Kamboja Kaji Lagi Tur Malam Angkor, Konservasi Jadi Pertimbangan
GH News July 08, 2026 03:09 PM
Jakarta -

Pemerintah Kamboja mengkaji ulang rencana membuka wisata malam di kawasan Taman Arkeologi Angkor. Pelaku industri mengingatkan agar pelestarian candi tetap menjadi perhatian utama, bukan semata-mata jumlah kunjungan.

Usulan pembukaan wisata malam itu diharapkan bisa menjadi daya tarik baru bagi turis. Untuk mendukung rencana tersebut, Pemerintah Kamboja membentuk kelompok kerja lintas kementerian pada 16 Juni lalu.

Tim yang dipimpin Menteri Pariwisata Kamboja, Huot Hak, itu bertugas mengoordinasikan pengembangan wisata berbasis film dan kunjungan malam ke kompleks Angkor sebagai bagian dari upaya menciptakan produk wisata baru.

Melansir , Rabu (8/7/2026) wacana membuka wisata Angkor pada malam hari sebenarnya bukan hal baru, Pemerintah Kamboja sebelumnya pernah mengkajinya dan sempat melakukan uji coba pada 2009. Tetapi, program itu akhirnya dihentikan karena muncul kekhawatiran terkait keselamatan wisatawan serta dampaknya terhadap kelestarian candi yang telah berdiri lebih dari seribu tahun.

Meski begitu, pelaku pariwisata menilai peluang tersebut masih layak dikembangkan. Tur malam dinilai dapat memperkaya pilihan atraksi wisata di Kamboja sekaligus mendorong wisatawan menghabiskan waktu lebih lama di Siem Reap, terutama saat musim sepi kunjungan pada musim hujan.

Namun, mereka mengingatkan agar pelaksanaannya tidak justru mengancam kondisi bangunan bersejarah. Pemandu wisata berbahasa Prancis, You Khemara, mengatakan tur malam berpotensi menjadi pengalaman baru yang menarik bagi wisatawan sekaligus memberi dampak positif bagi perekonomian.

Meski demikian, ia tidak setuju jika program itu digelar sepanjang tahun. "Jika ini hanya diterapkan pada musim sepi wisatawan, manfaatnya akan terasa. Tetapi jika berlangsung sepanjang tahun, termasuk saat musim ramai, saya rasa itu bukan ide yang baik," kata Khemara.

Menurut Khemara, penggunaan lampu berkekuatan tinggi dapat menimbulkan panas dan menarik serangga ke area candi. Kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi struktur batu bangunan kuno.

"Pada musim panas, cahaya lampu yang kuat di malam hari bisa menarik banyak serangga ke struktur batu candi. Kombinasi panas pada siang hari dan aktivitas serangga pada malam hari tidak baik bagi monumen kuno ini," ujar dia.

Mantan pemandu wisata yang kini menjabat Presiden NGO2 Bamboo Shoot Foundation, Sea Sophal, juga menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, wisata malam akan memberi manfaat lebih besar apabila melibatkan masyarakat di sekitar kawasan Angkor, bukan sekadar membuka akses berkunjung ke candi setelah matahari terbenam.

"Proyek ini bisa meningkatkan pendapatan pariwisata secara signifikan jika masyarakat lokal diberi kesempatan untuk terlibat. Selain mengunjungi candi, wisatawan dapat menikmati cerita sejarah dari warga, pertunjukan budaya berskala kecil, pasar kerajinan tangan, hingga kuliner tradisional Kamboja di desa-desa sekitar," ujar Sophal.

Ia menilai konsep tersebut juga dapat membuat wisatawan memperpanjang masa tinggal mereka di Siem Reap, yang selama ini lebih dikenal dengan Pub Street dan kawasan Old Market sebagai tujuan wisata malam.

Di sisi lain, Sophal meminta Pemerintah Kamboja tidak terburu-buru merealisasikan rencana itu. Ia menilai dampak pencahayaan buatan terhadap struktur batu pasir candi harus dikaji secara ilmiah dengan melibatkan para ahli konservasi dan teknis.

Selain itu, aspek keamanan pengunjung, pengendalian kebisingan, kebersihan, hingga pengaturan jumlah wisatawan juga perlu dipersiapkan dengan matang.

"Secara keseluruhan saya optimistis, jika kemegahan candi kuno dipadukan dengan tradisi masyarakat setempat, Kamboja dapat menghadirkan produk wisata baru yang tidak hanya menarik wisatawan. Tetapi juga benar-benar meningkatkan kesejahteraan warga," katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Angkor Enterprise, Ly Se, mengatakan kelompok kerja yang baru dibentuk masih melakukan kajian awal. Sehingga belum ada keputusan terkait pembukaan tur malam.

Ia memperkirakan Pemerintah Kamboja tidak akan langsung membuka seluruh kompleks candi, melainkan memilih satu candi sebagai proyek percontohan untuk mengukur minat wisatawan dan kelayakan program. Menurutnya, seluruh aspek, mulai dari keamanan, keselamatan pengunjung, konservasi, hingga permintaan pasar, harus dievaluasi secara menyeluruh sebelum kebijakan tersebut diterapkan.

Muhammad Lugas Pribady
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.