TRIBUNJOGJA.COM – Bilik photobox semakin mudah ditemui di tempat-tempat populer di Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai dari di mal modern, kawasan kampus, hingga tempat berkumpul anak muda.
Tak sedikit pengunjung yang rela mengantre demi mendapatkan selembar foto cetak dengan frame menarik.
Hasilnya pun tak hanya disimpan sebagai kenang-kenangan, tetapi juga menghiasi unggahan digital di Instagram dan TikTok.
Sebelum membahas fenomenanya, mari kita baca terlebih dahulu transformasi photobox dari masa ke masa.
Jauh sebelum hadir dalam berbagai konsep menarik seperti hari ini, photobox sudah muncul sejak satu abad yang lalu.
Mesin foto otomatis pertama bernama photomaton diperkenalkan pada tahun 1925 oleh seorang penemu bernama Anatol Josepho.
Mesin temuannya menjadi cara praktis bagi masyarakat untuk mencetak foto tanpa harus datang ke studio.
Seiring berkembangnya zaman, popularitas photobox sempat naik daun, lalu meredup karena hadirnya kamera digital dan kamera ponsel.
Namun beberapa tahun terakhir, industri photobox kembali bangkit dengan wajah baru.
Pemilik mulai menghadirkan berbagai output, misalnya polaroid, photostrip, hingga yang baru-baru ini dalam bentuk koran.
Konsep photobox koran tentunya menawarkan pengalaman yang berbeda.
Orang yang berfoto seolah menjadi tokoh utama dalam selembar halaman surat kabar, lengkap dengan judul dan tata letak khas media cetak.
Setelah berkembang di kota lain, tren tersebut kemudian masuk ke Yogyakarta.
Sebagai kota pelajar dan destinasi wisata, Jogja memiliki banyak anak muda yang gemar mencoba pengalaman baru sekaligus berlomba-lomba mencari hasil foto yang menarik.
Tak heran jika photobox koran kini hadir di berbagai tempat populer, seperti di daerah sekitar Tugu, Malioboro, dan Prawirotaman.
Dibanderol dengan harga yang ramah di kantong, photobox koran menawarkan beberapa keunggulan, yaitu:
1. Hasil cetak beresolusi tinggi yang instan
Tidak seperti foto dengan fotografer profesional, hasil foto dengan mesin photobox akan tercetak dalam hitungan menit sejak foto diambil.
Tak hanya membawa hasil cetak, pengunjung juga dapat mengunduh semua file digital dari satu sesi photobox.
2. Pengalaman yang lebih seru
Momen berdiri di dalam bilik foto, berpose, melihat hitungan mundur, serta menunggu hasil cetak bersama orang tersayang merupakan bagian seru dari photobox.
Hal-hal di atas membuat pengalaman berfoto di bilik photobox berbeda dengan foto dari kamera ponsel pribadi.
3. Desain frame yang beragam
Hadirnya berbagai macam frame menawarkan pengunjung untuk memilih sesuai momen, yang juga membedakannya dari foto memakai kamera ponsel.
Frame-frame menarik ini menambah estetika foto ketika diunggah ke media sosial.
4. Latar foto yang menarik
Tidak seperti bilik photobox photostrip yang biasanya berada di dalam gedung, photobox koran lebih umum ditemukan di pinggir jalan.
Hal ini bertujuan untuk menampilkan latar foto yang lebih hidup dengan spot populer dan orang berlalu-lalang.
Di tengah mudahnya mengambil foto menggunakan ponsel, kehadiran tren baru photobox koran membuktikan bahwa foto cetak masih memiliki tempat di hati banyak orang.
Bukan sekadar untuk mengabadikan momen, tetapi juga untuk menghadirkan pengalaman yang lebih berkesan melalui selembar "koran" yang bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
Jika Tribunners hendak berwisata di Jogja, jangan lupa masukkan photobox koran di rencana perjalanannya, ya!
(MG Hasna Aulia Syafitri)