sikap tawaduk; sebuah pengakuan bahwa manusia harus terus menerus belajar dan menempa diri. Komunitas berharap semangat kerendahan hati dan keinginan untuk terus belajar ini dapat menular ke seluruh lapisan masyarakat.